Legend of Awakening Ep 5

Legend of Awakening

Episode 5

Xi Fan tahu kalau rumput liar Mo itu merupakan tanaman obat langka yang hanya tumbuh seratus tahun sekali dan berharga ribuan tael. Xi Fan menghubungkan rumput liar Mo dan nama Mo Lin, dia tersadar kalau Mo Lin adalah anggota keluarga Mo yang terkenal dengan kemampuan menyembuhkan. Xi Fan meminta agar Guru You Dao memaafkan Mo Lin dan memperbolehkan tinggal untuk menyembuhkan Lu Ping. Guru You Dao setuju, dengan syarat mereka harus menjaga perguruan dengan baik, karena dia akan pergi ke Negara bagian Chan untuk meminjam Menara Latihan Bela Diri.

Mo Lin yang terlunta-lunta di kota mencoba membujuk anak kecil untuk memberikan roti yang dia makan ditukar dengan peralatan yang ada di kantongnya. Anak kecil tersebut ketakutan dan lari. Xi Fan datang mengajak makan di restoran. Xi Fan bertanya apakah Mo Lin ada hubungan dengan keluarga Mo. Kemampuan keluarga Mo sudah sangat terkenal, untuk menghindari politik keluarga Mo mengundurkan diri ke Lembah Suka Cita. Pemimpin Lembah Suka Cita, Mo Bu Liu, mempunyai putra seumuran Mo Lin. Apa tuan Bu Liu tahu kalau anaknya melarikan diri?

Mo Lin tidak menyetujui sikap ayahnya yang menjauh dari dunia persilatan. Ia ingin menjadi pembunuh bayaran no satu di dunia. Xi Fan mengatakan kalau dia tahu Mo Lin bersifat satria. Karena itu, Xi Fan minta Mo Lin ikut dengannya ke Zhaifeng dan mengobati Lu Ping. Mo Lin menolak. Su Tang membuka pintu restoran dan memukul KO Mo Lin. Mo Lin menyadari tenaga dalam Kekuatan Su Tang nyaris mendekati level master menyetujui mengobati Lu Ping, dengan syarat Su Tang mau menjadi muridnya. Dengan begitu, mereka akan jadi tim pembunuh bayaran yang tidak terkalahkan. Xi Fan dan Su Tang menolak dan meninggalkan Mo Lin. Mo Lin tidak terima ditinggal begitu saja dan mengejar mereka.

Guru You Dao sudah sampai di akademi Tian Zhao dan ditolak permintaannya untuk meminjam menara latihan bela diri. Menurut guru di akademi Tian Zhao permintaan guru You Dao tidak masuk akal. Kenapa akademi Tian Zhao musti berbagi? Kalau murid Tian Zhao menang, maka nama akademi pun akan terangkat. Guru You Dao akan diusir keluar, tapi dilarang oleh Tian Qi. Tian Qi meminta gurunya menyetujui peminjaman menara untuk murid Zhaifeng, agar murid Tian Zhao dan Zhaifeng bisa saling mengajari satu sama lain. Guru akademi Tian Zhao tidak bisa berkata lain, kecuali menyetujuinya.

Lu Ping diikat di kursi agar mau dirawat oleh Mo Lin. Su Tang pun menyetujui syarat Mo Lin, yang penting Lu Ping bisa ikut kompetisi. Mo Lin memeriksa nadi Lu Ping. Dia terperanjat saat mengetahui Lu Ping memiliki aliran darah yang abnormal dan memiliki enam tenaga dalam. Tapi, seseorang memblokir aliran energi agar Lu Ping tidak bisa menggunakan keenam tenaga dalam itu.

Mo Lin menusukkan jarum akupuntur di kepala Lu Ping. Setiap kali ia memutar, tenaga dalam bersinar di mata Lu Ping. Aliran energi akan terbuka sedikit setiap kali Lu Ping berada di ambang kematian. Itu sebab Lu Ping menenggelamkan diri agar mendapat aliran energi. Satu-satunya cara adalah untuk menaikkan tingkat rasa sakit agar Lu Ping bisa mengeluarkan aliran energi. Su Tang berteriak kalau itu sama saja dengan menyiksa dan membunuh Lu Ping. Lu Ping tidak keberatan, yang penting dia bisa menang kompetisi. (okay, hun, apa kamu punya Sembilan nyawa seperti kucing?)

Pengobatan pertama: tidur di atas paku. Su Tang disuruh Xi Fan keluar agar tidak usah menyaksikan penderitaan Lu Ping. Xi Fan menanyakan siapa mereka sebenarnya dan apa saja yang telah mereka lalui. Kenapa jalan mereka sungguh berat? Su Tang tidak mau menjawab. Xi Fan pun mengatakan selama mereka masih bergabung dengan Zhaifeng, Xi Fan akan melakukan apa pun untuk melindungi mereka. Su Tang berterima kasih, dia percaya kalau kondisinya berbeda, Xi Fan dan Lu Ping pastinya akan menjadi teman baik.

Wei Ming melaporkan kalau Si Tu Luo menghilang. Gubernur Wei percaya kalau itu artinya Si Tu Luo sudah meninggal, dan yang punya kemampuan membunuh Si Tu Luo hanyalah si Dewa Bandit. Qin Sang yang pergi dari kota Chen Qiao setelah kematian Si Tu Xing juga mencurigakan. Pastinya ada yang tidak beres. Wei Ming disuruh melapor ke Shanhai. Tian Qi masuk dan minta ayahnya memberikan beberapa prajurit untuk menyabot tim Zhaifeng saat ada di menara. Ia ingin balas dendam pada kedua murid Zhaifeng yang mempermalukannya di depan Qin Sang. Ayahnya setuju dan menyuruh Wei Ming mengaturnya, karena dia curiga Dewa Bandit bersembunyi di Zhaifeng.

Qin Sang dan Zi Yang yang ternyata masih berada di kota Chen Qiao menyusup dan mencuri seragam Tian Zhao. Qin Sang tahu kalau murid-murid Zhaifeng akan mencoba berlatih di menara, dan ke mana pun Lu Ping pergi, pasti ada anggota Shanhai di dekatnya. Qin Sang akan mempergunakan kesempatan ini untuk menangkap Lu Ping atau salah satu anggota Shanhai.

Guru You Dao mengumumkan kalau dia berhasil meminjam menara. Untuk menghemat biaya, dia tidak akan ikut menyertai murid-muridnya. Lu Ping bangun dan minta disertakan dalam rombongan, mereka pun berangkat dengan restu dari guru You Dao.

Setibanya mereka di perguruan Tian Zhao, mereka diterima guru dan Tian Qi. Guru menyilahkan mereka tinggal di annex. Saat mereka tiba di annex, mereka kaget karena kondisinya seperti sudah tidak pernah ditinggali, kotor dan lusuh. Xi Fan membagi kelompok untuk berbersih dan satu kelompok lagi untuk melihat arena latihan. Saat mereka berjalan, mereka bertemu dengan Tian Qi dan kelompoknya. Mereka menghina murid-murid Zhaifeng. Xi Fan mengajak Mo Lin untuk merawat Lu Ping sebelum mereka mencoba menara pelatihan. Setelah sesi tusuk jarum, Mo Lin mengatakan kalau Lu Ping hanya punya energi sepanjang satu dupa terbakar.

Su Tang mengusir Mo Lin tidur di luar, karena dia bukan murid Zhaifeng. Mo Lin yang kedinginan tetap bertahan karena dia benar-benar ingin Su Tang jadi muridnya. Lu Ping melemparkan selimut dan mengajak Mo Lin masuk kamarnya, ada yang ingin dia bicarakan tentang Su Tang.

Hari ini murid Tian Zhao dan murid Zhaifeng mengikuti ujian Negara bagian Chan di menara pelatihan. Menara terdiri dari tujuh lantai. Lantai teratas menyimpan batu Tian Ying. Siapa yang dapat mengambil batu Tian Ying dan keluar dari menara adalah pemenang dan lolos dari ujian Negara bagian Chan. Pemenang berhak mengikuti kompetisi pertarungan di ibukota. Murid akademi Tian Zhao masuk terlebih dahulu, murid Zhaifeng masuk belakangan.

Saat masuk ke dalam, mereka langsung dihadang oleh Tian Qi cs. Xi Fan menyuruh Lu Ping dan Su Tang naik ke lantai atas dan meneruskan mencari batu Tian Ying. Di luar, guru menyuruh murid-murid Zhaifeng yang tersisa meninggalkan arena. Tinggal Mo Lin yang menyelinap dan berjaga di luar.

Di lantai kedua Lu Ping dan Su Tang dihadapkan pada formasi pintu batu. Diperlukan tenaga dalam Kekuatan untuk melaluinya. Su Tang membuka jalan. Tak disangka seseorang meniupkan bubuk tidur pada mereka, Tian Qi. Tian Qi menyuruh anak buahnya memukuli Lu Ping. Lu Ping dan Su Tang yang berpura-pura pingsan, bangun dan menyerang Tian Qi dengan racun yang disiapkan Mo Lin. Tangan Tian Qi membengkak. Su Tang menahan murid Tian Zhou, agar Lu Ping bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya.

Lantai ketiga adalah lantai perangkap, di mana peserta harus menggunakan tenaga dalam Energi. Tapi, Lu Ping diserang oleh Qin Sang dan Zi Yang. Gerakan mereka memicu pintu perangkap. Lu Ping dan Qin Sang pun terjatuh ke dalam ruang perangkap. Dua sisi ruang perangkap dipenuhi pasak-pasak tajam. Kedua dinding itu mulai bergerak merapat ke arah Lu Ping dan Qin Sang.

Bersambung

#LegendofAwakening #ArthurChen #RecapDrama

Legend of Awakening Ep 4

Legend of Awakening

Episode 4

Setelah yakin tidak ada yang bersembunyi di bawah tempat tidur, Si Tu Luo berkata pada Su Tang, ‘Aku hanya bercanda, gadis muda, menyenangkan bukan?’ Mereka pun keluar. 

Saat Su Tang membalikkan tempat tidur, Qin Sang telah berhasil melepaskan diri dan menyilangkan pedang Kuinyin ke leher Lu Ping. Su Tang minta Lu Ping dibebaskan karena dia bukan anggota Shanhai dan tidak akan bersusah payah menyelamatkan Qin Sang. Qin Sang tidak percaya. Lu Ping minta Su Tang mendengarkan kata Qin Sang dan dia akan pergi bersama Qin Sang. Saat melewati Su Tang, Lu Ping membisikkan untuk menyelamatkan dia.

Tian Qi menyuruh mengunci Zi Yang agar bisa melaksanakan rencananya. Dia akan berpura-pura mengadakan keributan lalu menyelamatkan Qin Sang. Madam Jin tidak setuju, tapi Tian Qi menjanjikan akan membayar dua kali lipat kalau madam Jin membantu drama ini. Su Tang mendengar semua itu dari balik tirai dan tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Lu Ping.

Lu Ping yang disandera Qin Sang menolak berjalan, karena capai. Qin Sang mengatakan kalau dia bukan orang yang tidak mau mendengarkan orang lain, tetapi kenapa Shanhai selalu berada di sekeliling Lu Ping? Juga, saat kakaknya, Jendral Qi, menyelamatkan Ge Cheng dari cengkraman Shanhai, Ge Cheng hanya seorang diri, tidak ada teman atau keluarga. Jadi, kenapa Lu Ping mengaku-aku kalau dia adalah anggota keluarga Ge Cheng? Su Tang datang membawa Tian Qi dan Zi Yang sebagai alat barter dengan Lu Ping. Zi Yang melarang Qin Sang menyelamatkan dirinya, menangkap Dewa Bandit lebih berharga disbanding nyawanya. Mendengar itu membuat Lu Ping marah dan menasihati Zi Yang untuk tidak menganggap remeh nilai sebuah nyawa. Nyawa setiap orang adalah milik dirinya sendiri, bukan milik orang lain.

Setelah berkata itu, Lu Ping melempar batu ke arah sarang tawon. Tian Qi yang panic diserang tawon, ditendang oleh Lu Ping, membuat Qin Sang berlari berusaha menyelamatkan Tian Qi. Lu Ping memperingati Qin Sang untuk tidak pernah mencarinya lagi, dan pergi sambil membawa dompet milik Qin Sang yang dicurinya.

Mo Lin dan Xi Fan akhirnya sampai juga di restoran Ru Yu. Mo Lin berteriak memanggil Qin Sang. Dari lantai dasar terdengar suara ribut-ribut. Meyangka itu Lu Ping. Mo Lin dan Xi Fan melihat dari balik pagar lantai satu. Yang mereka lihat adalah pasangan Xing – Luo menyandera seluruh isi restoran. Mereka ketahuan saat madam Jin berteriak minta tolong. Saat Mo Lin dan Xi Fan meloncat ke bawah, tanpa sengaja senjata busur Mo Lin terpicu. Anak panah pun terlepas dan tidak sengaja membunuh Si Tu Xing. Si Tu Luo menjadi sangat murka dan melukai Xi Fan, untung prajurit kota Chen Qiao datang dan menyelamatkan mereka semua.

Lu Ping dan Su Tang kembali ke perguruan. Begitu juga Xi Fan yang terluka dan Mo Lin. Lu Ping menemukan cara untuk mencari Ge Cheng, yaitu dengan mengikuti event ‘Kompetisi Pertarungan Tenaga Dalam’. Untuk bisa masuk ke kompetisi, mereka harus mengikuti ujian Negara bagian. Perkataan Su Tang kalau kompetisi kali ini diselenggarakan oleh Jendral Qi, mengingatkan Lu Ping akan perkataan Qin Sang, bahwa Ge Cheng ditunjuk untuk menjadi kepala juri untuk alasan politik. Karenanya, Lu Ping harus lolos dari ujian Negara bagian Chan, bagaimana pun caranya. Su Tang mengangguk.

Tian Qi mengundang Qin Sang untuk tetap tinggal di Negara bagian Chan. Pembunuh dari Shanhai telah mati dan satunya lagi dalam tahanan. Qin Sang bisa tinggal di gubernuran sambil mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi. Qin Sang menolak dan mengatakan kalau kakaknya, Jendral Qi sudah menjemput.

Gubernur Wei khawatir akan dihukum Shanhai karena menyebabkan kematian Si Tu Xing. Dia memerintahkan Wei Ming untuk membebaskan Si Tu Luo, tapi Wei Ming mengatakan kalau sebelum dia menjalankan perintah itu, Si Tu Luo telah melarikan diri. Si Tu Luo melarikan diri untuk membalaskan dendam pada perguruan Zhaifeng. Dia menawan semua anggota perguruan Zhaifeng.

Xi Fan tidak ikut tertawan, karena sedang mencoba mengobati lukanya. Xi Fan teringat kenapa dia tidak bisa mengangkat pedang dan melawan Si Tu Luo. Si Tu Luo lah yang membunuh temannya kala gerombolan Shanhai mengobrak-abrik kotanya. Xi Fan mendengar teriakan dari perguruan Zhaifeng. Mo Lin menghalangi Xi Fan untuk melawan Si Tu Luo, dengan kondisinya, itu sama saja bunuh diri. Xi Fan bersikeras, karena guru You Dao mempercayakan perguruan padanya. Xi Fan pun datang menghadapi Si Tu Luo. Si Tu Luo setuju membebaskan murid-murid Zhaifeng, dengan syarat Xi Fan musti menyeret murid-murid Zhaifeng keluar, dengan menggunakan kekang Sabit Perak. Berapa nyawa yang bisa diselamatkan adalah keputusan Xi Fan.

Selangkah demi selangkah, Xi Fan menyeret temannya keluar, sembari mengenakan kekang Sabit Perak. Mo Lin berusaha membantu dengan menggunakan busurnya. Mo Lin menggunakan antidote untuk membebaskan teman-teman Xi Fan. Tapi keduanya bukan tandingan Si Tu Luo.

Lu Ping yang membeku karena ketakutan akhirnya sadar kalau mimpi buruknya tidak akan berakhir kalau dia tidak menghadapi monster mimpi buruknya. Dia pun mengenakan jubah Dewa Bandit dan melawan Si Tu Luo. Su Tang membantu teman-temannya meninggalkan perguruan. Sementara mereka bertiga menyaksikan Lu Ping melawan Si Tu Luo. Mo Lin disuruh Xi Fan menggunakan Pivot untuk mendeteksi ‘Pisau Api’, senjata rahasia perguruan Zhaifeng. Dengan menggabungkan busur Mo Lin Kekuatan Su Tang, mereka berhasil meledakkan Pisau Api. Ledakan itu menyebabkan topeng Dewa Bandit terlempar, rahasia Lu Ping pun terbongkar. Si Tu Luo mengenali Lu Ping dan berlari untuk memberi tahu penguasa Shanhai. Untung guru Yao Dao sudah kembali dan melempar Si Tu Luo ke dalam danau.

Guru You Dao menyuruh Lu Ping, Su Tang, Xi Fan, dan Su Tang berlutut dan memarahi mereka. Bagaimana mungkin saat dia pergi, perguruan Zhaifeng diobrak-abrik dan mereka membuat masalah dengan gerombolan Shanhai? Xi Fan membela Lu Ping. Guru You Dao minta bicara empat mata dengan Lu Ping. Sebelumnya, dia memberikan obat untuk mengobati luka Xi Fan. Lu Ping memberikan kantong uang yang dicurinya dari Qin Sang untuk mengganti kerugian yang terjadi. Lu Ping berterima kasih untuk semua yang dilakukan guru You Dao. Tetapi, dia telah membawa gerombolan Shanhai ke Zhaifeng, untuk itu Lu Ping memutuskan untuk keluar dari perguruan agar gerombolan tidak mengganggu Zhaifeng lagi. Guru menerima anggur yang diberikan dan akan menyelesaikan masalah ini.

Lu Ping kembali ke danau untuk berlatih mencoba menyimpan tenaga dalam agar dapat dipakai mengikuti ujian daerah Chan. Xi Fan berusaha membantu, tetapi ditolak, bagi Lu Ping, Xi Fan dan perguruan Zhaifeng tidak berhutang apa-apa. Semua dia lakukan karena ingin menang kompetisi. Selesai berlatih Su Tang bertanya kenapa tidak minta bantuan Xi Fan saja? Lu Ping bersikeras kalau dia tidak bermaksud membantu Xi Fan atau perguruan Zhaifeng. Baginya, menyelamatkan Su Tang saja sudah cukup. Su Tang tahu kalau kakaknya berbohong. Tidak mungkin Lu Ping menghabiskan simpanan tenaga yang akan digunakan untuk kompetisi kalau tidak untuk menyelamatkan perguruan. Lu Ping tidak mau memikirkan semua itu, waktu kompetisi hanya tinggal enam hari. Dia akan berusaha sekuat tenaga agar bisa lolos ujian Negara bagian.

Saat Xi Fan menemui Guru Guo untuk menanyakan cara menyembuhkan Lu Ping, Guru Guo memberinya Rumput Liar Mo.

Bersambung

Komentar aku: drama ini punya cara untuk membuat aku tertawa, tapi juga terharu dan sebal. Ha! Raut muka Lu Ping dan Su Tang saat guru Yao Dao bersikeras kalau dia menguasai ilmu silat yang dashyat dan akan melampaui Beidou… Yeah, if you say so

Di episode ini aku suka melihat acting Ancy Deng. Apalagi saat dengan lucunya dia berlari mengejar Lu Ping. Benar-benar terlihat seperti anak kecil yang mengejar kakaknya.

#LegendofAwakening #ArthurChen #RecapDrama

Legend of Awakening Ep 3

Legend of Awakening

Episode 3

Qin Sang menangkap dan menginterogasi si penyusup. Dia mengaku bernama Mo Lin, sang pembunuh bayaran, dan datang karena membaca poster yang disebar Tian Qi. Poster yang sangat menarik, dipasang di seluruh kota, dengan tulisan besar-besar. Mo Lin menghabiskan waktu setengah hari untuk merobek semua poster, untuk mengurangi persaingan. Qin Sang tidak berharap banyak dari Mo Lin yang tidak punya visi Kekuatan, Mo Lin tidak akan mampu menangkap Dewa Bandit. Mo Lin berdalih bahwa meski dia tidak punya kekuatan dan terlihat lusuh, dia adalah pencari orang yang terbaik.

Qin Sang menyuruh Zi Yang menyerahkan Mo Lin ke polisi. Saat Mo Lin mendekati Qin Sang, dia gunakan tenaga dalam Pivot dan menceritakan semua kegiatan yang dilakukan Qin Sang sejak pagi. Mulai dari sikat gigi, makan siang hari, sampai jalan-jalan sore. Mo Lin juga membaui benda yang bukan milik Qin Sang, robekan baju Dewa Bandit, yang disimpan Qin Sang di pinggangya. Qin Sang mengeluarkan secarik robekan kain.

Qin Sang bertanya kalau dia menyewa Mo Lin, keuntunga lain apa yang akan dia dapat?

Mo Lin menjawab nyawa Zi Yang, yang jatuh pingsan ke lantai. Qin Sang kagum dan heran kapan Mo Lin punya waktu untuk meracuni mereka? Mo Lin menjawab seorang pembunuh bayaran harus bersiap sebelum melakukan aksinya. Qin Sang setuju menyewa Mo Lin. Mo Lin memberi obat penawar yang membuat Zi Yang pingsan lagi saat melihat ukurannya.

Di tengah hutan tangan kanan Gubernur Wei, Wei Ming, membawa jasad Si Tu Chong untuk dikenali gubernur Wei. Gubernur Wei bingung, kalau Si Tu Chong dari Shanhai sudah menginggal, kenapa Qin Sang masih mencari anggota Shanhai lainnya? Apa mungkin pimpinan Shanhai mengirimkan mata-mata lain ke Negara bagian Chan? Wei Ming menyanggah karena selama ini gubernur Wei telah menunjukkan kesetiaanya pada Shanhai. Gubernur Wei menyuruh Wei Ming melaporkan insiden ini ke Shanhai agar tidak dihukum, juga untuk memata-matai gerak-gerik Qin Sang.

Di dalam istana Shanhai, Sang Penguasa duduk memainkan sitar, Kepala divisi Air membacakan pesan dari Gub. Wei kalau Si Tu Chong dibunuh dan lencananyadiambil. Kepala Divisi Api, Zhou You Long tidak percaya karena Tu Chong mengusasai tiga tenaga dalam dan tidak ada orang di kota Chen Qiao yang bisa menyaingi. Penguasa Shanhai memukul You Long. You Long berlutut meminta maaf dan akan mengirim pasangan Si Tu Xing dan Si Tu Luo ke kota Chen Qiao untuk menghukum mati si pembunuh.  

Mo Lin sampai di perguruan Zhaifeng, tempat dia mencium bau kuat Dewa Bandit. Perguruan Zhaifeng tutup, membuat Mo Lin curiga dan mencoba berbagai cara untuk menyusup masuk. Saat Mo Lin marah-marah pada Dewa karena dianggap berlaku tak adil, Xi Fan membuka pintu gerbang dan menyilakan Madam Jin keluar. Madam Jin datang karena kesal Guru You Dao tidak menyelamatkannya dan pergi tanpa pesan. Xin Fan punya pesan dari guru kalau punya hubungan itu biayanya mahal. Jadi, tolong bayar semua biaya penyelamatan termasuk komisinya sekaligus. Madam Jin terus memuji-muji guru Yao Dao dan menggoda Xi Fan. Sampai akhirnya Madam Jin pergi tetap dengan pesan agar Xi Fan memuji dirinya di depan guru You Dao dan menyuruh You Dao datang ke restoran Ru Yu miliknya.

Mo Lin mengirim pesan ke Qin Sang. Dia sudah menemukan tempat persembunyian Dewa Bandit dan minta Qin Sang mengirim 20 orang, sisanya akan dia atur. Tian Qi masuk dan menawarkan diri membantu Qin Sang.

Su Tang melarang Lu Ping mencari Qin Sang. Yang mampu menyebarkan poster ke seluruh kota adalah Qin Sang. Lu Ping tidak mau kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya. Bagaimana pun caranya, dengan membujuk atau memaksa, Lu ping akan membuat Qin Sang menunjukkan tempat tinggal Ge Cheng. Xi Fan menghalangi Lu Ping pergi, bagaimana pun caranya, termasuk tidur di kamar Lu Ping kalau perlu. Shi Tou belari masuk perguruan sambil berteriak. Kali ini madam Jin benar-benar sial, para bandit datang hendak membalaskan dendam.

Gubernur Wei memberi hormat pada pasangan Xing – Luo. Gubenur Wei mendengar khabar kalau Qon Sang akan bertemu dengan Dewa Bandit di restoran Ru Yu. Agar tidak membuka jati dirinya, Gubernur Wei minta agar Xing – Luo yang menanganinya. Si Tu Luo mengampuni gubernur Wei setelah mengancamnya akan menebas leher kalau berita itu palsu. Setelah pasangan Xing – Luo pergi, gubernur Wei menyesalkan keserakahannya yang membuat dia bekerja sama dengan Shanhai. Belum selesai masalah satu, prajurit memberi tahu kalau putra semata wayang, Tian Qi juga pergi ke restoran Ru Yu. Gubernur menyuruh Wei Ming mengerahkan prajurit untuk membawa paksa Tian Qi pulang.

Murid-murid perguruan Zhaifeng berhasil menemukan Madam Jin yang disandera Dewa Bandit. Pengawal Madam Jin berjatuhan diserang Dewa Bandit dan melarikan diri. Xi Fan mengatakan kalau dia menghormati Dewa Bandit yang merampok orang kaya dan membagikan hartanya untuk orang miskin. Lalu, kenapa Dewa Bandit musti bersembunyi? Siapa Dewa Bandit sebenarnya? Dewa Bandit terbatuk dan ditopang Xi Fan. Xi Fan membuka kedoknya, Dewa Bandit adalah Mo Lin. Mo Lin mengaku kalau dia terluka saat melawan para pengawal. Saat mengetahui kalau Dewa Bandit itu rupawan, dan murid perguruan Zhaifeng menghormatinya, madam Jin mengajak mereka semua minum di restoran Ru Yu. Xi Fan menolak dengan alasan akan membawa Mo Lin ke perguruan agar bisa beristirahat dan mengobati luka-lukanya. Saat Mo Lin melewati Lu Ping, ia mengenali bau yang sama dengan robekan kain yang diberikan Qin Sang.

Lu Ping bersyukur mengikuti rekan-rekannya mencari Dewa Bandit. Kalau tidak dia akan masuk perangkap yang disiapkan untuknya. Lu Ping tidak percaya kalau Mo Lin dikirim oleh Shanhai. Gerombolan Shanhai terkenal akan kebrutalan dan kekejamannya. Mereka tidak akan membuang waktu menyiapkan perangkap.

Di Restoran Ru Yu, Tian Qi sedang diobati karena dihantam hidungnya oleh Mo Lin saat berpura-pura menjadi pengawal Madam Jin. Zi Yang melaporkan kalau Mo Lin sudah berhasil menyelundup ke perguruan Zhaifeng. Prajurit kota datang menjemput Tian Qi atas suruhan ayahnya. Qin Sang menyuruh Zi Yang mengantar Tian Qi, memastikan dia selamat sampai rumah gubernur.

Di perguruan Zhaifeng, Mo Lin sedang berusaha dengan berbagai cara untuk bisa menundukkan Lu Ping dan membawanya ke Qin Sang. Lu Ping, yang tidak merasa terganggu, menulis surat perpisahan untuk guru You Dao, meniup lilin dan pergi tidur. Kali pertama, Mo Lin menembakkan panah dari busur. Gagal, karena Lu Ping selalu berkelit menghindarinya, sambil terus pura-pura tertidur. Kali kedua, Mo lin lari mengejar Lu Ping ke dalam hutan. Dari senjata panah sampai senjata kartu logam, semua berhasil dihindari Lu Ping. Kali ketiga, berhasil! Lu Ping masuk dalam pasir hisap yang disiapkan Mo Lin. Lu Ping menggunakan kesempatan itu untuk mencari tahu siapa Mo Lin sebenarnya. Setelah tahu, Lu Ping meloncat keluar dan melemparkan Mo Lin ke pasir hidup. Dan meninggalkan Mo Lin, setelah sebelumnya mengambil kantong uang Mo Lin, anggap itu pembayaran karena mengganggu tidur Lu Ping.

Mo Lin mengirim pesan ke Qin Sang. Usaha pertamanya telah gagal. Kali ini pencarian menjadi misi pribadi bagi Mo Lin. Usaha hari ini: kali pertama meracuni sarapan murid-murid perguruan Zhaifeng. Kali kedua meniupkan bubuk tidur ke Lu Ping. Keduanya berakhir sama, racun dan bubuk tidur terkena ke Mo Lin sendiri. Kali ketiga menembakkan panah, sebelum panahnya secara misterius menghilang dari kantong Mo Lin. Menerima semua laporan dari Mo Lin, Qin Sang pun menyadari kalau lawannya cukup licik untuk membiarkan Mo Lin hidup, karenanya pasti Dewa Bandit memiliki maksud terselubung.

Lu Ping membiarkan Mo Lin tetap ada di perguruan, karena membuat hidupnya menjadi menarik. Juga, Lu Ping tahu kalau Mo Lin adalah suruhan Qin Sang. Karenanya malam ini Lu Ping akan menemui Qin Sang dengan menggunakan Mo Lin. Mo Lin menunggu Lu Ping di pavilion Zhaifeng, tapi yang datang Xi Fan. Lu Ping membalikkan rencana Mo Lin untuk bisa bertemu Qin Sang. Menjebak Xi Fan menjadikan Lu Ping punya waktu untuk menyelinap ke restoran Ru Yu dan menghentikan Mo Lin mengikutinya.

Xi Fan berhasil membuka jebakan Mo Lin dan menanyakan maksud Mo Lin sebenarnya. Mo Lin mengaku kalau dia ingin menjebak Lu Ping, yang dia yakin adalah Dewa Bandit. Untuk membuktikan kebenarannya, Mo Lin mengajak Xi Fan pergi ke restoran Ru Yu.

Lu Ping sampai di restoran Ru Yu dan menyandera Qin Sang. Di lantai dasar, madam Jin menyambut pasangan Xing – Luo. Si Tu Xing menyukai putihnya leher madam Jin, Si Tu Luo mengingatkan kalau sang penguasa minta agar masalah cepat dibereskan. Si Tu Xing pun mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan minuman anggur. Di dalam kota, Tian Qi berjalan menuju restoran bersama Zi Yang. Dia tidak mau pulang ke gubernuran karena sudah punya rencana yang bisa membuat Qin Sang terpikat padanya. Tian Qi tidak peduli apakah Zi Yang akan membantu atau tidak.

Qin Sang tersadar dan menemukan dirinya dalam kondisi terikat. Lu Ping mengambil lencana keluarga Qin yang diberikan oleh Kaisar, dan memastikan kalau yang ada di hadapan dia sekarang adalah nona muda keluarga Qin, Qin Sang. Lu Ping memaksa Qin Sang minum racun milik Mo Lin untuk membuat Qin Sang mengatakan yang ia mau tahu. Lu Ping menanyakan alamat Ge Cheng. Qin Sang menolak menjawab, meski dia akan mati. Bagi Qin Sang akan terhormat membela nama keluarga Qin daripada bekerja sama dengan gerombolan Shanhai.

Lu Ping mengatakan kalau dia bukan anggota Shanhai. Obat yang diberikan juga bukan racun, tapi obat diare. Saat itu, Xing – Luo mulai naik ke lantai atas mencari Dewa Bandit. Lu Ping yang menyadari kalau dia tidak bisa melawan mereka berniat lari. Dia membawa Qin Sang lari karena khawatir Shanhai akan membunuh Qin Sang juga. Saat itu sebuah pintu kamar dibuka oleh Su Tang yang menyamar menjadi pelayan restoran. Mereka lari masuk ke dalamnya.

Si Tu Xing mendobrak kamar dan Si Tu Luo menanyakan apa Su Tang melihat dua pelarian? Su Tang berpura-pura ketakutan dan menjawab kalau mereka sudah pergi. Si Tu Luo tidak percaya begitu saja dan mulai menebas tempat tidur dengan Sabit Perak miliknya. Di bawah tempat tidur, Lu Ping memeluk Qin Sang untuk menghidari terkena ujung sabit.

Bersambung…

Komentar aku: sebelumnya, minta maaf kalau ada salah nama atau tempat. Aku sendiri tidak membaca novel Heaven Awakening Path, jadi tidak familiar dengan latar belakang dan apa-siapa di drama ini, kecuali beberapa pemain utama dan pendukung.

Arthur Chen mulai membaik di episode ini. Kalau dia bisa membuat aku sebal pada Lu Ping artinya bagus dong ya? Karena peran Arthur di Ever Night dan My Best Summer tidak tengil begitu, wkwkwk… Go Arthur!

#LegendofAwakening #ArthurChen #RecapDrama

Mystic Pop-Up Bar Ep. 4

Yeo Rin menangkal pukulan si pria bertatto, bahkan membuat si pria tak berkutik. Jin Dong melaporkan hasil check produk yang diklaim. Pabrik memberi tahu kalau produk tersebut hanya dijual online. Pria tersebut tidak bisa mendapat diskon pembelian online lalu mengajukan klaim penggantian di toko offline. Yeo Rin minta pria itu pergi, kalau masih memaksa, Yeo Rin bersedia menghadapi pria itu. Pria tattoo langsung membungkuk meminta maaf pada Kang Bae, Yeo Rin dan Jin Dong.

Yeo Rin menarik Kang Bae untuk dibawa ke kantor satpam dan menjelaskan hubungan Kang Bae dengan insiden penerimaan pegawai Hotel Sangil. Wol Joo datang dan minta agar Yeo Rin bersabar, Wol Joo akan jelaskan yang sebenarnya. Yeo Rin curiga akan karena mereka bisa menyusup ke hotel bintang lima dan membeberkan tindakan korup yang terjadi di sana. Apa mereka bekerja untuk SNS? Wol Joo dan Kang Bae berpura-pura menjadi agen rahasia yang bekerja dalam skala yang lebih besar disbanding SNS.

Wol Joo memanggil Mr. Smith masuk. Mr. Smith masuk dan menegur Wol Joo. Tidak saja Wol Joo membongkar jati diri mereka, Wol Joo juga membuat Mr. Smith harus turun tangan dan melibatkan warga setempat. Untuk itu Mr. Smith meminta maaf pada Yeo Rin. Yeo Rin merasa dia pernah melihat Mr. Smith. Wol Joo memperlihatkan website yang menampilkan foto dan berita tentang John Smith yang diangkat menjadi direktur CIA. Yeo Rin, dan Kang Bae, keduanya terkejut. Yeo Rin memperbolehkan mereka melanjutkan kegiatan masing-masing dan berjanji pada Mr. Smith untuk merahasiakan jati diri Kang Bae cs.

Setelah Yeo Rin pergi, Kang Bae memperkenalkan diri ke Mr. Smith, ‘Hello, nice to meet you. I’m Kang Bae Han.’ Mr. Smith menjawab kalau tidak perlu basa-basi dalam bahasa Korea. Kang Bae heran kenapa bahasa Korea Mr. Smith sangat fasih. Mr. Smith menggerakkan kepalanya dan kembali menjadi manager Gwi. Kang Bae terkagum-kagum, membuat Wol Joo khawatir dengannya, selain aneh, juga terlalu naïve.

Wol Joo berbelanja mie, dia memborong semua mie yang ada di supermarket. Gyeom Rye minta agar Wol Joo memberinya satu bungkus saja untuk makan malam cucunya. Wol Joo menolak. Gyeom Rye terus mengikutinya dan akan mengambil satu secara diam-diam. Wol Joo membentak dan menanyakan apakah Gyeom Rye akan mencuri darinya? Gyeom Rye berkata seharusnya wanita yang lebih muda, menghargai wanita yang lebih tua. Wol Joo tidak mundur kalau hanya karena perbedaan usia. Gyeom Rye menanyakan usia Wol Joo (500 tahun++, wkwk..). Gyeom Rye menebak usia Wol Joo paling baru 20-21 tahun. Kulitnya kencang dan halus, rambut tipis masih tumbuh di pipinya, rambutnya halus dan bersinar, dan tangan halus seperti tidak pernah kerja. Dipuji seperti itu, Wol Joo merubah suaranya menjadi kekanak-kanakan dan langsung memberi Gyeom Rye 4 bungkus mie. Tidak itu saja, Wol Joo meminta maaf atas kekasarannya dan mentraktir minuman dingin. Tapi, sewaktu Gyeom Rye hendak menjodohkan dengan cucunya, Jin Dong, Wol Joo segera berlari, pura-pura sudah terlambat kerja.

Kertas bertuliskan ‘Hari ini Tutup’, terpasang di luar tenda kedai Mystic. Di dalam tenda, Wol Joo sedang mengepak semua keperluan berjualan. Wol Joo menanyakan latar belakang manager Gwi, karena dia melihat tulisan tangan manager Gwi sangat bagus. Manager Gwi berkata kalau semua, termasuk bahan pamflet, dia belajar dan dapatkan dari pusat kebudayaan. Wol Joo menimpali, pastinya begitu, karena dia tidak percaya kalau manager Gwi pernah terlahir sebagai bangsawan. Manager Gwi jadi malas menjawabnya. Manager Gwi bingung kenapa tiba-tiba Wol Joo jadi antusias mengikuti acara itu? Wol Joo antusias karena hanya di event ini Wol Joo bisa membantu jiwa tanpa harus mendengarkan keluh kesah berkepanjangan. Manager Gwi menjawab, yup, itulah trade-mark Wol Joo!

Kang Bae berjalan menuju kedai Mystic sembari mengikuti Yeo Rin. Pikirannya penuh dengan Yeo Rin, bagaimana mereka bersentuhan tetapi Yeo Rin tidak merasakan apa-apa. Saat pikirannya melayang, Kang Bae nyaris menabrak Yeo Rin, dan lagi-lagi diselamatkan Yeo Rin. Yeo Rin kesal karena Kang Bae mengikutinya sejak dari supermarket. Kang Bae membantah, dia hanya berjalan ke arah yang sama. Yeo Rin menyuruh Kang Bae berjalan lebih dahulu. Kang Bae memberanikan bertanya, apa benar Yeo Rin tidak merasakan apa-apa? Yeo Rin menjawab kalau ia merasa, canggung, terganggu, tidak nyaman dan frustasi! Yang membuatnya ingin selalu menjauhi Kang Bae. Kang Bae menghormat dan pergi ke tenda kedai.

Saat dia berlari menerobos tenda, dia masuk ke lapangan di mana peserta perlombaan dari setiap kota sedang berarak sambil diperkenalkan oleh MC. Kang Bae merasa dia salah masuk. Dia keluar lagi, dan kembali ke Seoul. Dia yakin dia tidak salah lihat. Kang Bae pun menerobos lagi, dan lagi-lagi masuk ke lapangan perlombaan. Saat itu, manager Gwi memanggilnya.

Mereka berada dalam dunia mimpi. Dunia Mimpi sedang menyelenggarkan event Pertempuran Lotere Dunia Mimpi. Pesertanya adalah jiwa-jiwa yang sudah meninggal dan menunggu reinkarnasi. Pemenang akan mendapatkan kesempatan memberi tahu ke keturunan mereka nomor lotere yang akan menang di dunia nyata lewat mimpi. Semua pemenang lotere di dunia nyata adalah keturunan dari pemenang-pemenang event ini. Kang Bae bertanya apa kedai Mystic akan berjualan di sini? Wol Joo balik bertanya, kalau tidak untuk cari uang, terus untuk apa? Juga, semua yang berkompetisi di sini khawatir akan kesejahteraan keturunannya. Jadi, kalau mereka berhasil menghubungkan pemenang dengan keturunannya lewat mimpi, maka quota mereka akan berkurang satu lagi!

Kang Bae disuruh membawa Pajeon ke meja tiga. Di meja tiga mreka beradu mulut mengeluhkan kondisi keturunan mereka. Salah satunya, Choi Seok Pan bertekad akan memenangkan nomor lotere untuk keturunannya, Jin Dong. Kang Bae menyadari kalau dia adalah kakek buyut dari Jin Dong, temannya di supermarket. Kakek Seo Pan senang bisa bertemu teman Jin Dong, tetapi menyayangkan kenapa Kang Baek harus berumur pendek… Kakek Seok Pan menasihati Kang Bae agar berbuat banyak kebaikan di dunia akhirat, agar bisa berumur panjang dan sehat saat nanti bereinkarnasi. Mereka saling memberi semangat.

Kang Bae diperkenalkan dengan Kepala Divisi Yeom, atau Dewa Maut. Mendengar nama julukan Yeom, Kang Bae langsung bersembunyi di belakang manager Gwi. Yeom tidak bisa dilihat saat di dunia nyata oleh Kang Bae, kecuali kalau sedang tidak bertugas. Yeom mengundang Kang Bae untuk kapan-kapan minum bersama. Kang Bae tersenyum, takut.

Jin Dong dan Gyeom Rye sedang makan malam mie kimchi sambil menonton drama makjang. Gyeom Rye menebak jalan cerita yang akan terjadi, Jin Dong memuji kepintaran neneknya. Jin Dong memberikan buku tabungan miliknya untuk biaya operasi pinggang Gyeom Rye. Gyeom Rye menolak karena dia ingin Jin Dong menggunakan uang itu untuk menikah. Jin Dong mengatakan kalau paling cepat dia akan menikah, sekitar 10 tahun lagi. Gyeom Rye minta Jin Dong menikah tahun depan. Juga, usia Gyeom Rye sudah tua, dioperasi atau tidak, tidak akan membuat banyak perbedaan. ‘Cepat menikah!’, kata Gyeom Rye sambil menepuk keras pundak Jin Dong.

Event Pertarungan Lotere Dunia Mimpi dimulai. Babak pertama: ‘Benar atau Salah’. Pertanyaannya: ‘Siput punya gigi. Benar atau Salah’?. Seok Pan memilih ‘Benar’. Siput punya ribuan gigi. Peserta yang menjawab benar, ikut babak selanjutnya. Babak kedua: ‘Lomba Makan Kerupuk’, Seok Pan menang lagi. Kim Du Yeong (bekas bangsawan) curang agar bisa menang dan ikut babak berikutnya. Babak ketiga: ‘Permainan Limbo’. Seok Pan berhasil, begitu juga Du Yeong (meski lewat dengan membungkuk). Babak final: Chicken fight! Seok Pan vs Du Yeong. Du Yeong berusaha mencurangi dengan menggunakan tangan untuk memukul Seok Pan. Juri memberi Du Yeong kartu kuning. Tapi Du Yeong terus memukul dengan kakinya. Seok Pan tidak tahan dan menggunakan jurus pamungkas, jurus ‘Badai Kincir Angin’ dan menumbangkan Du Yeong! Yay!

Dunia Mimpi… Jin Dong yang sedang bekerja sebagai cs didatangi kakek buyut Seok Pan. Seok Pan memberikan nomor urutan antrian: 7 – 11 – 19 – 34 – 36 – 45. Buyut senang sekali karena akhirnya Jin Dong bisa hidup berkecukupan.

Yeom senang event sudah berakhir. Yeom minta daftar nama mereka yang harus ia jemput. Dia kaget saat melihat satu nama. Seok Pan diminta kembali ke dunia kematian. Wol Joo merebut dan membaca daftar nama dan salah satunya adalah Jin Dong. Jin Dong akan meninggal besok karena kecelakaan. Seok Pan menangis tersedu-sedu dan minta Yeom mempertimbangkan lagi. Yeom menjawab bukan dia yang menentukan. Yeom memberikan masukkan apa yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi.

Untuk merubah keputusan Dewa diperlukan hal yang bisa membuat Dewa tersentuh hatinya. Agar dapat tersentuh hatinya, harus dilakukan perbuatan yang sangat baik. Sayangnya, tabungan perbuatan baik Seok Pan tidak mencukupi. Yang bisa dilakukan adalah meminta tabungan perbuatan baik jiwa yang ada di akhirat, tapi harus dengan barter sesuatu yang berharga, tidak boleh gratis. Kang Bae menanyakan kalau nomor lotere boleh? Yeom mengiyakan, tapi ada syarat lain. Barter perbuatan baik musti dilakukan dengan jiwa yang mempunyai hubungan dengan Seok Pan atau keturunannya.

Seok Pan memohon bantuan Wol Joo, karena dia satu-satunya yang bisa bolak-balik dari dunia akhirat ke dunia nyata. Wol Joo ingat ucapan ibunya, saat dia membutuhkan bantuan, peganglah binyeo erat-erat. Mungkin itu bisa membantunya mencari jiwa dermawan itu. Seok Pan mengucapkan terima kasih dan kembali ke akhirat, setelah Wol Joo menyetujui membantunya. Yeom memberi tahu kalau tabungan perbuatan baik harus ia terima sebelum jam 11.03am, tidak semenit pun terlambat.

Mereka bertiga pergi ke Kantor Pemerintahan Dunia Akhirat dan meminta data keluarga Seok Pan dan semua kebaikan yang pernah dilakukan. Saat Wol Joo minta kunci untuk membuka ruang referensi, pegawai kantor bilang kalau ruang itu sudah tidak ada lagi, karena semua data sudah disimpan secara digital oleh pegawai baru yang sangat piawai dengan system IT. Diperlihatkan punggung pegawai baru yang meletakkan apel tergigit di sampingnya (referensi ke Steve Jobs? Wkwkwkwkw…) . Pegawai kantor itu dengan cepatnya mencari data dan mendapatkan nama yang dicari, ‘Lee Kkeut Sun’. Dia sebegitu kayanya, sehingga kalau reinkarnasi pastinya akan jadi billionaire. Tabungan perbuatan baik itu sangat berharga di dunia akhirat. Itu sebabnya banyak orang menyesal kenapa waktu masih hidup tidak menabung perbuatan baik. Wol Joo cs bisa bertemu dengan Lee Kkeut Sun di panti asuhan Akhirat.

Wol Jo datang ke panti asuhan dan membuatkan makan siang mie kimchi seperti yang diajarkan Gyeom Rye. Anak-anak memakannya dengan lahap. Ibu Kkeut Sun datang dan menanyakan maksud kedatangan mereka. Saat mengetahui yang kalau Seok Pan yang meminta bantuan, dia langsung memberikan sekantong perbuatan baik. Ibu Kkeut Sun minta agar Seok Pan benar-benar dibantu, karena dia berhutang budi pada Gyeom Rye. Wol Joo memberikan karcis lotere sebagai penggantinya.

Perahu pengantar jiwa datang dan mereka bersiap meninggalkan dunia mimpi. Tiba-tiba Yu Deong datang dan merebut kantong perbuatan baik. Manager Gwi mengejarnya, sementara Wol Joo dan Kang Bae kembali ke dunia nyata untuk menjaga Jin Dong.

Hari itu, Kang Bae mengikuti Jin Dong ke mana pun ia berada. Jin Dong memperlihatkan karcis lotere yang dia beli, kalau menang Jin Dong akan mengajak Kang Bae ke Hawaii. Untuk menjaga Jin Dong, semua Kang Bae lakukan, sampai tergelincir karena mengambil kulit pisang pun, dijalaninya. Dewa Maut sudah sampai di supermarket Kapeul dan mencari Jin Dong. Di gudang, Kang Bae dan Jin Dong sedang mengatur barang-barang. Dewa Maut menggerakkan trolley agar menabrak Jin Dong. Wol Joo berteriak dan Kang Bae langsung meloncat menyelamatkan Jin Dong. Wol Joo bergulat menahan Dewa Maut. Karena kesal, Dewa Maut mengganti penyebab kematian dari kecelakaan menjadi serangan jantung. Anehnya, saat Yeo Rin masuk ke gudang, kekuatan Dewa Maut tiba-tiba hilang. Yeo Rin berjalan menembus Dewa Maut, membuat Dewa Maut sakit perut. Sayangnya, Yeo Rin dipanggil untuk bertugas di lantai satu. Gangguan dari Yeo Rin memberikan tambahan waktu yang membuat manager Gwi bisa memberikan kantong perbuatan baik dan Jin Dong selamat.

Gyeom Rye sedang menjahit kaos kaki yang berlubang, lalu tidur kecapaian. Saat itu Kkeut Sun datang dan mereka berbagi khabar. Kkeut Sun berterima kasih, berkat Gyeom Rye dia menjalani kehidupan yang sangat baik, dia bersyukur. Gyeom Rye tidur di pangkuan dan Kkeut Sun menggosokkan panacea di punggung Gyeom Rye sebagai balas jasa. Panacea itu Kkeut Sun dapat dengan menukar tiket loterenya.

Jin Dong pulang dari supermarket dan minta dibuatkan makan. Saat makan, dia check karcis loterenya, tidak menang. Tapi Gyeom Rye menemukan kalau pinggangnya sembuh. Menurut Gyeom Rye mungkin buyut mereka menukar kartu lotere dengan kesembuhan pinggangnya. Mereka menari-nari gembira.

Di kedai Mystic, mengetahui manager Gwi telah menyelesaikan tugasnya, Wol Joo memberikan tugas tambahan, membersihkan ikan teri. Kang Bae masuk setelah selesai menyapu dan jatuh pingsan. Badannya demam tinggi. Wol Joo mengantar Kang Bae pulang ke kost. Yeom datang dan memberi khabar kalau Seok Pan berterima kasih dan Du Yeong akan diproses sesuai kesalahan yang diperbuat. Kepala kepolisian juga menitipkan pesan tentang pengembalian jabatan kepala detetif untuk manager Gwi. Manager Gwi menolak. Yeom mendapat telpon dari kepala polisi kalau ada roh jahat berkeliaran di daerah ini. Yeom meminta bantuan manager Gwi untuk menangkapnya. Pastinya, manager Gwi berhasil menangkap roh jahat itu.

Di kamar kost, Kang Bae minta Wol Joo jangan pergi, dan memegang lengan Wol Joo. Wol Joo teringat kejadian yang sama saat Putra Mahkota yang sakit menggengam tangannya. Apakah Kang Bae titisan Putra Mahkota?

Kilas balik… Putra Mahkota berlutut sambil membawa pedang yang bertetesan darah di depan pohon Suci. Ia sangat menyesal karena gagal menyelamatkan nyawa Wol Joo. Dia bersumpah kalau bertemu di kehidupan berikutnya, dia akan melindungi Wol Joo meski harus kehilangan nyawanya.

Bersambung

Komentar aku: wkwkwkwkw… Banyak sekali cross-reference yang ada di drama ini. Perahu pembawa jiwa, setahu aku itu dari kebudayaan Yunani. Pendiri Apple, Steve Jobs. Lomba mendapatkan lotere. Untung yang dipertandingkan permainan rakyat, ya. Coba kalau sekelas olimpiade… Tapi juga nilai-nilai moral tradisional yang diselipkan di sana-sini. Be kind

Yang juga menyenangkan adalah kelakuan antic Wol Joo cs, terutama Kang Bae. Angkat topi untuk Yook Sung Jae yang bisa mempertahankan karakternya sebagai pemuda yang naïve, tapi tetap santun. Kalau trade-mark Wol Joo tidak mau rugi, maka Kang Bae, ‘Hello, I am Kang Bae Han. I am fine, and you?’

#MysticPopUpBar #YookSungJae #HwangJungEum #RecapDrama 

Mystic Pop-Up Bar Ep 3

Mystic Pop-Up Bar

Episode 03

Kilas balik… Wol Joo berdiri di depan sumur di dalam hutan. Ia menurunkan ember kayu ke dalam sumur dan menuangkan air akhirat ke bak penampungan. Yeom datang dan bertanya apakah dia bernama Wol Joo? Wol Joo mengiyakan. Mereka memasukkan air akhirat ke dalam botol-botol minuman.  Yeom mendengar kalau Wol Joo membuka kedai di dunia manusia hidup. Wol Joo membenarkan, dia menggunakan air akhirat agar jiwa manusia yang masih hidup, untuk sementara waktu, bisa berada di dunia mimpi, dunia perbatasan antara hidup dan mati. Dengan begitu, Wol Joo bisa membantu menyelesaikan masalah mereka. Yeom bertanya bagaimana Wol  Joo bisa membantu 100ribu jiwa manusia, kalau dia bunuh diri karena membenci manusia? Akankah Wol Joo baik-baik saja? Yeom yang saat itu menjabat sebagai manager junior atau lebih dikenal sebagai Dewa Kematian. Dia menawarkan bantuan, karena dia ditugaskan untuk mengawasi Wol Joo saat berada di dunia manusia. Wol Joo menolak, dia akan berhasil. Wol Joo akan menggunakan tipu daya, bahkan menggunakan manusia lain, atau apa pun yang diperlukan, untuk menyelesaikan tugasnya.

2020… Kang Bae membayangkan kalau dia bisa berdesak-desakan di MRT, tanpa harus membuat orang berkata jujur. Itu adalah bentuk perayaan yang akan Kang Bae lakukan kalau dia sembuh. Manager Gwi menganggap Kang Bae abnormal. Bekerja sedemikian keras untuk sembuh dan merayakannya hanya dengan berdesakan di MRT? Manager Gwi menyarankan bagaimana kalau Kang Bae merayakannya dengan mandi di sauna dan menggosok badan agar merasa segar dan bersemangat lagi. Manager Gwi pun menunjukkan cara menggosok yang baik dan benar.

Wol Joo berteriak dan menghentikan mereka. Dari pada berangan-angan, bukankah lebih baik kalau sekarang Kang Bae mulai membawakan tamu yang mempunyai masalah? Esok harinya, Kang Bae sembari melaksanakan tugas cs juga membagikan kartu nama kedai Mystic dan menyarankan mereka untuk datang berkunjung. Saat makan siang, Jin Dong menanyakan kenapa Kang Bae memberikan kartu nama kedai ke mereka-mereka yang terlihat lesu bermasalah? Bukannya kedai akan lebih terkenal kalau tamunya cantik dan enerjic? Kang Bae bilang kalau tamu bermasalah lebih mudah dimanipulasi. Jin Dong langsung menolak saat ditawari kartu nama itu.

Di kedai, seorang wanita yang juga pelanggan supermarket, datang dan mengeluhkan berat badan yang tidak juga turun, padahal sudah diet dan hanya minum air. Dia minta tambah Soju, setelah menghabiskan empat botol dan sepiring Pajeon setelah menghabiskan lima piring. Wol Joo langsung mengusirnya keluar. Masuk lagi seorang wanita dewasa, mengeluhkan suaminya sudah tidak mencintainya lagi. Biasanya, mereka berhubungan tujuh kali dalam seminggu, sekarang hanya lima kali. Manager Gwi menggerutu, lima itu hebat, pastinya stamina sang suami… (latar belakang: suara kuda meringkik,LOL). Wol Joo kembali memarahi Kang Bae.

Kang Bae meringkuk di depan kedai. Manager Gwi mencoba membesarkan hati Kang Bae. Kang Bae takut pada Wol Joo, apalagi ada gossip kalau Wol Joo membunuh 100ribu orang di masa lalu. Manager Gwi berkata kalau itu semua hanyalah gossip agar Kang Bae bekerja lebih giat . Tapi manager Gwi juga sama takutnya dengan Kang Bae saat Wol Joo berteriak menyuruh mereka kembali bekerja.

Wol Joo menegur Kang Bae karena selalu membawa orang yang salah. Pasti pengertian ‘masalah’ yang dimengerti Kang Bae itu beda dengan apa yang dimau Wol Joo. Wol Joo lalu memberi arahan manusia yang disebut bermasalah itu seperti apa.

Pertama, masalah itu bukan masalah, kalau bisa diatasi dengan kemampuan orang itu sendiri. Masalah kehilangan berat badan itu bisa diatasi selama orang tersebut memiliki kemauan untuk menurunkan berat badannya.

Kedua, alasan sebuah masalah bukan karena menginginkan milik orang lain. Itu namanya serakah. Manager Gwi menimpali, yup, ingin menang lotere, ingin punya gaji besar, ingin melakukan tujuh kali seminggu… dia berhenti saat Wol Joo memelototinya.

Ketiga, dan yang paling penting, mereka yang punya masalah harus benar-benar merasa putus asa. Begitu putus asanya sampai ingin membunuh orang, atau sampai tidak bisa meninggal karena masih terikat dengan masalah itu, atau berada dalam kondisi hidup dan mati karena masalah itu. Kang Bae mencatat ajaran Wol Joo di note-booknya.

Keesokan hari, di depan hotel Sangil, Park Byeong Jae memaksa untuk bertemu pimpinan HRD. Dia ingin tahu kenapa dia tidak lulus ujian penerimaan pegawai. Chairman Choi datang dan Byeong Jae mencoba menanyakan hal sama, tapi dia di-tackle oleh pengawal pribadi Choi, Kang Yeo Rin. Byeong Jae terus berteriak menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Yeo Rin meminta maaf atas gangguan tersebut. Chairman Choi tidak menyalahkan Yeo Rin, malah memuji kinerja Yeo Rin.

Supermarket Kapeul… Wol Joo sengaja belanja di situ agar bisa mengawasi apa yang Kang Bae kerjakan di siang hari. Mi Ran datang dan menyapa mereka. Mi Ran telah selesai membagikan sample karena kebanyakan ibu-ibu sedang memasak untuk merayakan keberhasilan anak mereka diterima bekerja di perusahaan. Manager Gwi menambahkan, kalau begitu akan banyak juga anak muda yang putus asa, karena mereka tidak diterima bekerja. Mi Ran mengiyakan. Mendengar itu, Wol Joo langsung berlari kegirangan.

Wol Joo menyuruh Kang Bae dan manager Gwi pergi ke Noryangjin untuk mencari anak-anak muda yang putus asa karena tidak diterima bekerja. Kang Bae menegur Wol Joo karena sepertinya itu tidak pantas. Mereka sudah cukup kecewa, haruskah ditawari datang ke kedai? Manager Gwi juga merasakan hal yang sama, Wol Joo kali ini agak keterlaluan. Wol Joo menyanggah, itu bukan keterlaluan, tetapi menggunakan strategi untuk memenuhi quota.

Byeong Jae yang diusir dari hotel Sangil, berjalan dengan lunglai. Ia menolak telpon dari Yu Mi. Saat melihat ke seberang, dilihatnya kedai Mystic masih buka, ia pun masuk ke dalamnya. Byeong Jae memesan sebotol Soju. Byeong Jae menghela nafas panjang saat disodori sepiring tumis gurita. Selesai makan segigit, Byeong Jae menangis. Manager Gwi menyangka kalau Byeong Jae menangis karena masakannya terlalu pedas. Dia mencoba segigit dan langsung mencari susu untuk meredakan rasa pedasnya. Kang Bae mau menyusul, tapi ditarik Wol Joo dan disuruh mendekati Byeong Jae. Setelah ditepuk Kang Bae, Byeong Jae mulai bicara. Ia  ingin makan tumis gurita bersama Yu Mi.

Beberapa hari sebelumnya… Byeong Jae keluar mengendap-endap dan bertubrukan dengan pemilik kost. Byeong Jae minta maaf sekaligus berjanji akan melunasi sewa secepatnya. Byeong Jae telah berhutang sewa tiga bulan, kalau bulan ini tidak lunas, dia akan diusir. Byeong Jae sedang bekerja di mini market saat menerima telpon dari Yu Mi yang mengundang makan malam untuk merayakan ulang tahun mereka yang ketujuh. Gaji dari mini market tidak mencukupi membayar sewa kamar, apalagi mentraktir makan malam kekasihnya.

Malam itu Byeong Jae dan Yu Mi bertemu, Byeong Jae berpura-pura sakit perut saat diajak makan di restoran mewah. Mereka bertemu dengan teman lama yang mengajak makan malam bersama di restoran itu. Untuk menyelamatkan muka, Yu Mi berkata kalau mereka baru saja keluar dan akan pulang. Juga, Yu Mi kembali berbohong dengan mengatakan kalau Byeong Jae bekerja di Hotel Sangil. Berpacaran dengan Byeong Jae, membuat Yu Mi harus banyak menahan diri. Itu sebabgnya Byeong Jae bersikeras ingin bekerja di hotel Sangil, meski sudah ditolak selama tiga tahun berturut-turut. Alasan lain adalah Byeong Jae ingin pekerjaan yang layak dan bisa pensiun dengan baik. Byeong Jae yakin kali ini dia lulus dengan ranking tertinggi untuk ujian tulis, tinggal menunggu hasil wawancara.

Pagi tadi dia menerima pemberitahuan kalau dia ditolak hotel Sangil. Tak lama kemudian, ibu Yu Mi minta bertemu dan minta agar Byeong Jae putus dari Yu Mi. Ibu Yumi khawatir akan masa depan Yu Mi kalau terus berhubungan dengan Byeong Jae. Malamnya, Byeong Jae mengajak Yu Mi makan tumis gurita,  memutuskan hubungan mereka dan meninggalkan Yu Mi seorang diri. Saat sampai di rumah kost, Byeong Jae baru tahu kalau Yu Mi sudah membayarkan semua hutang sewa ditambah biaya sewa bulan ini. Byeong Jae merasa sangat malu dan bersalah pada Yu Mi.

Manager Gwi menangis tersedu-sedu mendengar cerita Byeong Jae. Saat digoda, Manager Gwi berkilah kalau bukan dia yang pernah patah hati, tapi temannya (okay, asking for a friend here, right?). Byeong Jae tidak ingin kembali ke Yu Mi, karena hubungan mereka akan canggung. Dia hanya ingin tahu kenapa dia selalu gagal ujian wawancara. Agar bisa mencoba mencari pekerjaan lagi dan kembali berhubungan dengan Yu Mi tanpa merasa malu dan bersalah. Wol Joo memberi Byeong Jae minum sebagai tanda simpati darinya.

Dunia mimpi… Kang Bae dan Byeong Jae ada di ruang wawancara bersama Ho Byun. Mereka berhadapan dengan empat penguji: manager HRD, Chairman Choi, Wol Joo dan manager Gwi.  Mereka dipersilahkan memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Kang Bae, “Hello, my name is Kang Bae Han. I am fine, thank you. And you..?’. OK, tingkat bahasa Inggris Kang Bae elementary. Byong Jae dengan fasih memberikan perkenalan lengkap disertai latar belakang. Kang Bae dan manager Gwi terkagum-kagum dibuatnya. Peserta terakhir, ‘My name Sang Ho Byun’. Manager HRD dan Chairman Cho, memuji-muji jawaban Ho Byun.

Pertanyaan kedua adalah pengetahuan mereka tentang hotel Sangil. Byeong Jae menerangkan dengan panjang lebar mengenai hotel itu. Kang Bae berkata kalau dia menyetujui ulasan Byeong Jae. Ho Byun tidak tahu apa-apa kecuali makanannya enak. Kembali kedua juri memuji jawaban Ho Byun.

Wol Joo dan manager Gwi menyadari ketidak beresan proses wawancara itu. Kang Bae mencuri dengar dari pegawai hotel, kalau wawancara itu sekedar basa-basi. Mereka yang berhasil lolos itu berasal dari keluarga kalangan atas yang punya hubungan khusus dengan hotel Sangil. Untuk mencari tahu informasi penting lainnya, Wol Joo memutar ulang kehidupan Byeong Jae mulai dari saat dia memaksa bertemu HRD.

Saat Byeong Jaememaksa masuk, Wol Joo cs menyamar menjadi pegawai hotel, mereka menonton adegan itu sembari mendengarkan komentar dari pegawai lainnya. Mereka menganggap kalau Byeong Jae itu bodoh atau terlalu naïf. Setiap pegawai yang diterima di Hotel Sangil harus berasal dari keluarga kelas atas, seperti putri seorang komisaris, putri jaksa penuntut umum atau keponakan direktur agensi Koran ternama. Chairman Choi masuk hotel dan merendahkan Byeong Jae karena Byeong Jae lahir dari keluarga kelas bawah. Ucapan Chairman Choi membuat Wol Joo geram dan mengangkat mukanya melihat Chairman Choi.

Kilas balik… Pejabat setempat menertawakan dan menghina Wol Joo muda, saat ia meminta keadilan atas kebakaran kuil dan kematian ibunya. Pejabat itu menganggap kematian seorang shaman dari kalangan rendah bukanlah suatu kejahatan. Kalau pun ada yang salah, itu adalah ibu, Wol Joo sendiri, nenek-kakek dan moyang-moyang mereka. Karena semuanya lahir dari keluarga rendah. Coba kalau mereka lahir dari keluarga terpandang, mereka pastinya akan diistimewakan. Wol Joo ditampar dan diusir pergi oleh pejabat itu. Wol Joo ingat, pejabat setempat itu adalah Chairman Choi dalam kehidupan sekarang. Dia tidak akan pernah lupa muka Chairman Choi yang tertawa terbahak-bahak saat prajurit melemparnya keluar.

Wol Joo membangunkan Byeong Jae dan menanyakan kalau dia ingat Ho Byun. Ho Byun menaikkan post di social medianya mengatakan kalau dia diterima bekerja di hotel Sangil. Byeong Jae heran karena saat wawancara Ho Byun tidak menjawab dengan baik. Manager Gwi memperlihatkan post lain di mana ayah Ho Byun, seorang anggota dewan perwakilan, berfoto bersama chairman Choi. Itu sebabnya Hyeong Jae tidak akan pernah punya kesempatan bekerja di Sangil Hotel. Byeong Jae berharap kalau dia tidak diterima bukan karena statusnya tapi murni karena ketidak mampuannya. Apakah dia harus mati dulu untuk dapat terlahir kembali dalam keluarga status tinggi?

Wol Joo menggebrak meja dan menyuruh manager Gwi dan Kang Bae bersiap untuk esok hari. Dia tidak peduli masalah ini melibatkan politisi dan chairman, atau kalau perlu membalikkan Negara, yang dia tahu dia ingin berurusan dengan Chairman Choi.

Di tempat perusahaan outsourcing jasa keamanan, Yeo Rin Choi minta dimutasi karena sudah tidak sanggup menjaga Chairman Choi yang dianggap sebagai penjahat yang tidak punya hari. Atasan Yeo Rin memarahinya, mengingatkan kalau Yeo Rin bekerja sebagai pengawal pribadi yang digaji. Siapa pun yang dia jaga, itu adalah bagian dari pekerjaannya. Yeo Rin diancam disuruh membayar uang ganti rugi kalau dia menolak bertugas untuk Chairman Yoi. Yeo Rin diminta bertahan sampai kontraknya habis.

Saat makan siang, Wol Joo menjadi pelayan yang membawakan anggur untuk Chairman Choi. Chairman Choi merasa tidak memesan minuman. Wol Joo berkata kalau itu adalah penghargaan dari restoran dan semuanya g.r.a.t.i.s! Chairman Choi langsung minta dituangkan anggurnya. Di hotel Sangil, Manager Gwi menyamar menjadi Chairman Choi dan Kang Bae menjadi pengawal pribadinya. Mereka pun masuk ke dalam hotel dan menuju kantor Chairman Choi.

Dunia mimpi… Wol Joo yang menyamar menjadi Yeo Rin, memberi tahu Chairman Choi kalau ada orang yang mencurigakan menyusup ke kantor. Chairman Choi segera berlari ke kantor, dan benar saja, ruangan kantor berantakan. Chairman Choi mengambil buku di rak teratas dan memastikan kalau flash dish yang di sembunyikan di rongga buku masih tersimpan aman. Yeo Rin/Wol Joo, memberikan tablet pada Manager Choi agar bisa melihat isi flash disk. Tiba-tiba terjadi gempa bumi.

Ternyata Yeo Rin yang asli sedang berusaha membangunkan Chairman Choi. Gagal melumpuhkan Yeo Rin, Wol Joo menelpon manager Gwi untuk segera mengambil flash disk tersebut. Manager Gwi berhasil melumpuhkan para pengawal dan melarikan diri. Tapi Yeo Rin berhasil menundukkan Kang Bae. Anehnya, saat menyentuh Yeo Rin, Yeo Rin tidak mengeluarkan isi hatinya. Kang Bae menjelaskan kalau isi flash disk itu akan digunakan untuk mengungkapkan ketidak adilan yang dilakukan chairman Choi. Kang Bae mengingatkan apakah gaji Yeo Rim sepadan dengan penderitaan yang diakibatkan oleh perbuatan Chairman Choi? Yeo Rin mendesah dan memberikan flash disk pada Kang Bae, bahkan memberikan kartu akses miliknya agar Kang Bae bisa melarikan diri.

Flash disk sampai ke tangan media, TV pun menyiarkan berita kecurangan dalam proses penerimaan pegawai di hotel Sangil. Chairman Choi bertemu dengan mereka yang mendapat perlakukan khusus darinya. Chairman minta bantuan dari ayah Ho Byun, yang adalah anggota dewan perwakilan. Anggota Dewan Perwakilan setuju karena cucunya sebentar lagi juga akan bergabung di Hotel Sangil. Anggota Dewan itu menelpon kenalannya dan minta agar insiden itu ditutupi karena merupakan berita hoax, ada seorang yang gagal menjadi pegawai mencoba mencemarkan nama hotel Sangil. Mereka tidak tahu kalau semua itu direkam secara rahasia dan rekaman itu langsung di-email oleh Kang Bae ke media.

TV kembali menyiarkan info terbaru dari insiden penerimaan pegawai. Menjadikan Chairman Choi dan rekan-rekannya diusut dan diperkarakan secara hukum.  Di kamar kostnya, Hyeong Jae yang menyaksikan semua berita secara online,  ditelpon HRD Hotel Sangil. Mereka meminta maaf atas perlakuan yang diterima Hyeong Jae meski hasil test dan wawancara menunjukkan kalau dia ada di peringkat pertama. Untuk itu, Hyeong Jae langsung diterima bekerja di hotel Sangil tanpa perlu mengikuti ujian masuk. Hyeong Jae merayakan penerimaan itu dengan mentraktir Yu Mi makan tumis gurita.

Voice over… ‘Kalau kamu ikut lomba lari, pastinya akan ada juara pertama, kedua dan ketiga. Tapi, sangatlah penting untuk mendapatkan start yang adil. Kamu menderita karena ada yang menggunakan uang dan kekuasaannya untuk mencuri start.  Kini, setelah mendapat kerja, kamu akan berpikir kalau semuanya sudah selesai. Tidak. Mulai bekerja adalah awal. Aku berharap kamu bertahan di kerasnya kehidupan kerja dan kalian berdua saling mendukung … Atau tidak, atau apalah…’gumam Wol Joo sembari melihat Byeong Jae dan Yu Mi dari seberang jalan. Lalu ia berteriak kalau keduanya sudah keterlaluan, kalau mau bermesraan cari hotel saja!

Wol Joo berbalik dan mengejar Manager Gwi yang sedari tadi menggoda Kang Bae untuk menggengam tangannya saja, karena Kang Bae sepertinya sudah ingin sekali bisa menggengam tangan seorang (gadis) tanpa harus mendengarkan seluruh keluh kesahnya.

Mereka sampai di kedai Mystic untuk mulai masak. Saat hendak memakai apron, Kang Bae baru teringat kalau dia masih menyimpan kartu akses milik Yeo Rin. Dia bertanya pada Wol Joo dan Manager Gwi, apa mungkin ada manusia yang tidak merasakan apa-apa saat disentuh Kang Bae? Yeo Rin telah menyentuhnya di sini, di sini… dan di sini, tapi tidak merasa apa-apa. Wol Joo berkata bahwa Yeo Rin mungkin memang tidak punya masalah. Benarkah demikian? Di saat yang sama, Yeo Rin dan Mi Ran minum dan berbagi cerita. Yeo Rin dipecat dari pekerjaannya karena membiarkan Kang Bae lolos dengan flash disk milik Chairman Choi. Yeo Rin mengeluh dan menyalahkan ‘pemuda itu’.  Mi Ran menggoda Yeo Rin, apa Yeo Rin jatuh cinta pada ‘pemuda itu’? Yeo Rin menepis dan mengatakan kalau ‘pemuda itu’ bukan typenya.

Supermarket Kapeul… Kang Bae diancam seorang lelaki berbadan kekar yang ingin mengganti barang tapi tidak bisa menunjukkan bukti pembelian. Lelaki itu mengancam akan lakukan tindakan kekerasan kalau keinginannya tidak dipenuhi. Saat akan memukul Kang Bae, Yeo Rin datang memegang tangan si pria.

Bersambung

Komentar aku: Wkwkwkwkw… drama ini ditujukan untuk 15 tahun++ ya? Karena banyak ‘bleeep’, meski dibuat dengan halus dan tersamar. Melihat perlakuan yang diterima Wol Joo saat ia muda, tidak salah kalau Wol Joo jadi membenci manusia. Semua membuatnya kehilangan kepercayaan pada manusia. Itu yang membuat aku sangat penasaran dengan tulisan yang ada di scroll. Sebegitu kuat isinya sampai Wol Joo menyerah tanpa syarat.

Kasus kali ini mengenai kesetaraan dan hak yang sama dalam mendapatkan pekerjaan. Dalam bahasa Inggris, Wol Joo berkata, ‘I hope you will survive in this jungle…’ Jadi, tidak salah ya kalau aku memberikan ucapan selamat untuk pegawai baru, ‘Welcome to the jungle!’ Oh, boy

#MysticPopUpBar #YookSungJae #HwangJungEum #RecapDrama  

Mystic Pop Up Bar Ep 2

Mystic Pop Up Bar

Episode 02

Kang Bae menunduk hendak mencium seorang gadis. Gadis itu menahannya karena ini baru ketiga kalinya mereka jalan bersama. Kang Bae merayu sang gadis dan mencoba kembali menciumnya. Wol Joo dan Manager Gwi menertawakan Kang Bae yang tersenyum dalam tidur. Kang Bae senang karena dengan bermimpi bisa pacaran, masalahnya berarti selesai. Wol Joo mengingatkan kalau mimpi itu hanya sedikit mengintip masa depan seperti apa yang bisa Kang Bae miliki kalau dia bersedia bekerja untuk Wol Joo selama sebulan. Tugas Kang Bae adalah untuk bisa membuat 9 orang bercerita masalahnya secara jujur selama bulan, itu saja.

Di klausul kontrak pasal 6 tertulis bahwa penglihatanan spiritual Kang Bae akan meningkat apabila melakukan pekerjaan itu dan efeknya mungkin akan permanen. Tingkat terparah adalah orang akan langsung berkata juru hanya dengan melihat mata Kang Bae. Wol Joo membujuk dengan mengatakan, kemungkinan itu kecil. Kang Bae tidak yakin, karena kalau sampai gagal, maka sama seperti bekerja di dunia nyata, Wol Joo akan dipensiunkan dan efek ke Kang Bae akan permanen. Kang Bae menolak dengan sukses.

Saat Kang Bae akan tidur, bu Andong (ibu kost) masuk dan memberikan snack untuk Kang Bae. Kang Bae bertanya kalau pernikahan Eun Su akan dilangsungkan tanggal 9 Mei ini dan diiyakan oleh bu Andong. Kang Bae tidak akan melewatkan hadir di hari ulang tahun dan pernikahan Eun Su itu.

Untuk membujuk Kang Bae, kali pertama, Wol Joo berkunjung ke cafeteria supermarket dan membawakan bento untuk makan siang Kang Bae & teman-temannya. Seung Ho menanyakan maksud kedatangan Wol Joo. Wol Joo datang menawarkan Kang Bae bekerja padanya saat malam hari di kedai minuman yang hanya buka malam hari. Kang Be diminati karena keahliannya. Saat Seung Ho menanyakan apa keahlian Kang Bae, Wol Joo menjawab yang dia maksud adalah fisik Kang Bae yang sempurna. Kang Be tetap menolak dan meminta Wol Joo pergi.

Kali ke dua, Wol Joo berpura-pura ingin menunjukkan tempat persembunyian Kang Bae, saat Kang Bae diserbu ibu-ibu seluruh supermarket yang tidak sengaja menyentuh Kang Bae saat berebut mengambil daging yang sedang didiskon. Kang Bae pun menyerah, tapi sebelum dikontrak, Kang Bae minta magang terlebih dahulu. Kalau sukses magang, Kang Bae baru mau tekan kontrak. Wol Joo tidak bisa berkata lain kecuali menyetujuinya.

Bu Andong pulang berbelanja bersama Eun Su. Mereka lewat di depan kedai pop up ‘Mystic’ dan memesan ikan makarel panggang. Saat Eun So ditelpon calon suaminya, bu Andong terbatuk. Mereka dapat melihat kalau bu Andong batuk berdarah. Kang Bae menyentuh bu Andong, kala bu Andong hendak membayar. Bu Andong bercerita kalau dia merasa bersalah pada Eun So.

Kilas balik… Saat  bu Andong muda, dia membuka restoran ikan makarel panggang bersama Lee Sun Hwa, seorang gadis yatim piatu. Bu Andong jatuh cinta pada seorang sopir truk, Ko Dong Gil. Sayangnya, Dong Gil jatuh cinta pada Sun Hwa. Mereka minta izin untuk menikah karena Sun Hwa sudah mengandung. Sun Hwa melahirkan bayi perempuan. Dalam keadaan mabuk dan cemburu buta, bu Andong membuat gossip bahwa bayi perempuan itu bukan anak dari Dong Gil. Dong Gil mengamuk dan meninggalkan Sun Hwa. Saat mengejar Dong Gil, Sun Hwa tertabrak taxi. Bu Andong sangat menyesalkan perbuatannya dan membesarkan Eun So. Saat ini dia menderita kanker, harapan terakhirnya adalah mempertemukan Eun Su dengan ayah kandungnya.

Wol Joo mengusir bu Andong saat dia selesai bercerita. Cerita bu Andong, mengingatkannya akan penduduk desa yang dulu juga bergosip tentang dirinya. Bagi Wol Joo, kata-kata bisa sama mematikan seperti senjata. Kang Bae menegur Wol Joo yang dianggapnya terlalu keras dan pergi meninggalkan kedai.

Seorang perempuan muda masuk dan mulai menangis. Dia mengaku kalau dia dibohongi pacarnya. Si pacar bukan lajang, dia sudah menikah. Siang itu istri si pacar datang mengamuk ke kantor, menuduh dia perusak rumah tangga dan menjambak rambutnya. Setelah minum beberapa tegak soju, wanita itu tertidur. Wol Joo dan manager Gwi mengantarnya pulang.

Kang Bae menyelinap ke dalam kedai dan mengambil minuman istimewa milik Wol Joo. Dia yakin kalau minum itu, dia akan bisa masuk ke mimpi orang lain. Saat pulang dia menemukan bu Andong terkapar jatuh dari tangga. Kang Bae dan Eun Su mengantar bu Andong ke RS. Kang Bae menelpon manager Gwi. Manager Gwi mengingatkan agar Kang Bae jangan pernah meminum minuman special Jol Woo.

Eun So yang kehausan, meminum minuman special Wol Joo dan jatuh tertidur. Saat Kang Bae hendak membangunkan, dia masuk ke dalam mimpi Eun Su. Dia berada di kamar gelap gulita dan terjatuh. Saat panic, Wol Joo datang dan menyalakan lampu (oh, boy…). Mereka ada di dalam bioskop. Film berputar, dan terlihat perjalanan hidup bu Andong membesarkan Eun Su seorang diri. Sirene berbunyi di luar bioskop, ibu Andong dalam keadaan kritis. Kang Bae dan Wol Joo kembali ke alam nyata. Kang Bae memohon agar Wol Joo mengabulkan keinginan terakhir bu Andong, sebagai imbalan, Kang Bae bersedia bekerja untuk Wol Joo selama sebulan.

Di depan RS, Wol Joo bertemu Kepala Divisi Yeom yang sedang menjalankan tugasnya sebagai Dewa Maut. Kepala Divisi Yeom akan menjemput bu Andong. Arwah bu Andong ditahan oleh Wol Joo agar tidak dibawa kepala divisi Yeom. Kepala Divisi Yeom setuju asal bu Andong dikembalikan padanya esok pagi. Wol Joo minta bu Andong bercerita apapun yang dia tahu agar bisa mencari Dong Gil. Bu Andong hanya memiliki foto lama mereka bertiga. Manager Gwi menelpon polisi dunia akhirat untuk mencari tahu di mana Dong Gil, berbekal foto lama itu (dan semuanya dilakukan secara online, kekekeke….).

Mereka menemukan Dong Gil, tapi Dong Gil kehilangan ingatan akan masa lalunya. Untuk mengembalikan ingatan Dong Gil, mereka perlu masuk ke mimpi Dong Gil. Kang Bae ingat kalau dia masih punya sisa minuman dari yang dia curi. Mereka pun masuk ke dalam mimpi Dong Gil, tepatnya menuju ke kedalaman alam bawah sadar Dong Gil yang berbentuk seperti tangga spiral. Di ujung tangga spiral, mereka harus melewati jembatan yang ada di atas jurang tak berdasar. Di ujung jembatan, terdapat sebuah pintu besi. Pintu itu dilengkapi mekanisme yang memicu runtuhnya jembatan, kalau kode pembuka pintu salah dimasukkan. Mereka hanya punya 3 kesempatan (seperti mesin atm ya?). Satu lagi salah, mereka bertiga akan jatuh ke dalam jurang tanpa dasar. Kode terakhir yang dimasukkan adalah tanggal ulang tahun Eun Su, dan terbukalah pintu itu. Mereka masuk ke ingatan Dong Gil, waktu Dong Gil memeluk bayi Eun Su, dan hidup bahagia bersama Sun Hwa.

Dong Gil datang ke pemakaman bu Andong, dan meminta maaf pada Eun Su. Dong Gil memberikan foto dirinya, Sun Wha dan Andong pada Eun So.  Cerita pak Dong Gil menyadarkan Eun Su alasan kenapa bu Andong tidak pernah menggunakan make up lagi. Eun Su menangis di depan foto bu Andong, berterima kasih pada bu Andong yang membesarkan dia dengan sangat baik.

Bu Andong dijemput kepala divisi Yeom dan karena harapannya sudah terkabul, dia tidak menyesal meski harus pergi ke neraka. Kepala divisi Yeom membawa bu Andong menemui Sun Hwa yang selama ini menunggunya. Bu Andong berkali-kali meminta maaf, sementara Sun Hwa justru berterima kasih, karena bu Andong telah membesarkan Eun Su dengan sangat baik.

Saat malam tiba, Kang Bae dan Manager Gwi bermain basket bersama. Kang Bae menyatakan kalau dia menolak kontrak itu sebelumnya, karena dia sering gagal dalam kehidupannya. Dan harga yang harus dibayarkan untuk sebuah kegagalan itu terlalu mahal. Manager Gwi mengatakan kalau sekarang sudah saatnya Kang Bae menjalani hidup dengan penuh keyakinan. Apalagi, hari ini Kang Bae telah berhasil membantu bu Andong. Keberhasilan mereka adalah karena mereka bekerja bersama sebagai sebuah tim.

Kang Bae dan Wol Joo saling menanda tangan kontrak. Resmilah Kang Bae menjadi pekerja di kedai pop up Mystic. Mereka merayakan dengan minum berbotol-botol beer. Kang Bae bertanya kenapa harus 100ribu jiwa? Baginya itu terlalu berlebihan, terlalu banyak. Wol Joo menjawab itu karena dia telah membunuh 100ribu jiwa.

Kilas balik… Wol Joo (muda) berlutut di hadapan Dewi Penguasa Akhirat. Dewi Penguasa Akhirat memarahinya. Tindakan Wol Joo menyebabkan pohon Suci kehilangan kekeramatannya dan membawa nasib buruk. Negara tetangga menyerang Negara Wol Joo, dan memicu perang yang mengakibatkan korban 100ribu penduduk meninggal. Seratus ribu…

Wol Joo dihukum untuk kembali ke dunia manusia, menyelesaikan jiwa-jiwa yang mempunyai masalah, mendengarkan cerita mereka dan menenangkan mereka. Wol Joo menolak, dia membunuh diri karena membenci manusia. Kalau dosanya adalah membuat pohon Suci bernasib buruk, Wol Joo lebih memilih dicabik-cabik dan dimusnakan saja. Dewi Penguasa Akhirat berkata kalau dosa Wol Joo bukan hanya kepada pohon Suci, tetapi juga apa yang ada di gulungan kertas yang dia lemparkan kepada Wol Joo. Setelah membaca isi gulungan kertas itu, Wol Joo menerima hukuman yang dijatuhkan Dewi Penguasa Akhirat (kira-kira apa ya yang tertulis di gulungan kertas itu?)

Bersambung

Komentar aku: Yay! Solid banget episode dua ini. Lama satu episode itu sampai satu jam, yang cukup membuat alur cerita berjalan lancar dan menyenangkan. Twist humor tidak dibuat berlebihan menjadi slapstick, meski menggabungkan beberapa dunia plus memiliki kemampuan supranatural. Aktor-aktris pendukungnya juga bisa menjaga momentum ini dengan baik.

Kalau episode pertama bercerita tentang pelecehan seksual, episode kedua ini tentang kecemburuan. Episode ketiga nanti, tentang apa ya? Penasaran… Juga, isi surat tentang dosa-dosa Wol Joo itu apa sich? Sampai Wol Joo yang membenci manusia, rela melakukan hukumannya.

By the way, yang dilakukan Wol Joo (dewasa) itu sama kan dengan yang dilakukan saat dia muda? Menggunakan kekuatan mimpi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Bedanya, dulu dia berhubungan dengan orang-orang yang sudah meninggal untuk menenangkan, karenanya membantu mereka yang hidup. Sekarang, menyelesaikan masalah yang hidup dan (baru saja) meninggal, tetap lewat mimpi juga. Benang merahnya masih dapat dilihat dengan jelas. Kudo untuk penulis!

#MysticPopUpBar #YookSungJae #HwangJungEum #RecapDrama  

Mystic Pop-Up Bar Ep 1

Wol Joo (muda) berjalan dalam kondisi kotor dan lusuh ke arah pohon (yang di) Suci (kan) dan mengobrak-abrik meja persembahan. Setelahnya, ia berdiri di tepian bukit, menatap desa yang ia tinggalkan.

Beberapa minggu sebelumnya… Wol Joo memegang tangan seorang nenek yang tertidur resah. Wol Joo memberi tahu keluarga si nenek, kalau nenek sakit karena dihantui arwah suaminya. Almarhum suami nenek mengganggu karena dimakamkan di tempat yang salah dan minta agar dipindahkan ke tempat yang mendapat sinar Matahari. Di pasar, Wol Joo bertemu dengan mereka yang pernah dibantunya. Semua berterima kasih, pembacaan mimpi Wol Jo telah membantu menyelesaikan masalah mereka.

Di depan pohon Suci, Ratu berdoa memohon pertolongan untuk Putra Mahkota yang tak kunjung sembuh dari sakit. Dayang yang menemani membisikkan kalau ada yang bisa membantu Ratu.

Setibanya di rumah, ibu Wol Joo menegur Wol Joo, meminta agar Wol Joo tidak lagi membacakan mimpi penduduk desa. Wol Joo menolak berhenti, melakukan hal tersebut membuatnya merasa bahagia karena bisa menolong orang lain. Saat itu prajurit kerajaan datang dan mengawal Wol Joo ke istana.

Wol Joo datang mencoba membaca mimpi Putra Mahkota. Putra Mahkota sakit akibat diganggu arwah-arwah penasaran dari mereka yang meninggal di tangan anggota keluarga kerajaan. Wol Joo minta waktu beberapa hari untuk mendengarkan para arwah. Untuk bisa menenangkan mereka, Ratu diminta untuk memindahkan makam mereka ke tempat yang disinari Matahari dan mengadakan upacara pemakaman yang layak. Setelah beberapa hari, Wol Joo melaporkan kalau Putra Mahkota semakin membaik dan pamit pulang. Ratu memberikan harta sebagai tanda terima kasih.

Putra Mahkota memang sembuh secara fisik. Tetapi, sikapnya menjadi aneh, tidak menghiraukan orang-orang disekitarnya dan sering tersenyum sendiri. Dayang khawatir si pembaca mimpi mengguna-gunai Putra Mahkota.

Dayang pun pergi ke rumah Wol Joo. Di depan rumah Wol Joo, penduduk desa bergosip tentang harta yang Wol Joo terima. Mereka menganggap Wol Joo hanya penipu yang berkedok sebagai pembaca mimpi. Besar kemungkinan Wol Joo melayani Putra Mahkota dengan baik agar bisa dipilih menjadi selir. Gosip berkembang menjadi semakin parah. Ibu Wol Joo mendapat kilasan akan apa yang akan terjadi. Dia menyuruh Wol Joo untuk pergi ke rumah adiknya dan menyamar sebagai dirinya. Sebelum pergi, ibu Wol Joo memberikan binyeo sambil berpesan apabila Wol Joo membutuhkan kekuatan, peganglah binyeo dengan erat, maka dia akan mempertemukan Wol Joo dengan orang yang sangat dia perlukan. Saat Wol Joo sampai di ujung desa, dia melihat rumahnya terbakar. Wol Joo kembali ke rumahnya, mendapati ibunya sudah tiada. Wol Joo tahu apa yang terjadi.

Saat Wol Joo berada di ujung bukit, dia mengutuk seluruh penduduk desa, dan menggantung diri di pohon Suci. Binyeo Wol Joo jatuh, dan melepaskan api yang meretakkan tanah dan membakar pohon Suci. Api itu membebaskan jiwa-jiwa dan harapan yang ada di dalam pohon Suci. Salah satu jiwa itu terbang melayang tinggi…

Seoul 2020… Binyeo berada di gelung seorang wanita muda, Wol Joo (dewasa), yang meletakkan makanan di depan Mi Ran, dan menawarkan soju, gratis! Dari bahasa tubuh Mi Ran, Wo Joo tahu kalau Mi Ran dalam kesulitan. Wol Joo mulai mendesak agar Mi Ran bercerita, Tetapi, karena ketidak sabaran dan sikap yang terus mendesak, Mi Ran malah urung bercerita. Membuat Wol Joo kehilangan kesabaran dan membatalkan memberi gratis.

Saat Mi Ran pergi, Wol Joo mengeluh kesulitan menemukan orang yang membutuhkan bantuannya. Manager Gwi menyalahkan Wol Joo, kenapa memilih pohon Suci untuk mengakhiri hidupnya. Coba kalau pohon biasa yang dipilih, tentu mereka tidak repot berada di dunia manusia dan mengupas bawang Bombay sepedas itu! Wol Joo menggumam kalau saat itu dia sedang kehilangan akal sehatnya.

Karena tidak ada pengunjung, Wol Joo menyarankan membuat channel sosmed saja, yang bisa mendengarkan keluhan orang secara online. Manager Gwi yakin kalau Wol Joo melakukan itu maka yang terjadi bukan mendapat permintaan tolong, tapi akan banyak tumpukan komentar pedas yang Wol Joo terima. Di zaman ini, karena orang tidak bisa menyakiti orang lain secara langsung, mereka memilih meninggalkan komentar pedas (ow… touché). Jadi, tolong lupakan ide itu.

Manager Gwi khawatir karena sudah enam bulan ini Wol Joo tidak berhasil membuka dunia mimpi. Wol Joo membantah, selama berabad-abad dia sudah berhasil membantu orang. Mulai dari dinasti Joseon sampai Jendral MacArthur di Perang Dunia II. Wol Joo sudah berhasil menyelesaikan 99,990 kasus, tinggal sisa 10 lagi. Bukan salah Wol Joo kalau jaman sudah berubah. Orang sudah tidak berminat mengunjungi kedai pop up, apalagi ditambah persaingan dari jasa delivery (bwahahaha… kesaing sama ojol ya mbak?).

Supermarket Kapeul… Seorang ibu berdiri di depan meja customer service sambil menghitung jumlah telur yang tidak utuh. Petugas customer service, Kang Bae memegang tangan si ibu. Begitu tangan mereka bersentuhan, si ibu langsung secara jujur menceritakan isi hatinya. Hal yang sama terulang lagi saat pembeli kedua tidak sengaja menyentuh jari Kang Bae. Wanita muda itu pun mengaku kalau dia bukan perusak rumah tangga orang, hanya saja rasa cinta itu tidak bisa dihentikan (lmao…).

Mi Ran, yang sebelumnya enggan bercerita tentang masalahnya, ternyata berhasil meraih gelar pekerja terbaik selama 5 bulan berturut-turut. Kang Bae khawatir karena tidak seperti Mi Ran yang telah diangkat menjadi pegawai tetap, dia masih saja menjadi pegawai kontrak. Seung Ho menasihati Kang Bae agar bekerja lebih baik dan tidak terlalu banyak mengobrol dengan pelanggan. Saat Jin Dong hendak memberikan tepukan semangat, Han Kang Bae mengelak, yang membuat Seung Ho meyangka Jin Dong suka memukuli rekan sekerja. Jin Dong menerangkan itu karena Kang Bae tidak suka disentuh orang. Hal itu terbukti saat Kang Bae bertemu bekas teman SMA, Jin Tae. Kang Bae menolak bersalaman, tapi tetap saja tanpa sengaja mereka bersentuhan. Jin Tae langsung berbicara tanpa sensor. Jin Tae menghubungi Kang Bae hanya untuk menawarkan multi level marketing yang Jin Tae bina. Saat Jin Tae sadar, dia menjadi malu dan langsung pergi meninggalkan Kang Bae. Di halte bis, Kang Bae melihat Mi Ran, seorang pegawai teladan, mabuk dan memaki-maki langit.

Keesokan harinya, seorang pria pengunjung merebut jepitan daging dari tangan Mi Ran yang bertugas membagikan sample, dan menggunakannya untuk memasukkan daging langsung ke mulutnya. Saat Mi Ran mencoba mengambil kembali, pria tersebut marah dan memaki Mi Ran. Menghina Mi Ran dengan mengatakan kalau orang kelas bawah memang tidak punya sopan santun. Wol Joo yang sedang belanja di sana mendengar hinaan itu. Dia pun mengangkat, mencekik leher dan melempar pria itu, setelah menyebutnya sebagai pria tidak tahu diri yang hanya ingin makan gratis. Pria tersebut mengadu pada asmen Park. Mi Ran lari sambil menangis saat asmen Park menyuruhnya berlutut meminta maaf pada si pria. Kang Bae yang juga ada di sana, hanya bisa berdiri terdiam.

Saat pulang kerja, Kang Bae menyelamatkan Mi Ran yang menyebrang jalan dengan linglung dan hampir ditabrak mobil. Karena Mi Ran tidak mempunyai teman untuk bercerita, Kang Bae mengajak makan malam bersama. Mereka makan malam di kedai pop up ‘Mystic’. Tanpa sengaja, mereka bersentuhan.

Mi Ran pun bercerita tentang semua kesulitannya.

Mi Ran bersabar meski banyak menerima cacian dari pengunjung, tetapi dia tidak bisa menerima pelecehan seksual yang dilakukan asmen Park terhadapnya terus menerus. Asmen Park memanfaatkan posisinya untuk menekan Mi Ran. Semakin hari semakin sengsara Mi Ran dibuatnya. Mi Ran tidak ingin memperkarakan asmen Park. Dia hanya ingin asmen Park tahu bagaimana rasanya dilecehkan dan merasa tidak berdaya.

Wol Joo menyuruh Kang Bae pergi cuci muka, karena dia ingin bicara empat mata dengan Mi Ran. Saat mereka berdua, Mi Ran disuguhi ramuan special Wol Joo. Selesai minum, Mi Ran langsung mengantuk.

Dunia Mimpi Mi Ran…Mi Ran ada di dunia mimpi, dia berada di ruang CCTV yang menunjukkan semua pelecehan seksual yang dilakukan asmen Park. Mi Ran lumpuh terduduk tidak kuasa menahan malu dan marah. Mi Ran melihat ke salah satu monitor. Asmen Park hendak memeluk pinggangnya. Hanya saja, bukan dia yang ada di sana, tapi Wol Joo. Tangan Wol Joo menggengam telapak asmen Park dan meletakkannya ke pangganan panas, dua kali! Asmen Park melepaskan diri dan berlari. Ke mana pun dia berlari, Wol Joo selalu berada di depannya.

Kang Bae, yang selesai mencuci muka, menemukan Mi Ran tertidur. Saat Kang Bae menepuk Mi Ran, Kang Bae tersedot ke dalam mimpi Mi Ran. Kang Bae dan Wol Joo terkejut saat saling bertemu. Wol Joo heran bagaimana Kang Bae bisa ada di dunia mimpi Mi Ran, apa Kang Bae salah satu utusan Dewi Dunia Akhirat? Kang Bae juga heran, rasanya dia tadi ada di kedai pop-up, bukan di supermarket. Manager Gwi datang dan menjelaskan kalau mereka adalah malaikat, atau seperti itulah, yang bertugas menyelesaikan masalah manusia lewat mimpi. Manager Gwi membuka aura Kang Bae untuk mengetahui bagaimana dia bisa ada di sana. Dari situ terlihat kalau penglihatan spiritual Kang Bae tidak terkunci sejak lahir. Dia memiliki kemampuan yang tidak biasa.

Asmen Park tersadar, berlari ke luar. Wol Joo melemparkan binyeo, dan menjelaskan kesalahan asmen Park yang terkapar. Saat asmen Park berlari lagi, dia ditangkap Manager Gwi dan dilempar jauh-jauh. Mi Ran  yang melihat semua ini merasa panic dan bersalah, dan mengunci ruang CCTV. Mi Ran tidak mengizinkan siapa pun masuk. Di balik pintu, Kang Bae minta agar Mi Ran tidak malu dan merasa bersalah karena dia adalah korban. Wol Joo pun minta Mi Ran berani bangkit, dan Mi Ran tetap bisa menggigit dan mencakar kalau perlu, meski tidak punya taring, untuk membela dirinya sendiri. Dukungan mereka membuat Mi Ran membuka pintu dan mau berusaha bangkit.

Keesokan harinya, Mi Ran melaporan tindak pelecehan itu ke manajemen supermarket. Manager supermarket berterima kasih karena Mi Ran berani melaporkan dan mendukung kalau mau memperkarakan ke pengadilan. Mi Ran bersyukur dimengerti dengan baik. Saat Mi Ran kembali bertugas, pria yang sebelumnya memaki, datang dan meminta maaf. Pria itu semalam bermimpi didatangi Manager Gwi dan dijejalkan daging bakar ke mulutnya. Manager Gwi mengancam, kalau dia membuat keributan lagi, maka manager Gwi akan mengirim wanita yang akan membuat hidup pria itu seperti di neraka.

Mi Ran berterima kasih pada Kang Bae telah mengantarkannya pulang setelah mabuk tadi malam. Mi Ran seperti tidak ingat mimpinya. Kang Bae yang bingung, karena ingat apa yang terjadi di mimpi Mi Ran, pergi ke parkiran dan menemukan binyeo Wol Joo.

Kepala Divisi Yeom datang berkunjung ke kedai pop up ‘Mystic’ untuk menyampaikan pesan dari Dewi Dunia Akhirat. Kalau Wol Joo tidak berhasil memenuhi quota 100ribu sebulan lagi maka Wol Joo akan dikirim ke neraka. Dewi Dunia Akhirat sudah capai mendapat komplain bahwa Wol Joo hanya menghabiskan waktu di dunia manusia dengan minum arak dan makan.

Saat Wol Joo akan pergi ke jembatan untuk mencari manusia-manusia yang bermasalah, ia ingat kalau Kang Bae bisa membuat orang berbicara jujur. Kang Bae pun yakin kalau dia tidak berhalusinasi dan ingat kalau Wol Joo bilang bisa membantu masalahnya. Kedua saling mencari dan bertemu (di jembatan penyebrangan), mereka setuju bekerja sama. Kang Bae membantu Wo Jool dengan kemampuannya dan Wo Jool akan berusaha menghilangkan masalah Kang Bae. Kang Bae mengembalikan binyeo ke Wol Joo. Saat itu, perkataan ibu tergiang di telinga Wol Joo.

Mulailah petualangan Wol Joo & Kang Bae

Bersambung

Komentar aku: Yay!!!! Setelah menunggu sebulan lebih akhirnya ada lagi drama Korea yang sepertinya menarik untuk ditonton. Mudah-mudahan kali ini tidak mengecewakan. Terakhir kali aku menonton K-drama itu ‘Nobody Knows’ karena ada Ryu Deok Hwan (God’s Quiz) dan Kim Seo Hyung (Sky Castle),  ceritanya menarik dan cukup masuk akal. Lagi-lagi aku tertarik dengan drama supranatural dan komedi… Dan lagi-lagi sixth sense/six souls

Yes, untuk pemeran utama, Wol Joo, yang badass, hot temperament, tapi berhati baik. Dua kali yes untuk Choi Won Young yang juga main di Sky Castle. Tiga kali yes untuk Yook Sung Jae, sebagai ex-idol BTOB, permainannya tidak mengecewakan. Empat kali yes untuk ceritanya yang ‘witty’ dan relateable banget sama dunia sekarang.

Kang Bae benar, sixth sense itu mempunyai dua sisi, bisa dianggap sebagai gift/hadiah, tetapi bisa juga menjadi curse/kutukan. Tidak semua orang bahagia mempunyai sixth sense. Ucapan manager Gwi tentang komen pedas netizen juga mengena banget cuy, ouch… tepat sasaran!

#MysticPopUpBar #YookSungJae #HwangJungEum #RecapDrama  

Mystic Pop-Up Bar

Network: JTBC, Netflix

Rating: R-15+

Genre: Supranatural, Keluarga, Mimpi, Komedi

Mulai tayang: 20 Mei 2020

Durasi per episode: 1 jam 8 menit

Status: drama selesai tayang sebanyak 12 episode

Drama Korea, Mystic Pop-Up Bar, mulai tayang di 20 Mei 2020. Didasari dari webtoon ‘Twin Tops Bar’ karangan Bae Hye Soo.

Bercerita tentang seorang shaman muda yang berusaha membayar kesalahan yang dilakukan saat dia hidup di jaman Joseon. Dia diberi waktu 500 tahun untuk bisa membebaskan 100.000 jiwa.

Di tahun 2020, untuk mencari sisa 10 jiwa lagi, dia bekerja sama dengan seorang pemuda yang memiliki kemampuan supranatural dengan membuka kedai dibantu oleh managernya.

Dari kiri ke kanan

Hwang Jung Eum (b. Januari 1985) – Wol Joo

Adalah ex-anggota girl group Sugar. Dia meninggalkan group untuk bersolo karir. Hwang Jung Eum mulai meraih ketenaran saat bermain di drama sitcom ‘High Kick Through the Roof’. Hwang Jung Eum menikah dengan Lee Young Don dan mempunyai seorang putra.

Choi Won Young (b. Januari 1976) – Chief Gwi

Memulai debut acting di tahun 2002 di film ‘Sex is Zero’. Choi Won Young telah bermain di banyak film, drama dan teater dan meraih beberapa penghargaan. Penghargaan terakhir adalah ‘Excellence Award, Actor in a Miniseries’ sekaligus ‘Netizen Award, Actor’ dari KBS network untuk perannya di ‘Doctor Prisoner’.

Park Si Eun (b. Agustus 2001) – Wol Joo muda

Memulai karir berakting dengan perannya di Star Junior Show Bungeoppang di tahun 2012, dan merambah ke drama dan film sejak 2014. Penghargaan yang diterima antara lain untuk aktris muda terbaik dari SBS network untuk perannya di drama ‘Still 17’ di tahun 2018.

Yook Sung Jae (b. Mei 1995) – Han Kang Bae

Adalah anggota boy band BTOB. Dia mengembangkan karirnya sebagai actor dan meraih ketenaran saat bermain di ‘Who Are You: School 2015’. Yook Sung Jae meraih beberapa penghargaan, yang terakhir adalah SNS Star Award dari SBS Entertainment karena perannya di variety show ‘Master in the House’ di tahun 2019.

Legend of Awakening Ep. 2

Si Tu Chong tiba di pesta bandit dan melihat Qin Sang bertarung melawan Dewa Bandit. Dia mengambil lencana di badan kepala bandit. Qin Sang melihat kedatangan Si Tu Chong dan meloncat melawan Si Tu Chong. Xi Fan mengenali jurus yang dipakai Qin Sang, dan membantu Qin Sang melawan Si Tu Chong. Su Tang pun bergegas hendak membantu.

Dewa Bandit/Lu Ping berlari menjauhi arena. Dia bingung bagaimana pesta bandit ini bisa mengundang kehadiran sekte Shanhai. Tangannya gemetar saat mengingat betapa kejamnya siksaan yang diberikan saat Lu Ping ada di penjara istana Shanhai. Dan tahu kalau Xi Fan dan Su Tang tidak akan mampu melawan Si Tu Chong. Lu Ping kembali ke arena, merebut lencana Shanhai dan pedang Kuinyin. Pedang Kuinyin Lu Ping lemparkan kembali ke Qin Sang, lalu ia berlari dan dikejar oleh Si Tu Chong dan Qin Sang. Xi Fan hendak mengejar mereka juga, tapi dilarang oleh Su Tang. Tugas mereka adalah menyelamatkan Madam Jin.

Lu Ping duduk di atas pohon sambil memutar-mutar lencana Shanhai. Ia berkata pada Si Tu Chong, meski teknik silatnya bagus, tapi Si Tu Chong tidak terlalu pintar, karena seharusnya Si Tu Chong tahu apa konsekwensi anggota sekte Shanhai kalau mereka kehilanganan lencananya. Lu Ping dan Si Tu Chong bertempur. Lu Ping mengaktifkan keenam tenaga dalamnya. Si Tu Chong menyebutnya monster, Karena tidak pernah ada orang yang berhasil mengaktifkan enam tenaga dalam. Lu Ping membatin, monster ini diciptakan oleh sekte Shanhai. Dia kembali teringat saat darahnya diambil secara paksa di penjara istana Shanhai.

Si Tu Chong melepas topeng perak Lu Ping, dan mengenali Lu Ping sebagai pelarian yang selama tiga tahun ini dicari Master Shanhai. Sang Pembangkit yang mampu membangkitkan enam tenaga dalam. Lu Ping memukul Si Tu dengan keras dan berkata meski dia dicari oleh Master, dia tidak akan pernah bersedia kembali ke Shanhai.

Qin Sang berhasil menyusul mereka dan bertarung dengan Lu Ping, serta melukai lengannya. Di saat seperti itu, rantai segel jiwa mulai menguasai Lu Ping. Dia mulai melemah. Kondisi Lu Ping dimanfaatkan Qin Sang untuk menyerang dan mengakibatkan bekas luka bakar berbentuk segel di tangan Lu Ping terlihat oleh Qin Sang. Menyadari hal itu, Lu Ping menotok Qin Sang dan mengikat Qin Sang yang pingsan di pohon. Segel Jiwa Lu Ping bertambah kuat.

Xi Fan berhasil menemukan Madam Jin. Madan Jin mengira yang datang Guru You Dao dan memeluk Xi Fan. Madam Jin mengeluh karena bukan Guru You Dao yang menyelamatkannya. Shi Tou dan teman-teman masuk, menyatakan kalau keadaan sudah aman. Bandit sudah ditaklukan, tapi bagaimana dengan harta yang mereka rampas? Xi Fan yakin harta itu pasti akan diambil Dewa Bandit. Dia pun bergegas masuk ke ruang harta.

Benar saja, di ruang harta Dewa Bandit sedang membuka peti harta. Saat dia mau bertarung dengan Xi Fan, rantai segel jiwa menguasai dirinya. Untung Su Tang datang dan memukul Xi Fan dari belakang, rahasia jati diri Dewa Bandit pun aman. Lu Ping mengingatkan agar Su Tang bersikap lebih lembut pada Xi Fan, kalau dia sampai kenapa-kenapa yang repot mereka juga.

Di malam hari, Xi Fan dibangunkan untuk makan malam. Rekan-rekan seperguruan menggoda dan menertawakan Xi Fan. Xi Fan dipermainkan oleh Dewa Bandit, mukanya digambari kura-kura. Xi Fan merasa malu, kesal dan marah, dan melampiaskan kekesalannya pada Lu Ping. Lu Ping yang sedang asyik menghabiskan ayam panggang dengan muka polosnya menawari ayam panggang ke Xi Fan. Xi Fan menegur Lu Ping yang dianggap tidak bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Lu Ping malah semakin menggoda Xi Fan. Xi Fan tersinggung dan meninggalkan mereka.

Di dalam hutan, Qin Sang yang masih tergantung di pohon memaki-maki Dewa Bandit dan memanggil Zi Yang. Dia terus berteriak minta tolong dan ditemukan oleh para bandit. Kepala Bandit hendak membalas dendam dengan mempermalukan Qin Sang. Tidak jauh dari sana, Wei Tiang Qi, putra gubernur Wei Zhong, mencari kepala prajurit Wei Ming, orang kepercayaan gubernur Wei, dan mendengar teriakan Qin Sang. Ia pun berlari ke arah Qin Sang. Wei Tian Qi memukul para bandit yang mengitari Qin Sang, tetapi para bandit tidak kalah licik dan memasukkan Wei Tian Qi ke dalam karung dan memukulinya. Sebuah panah bersarang di dada kepala bandit. Zi Yang datang dan menurunkan Qin Sang, sementara Wei Ming dan beberapa prajurit mengalahkan bandit dan membebaskan Wei Tian Qi. Merasa malu, Wei Tian Qi memarahi prajurit-prajuritnya. Wei Tian Qi menawarkan Qin Sang untuk menenangkan diri di rumahnya di Negara bagian Chan. Begitu menyadari kalau Wei Tian Qi adalah putra gubernur Wei Zhong, Qin Sang menerima tawaran itu. Qin Sang menolak pulang ke ibukota sebelum dia berhasil menangkap Dewa Bandit yang masih juga disangka sebagai anggota sekte Shanhai.

Su Tang menegur Lu Ping yang dianggap terlalu kasar pada Xi Fan. Lu Ping malah menggoda Su Tang sedang jatuh cinta pada Xi Fan. Lu Ping senang kalau memang begitu adanya, artinya kalau dia sudah tidak ada, Su Tang ada yang menjaga. Su Tang bersikeras kalau sampai kapan pun, dia akan mengikuti Lu Ping. Lu Ping pamit ke kamarnya. Dari kejauhan, Xi Fan bertanya-tanya apakah mungkin Dewa Bandit itu Lu Ping. Tapi, dengan tabiat seperti itu, pastinya Lu Ping bukan Dewa Bandit. Semua tingkah laku Lu Ping hanyalah kedok untuk menyembunyikan lukanya. Begitu berada di kamar, Lu Ping terjatuh. Lu Ping mengeluarkan lencana Shanhai yang dia rebut dari Si Tu Chong.

Kilas balik… Lu Ping berusaha membangunkan ibu pengasuh yang terkapar di pinggiran desa yang sedang dihancurkan. Api membara di sana sini. Si Tu Xing dan Si Tu Luo datang menghampiri dan mengajak Lu Ping pergi bersama mereka. Meski Lu Ping menolak, dia diambil paksa oleh Si Tu Luo. Lu Ping bergetar kesakitan. Saat terbangun, dilihatnya Su Tang sedang mengobati lengannya yang terluka. Lu Ping menyadari kalau sekarang makin sulit mengelabui Su Tang. Su Tang menawarkan permen Osmanthus. Saat Su Tang masuk, Lu Ping bermimpi buruk dan seluruh badannya gemetar.

Lu Ping menyesalkan kenapa Su Tang mengikutinya saat mereka keluar dari penjara. Kalau saja Su Tang memisahkan diri, hidup Su Tang tidak akan seruwet sekarang. Su Tang menolak tanggapan itu. Selama ini orang menganggap Su Tang selalu membela dan menjaga Lu Ping. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Sejak di penjara, Lu Ping selalu membela dan menjaga Su Tang. Saat Dewa Bandit datang menyelamatkan Lu Ping, Lu Ping memohon agar adiknya, Su Tang juga ikut dibebaskan. Kalau waktu itu Lu Ping tidak minta, Su Tang masih ada di penjara sampai sekarang. Lu Ping bukan monster seperti yang dikatakan Si Tu Chong, Lu Ping adalah kakaknya.

Guru You Dao mencuri dengar perkataan mereka dan tertangkap basah. Guru You Dao menuduh mereka mencari masalah dengan sekte Shanhai. Kalau tahu Lu Ping dan Su Tang ada hubungannya dengan sekte Shanhai, Guru You Dao tidak akan menyelamatkan mereka, bisa hancur perguruan Zhaifeng nantinya. Guru You Dao pun mengusir Lu Ping dan Su Tang. Su Tang melempar Guru You Dao dengan tael emas. Wah, benar uang, berat lagi… Guru You Dao langsung memaafkan mereka. Mereka disuruh cepat-cepat membayar sisa hutang dan berhenti membuat keributan.

Su Tang mengeluhkan sikap Guru You Dao yang selalu meributkan masalah hutang mereka. Lu Ping mengingatkan kalau mereka hanya akan berada di Zhaifeng sampai mereka menemukan penyelamat mereka, Dewa Bandit. Dewa Bandit bahkan memberikan tenaga dalamnya agar segel jiwa Lu Ping sedikit terbuka dan bisa melarikan diri. Sayangnya, Dewa Bandit dilukai oleh Si Tu Xing, sementara mereka berhasil melarikan diri. Tiga tahun ini, Lu Ping berpura-pura menjadi Dewa Bandit untuk memancing Dewa Bandit yang asli keluar dari persembunyiannya. Dari penyelidikan Lu Ping ada seseorang yang selalu dipuji karena pengetahuan mengenai bela diri sangat tinggi, tetapi kehilangan kemampuan silatnya, berada di Utara dan satu-satunya orang yang cocok dengan deskripsi itu adalah Ge Cheng. Lu Ping percaya Ge Cheng tahu bagaimana cara membuka segel jiwa. Sekali segel terbuka, Lu Ping akan terbebas.

Mereka kehilangan kesempatan bertemu Ge Cheng di kota Chen Qiao. Satu-satunya cara adalah menemukan gadis yang bertarung dengannya. Lu Ping ingat logo di pedang si gadis serupa dengan logo di kereta Ge Cheng. Lalu, gadis itu di mana sekarang? Lu Ping meninggalkannya di hutan, mungkin juga masih tergantung di sana. Mereka pun berlari ke dalam hutan tempat Qin Sang diikat. Talinya masih ada, tetapi gadisnya sudah menghilang. Si gadis pasti tidak pergi terlalu jauh, dia perlu waktu untuk menenangkan diri. Mungkin juga lencana Shanhai bisa dipakai untuk memancing gadis itu muncul lagi. Xi Fan sepertinya tahu siapa gadis itu. Su Tang diminta Lu Ping mendekati Xi Fan dan mencari tahu sebisa mungkin. Di pagi hari Su Tang mengagetkan Xi Fan dengan menawarkan jadi rekan berlatih. Ha?

Wei Tian Qi sampai di gubernuran dan disambut dengan (terlalu) hangat oleh ayahnya, gubernur Wei. Gubernur Wei kaget saat melihat Qin Sang.

Xi Fan berlatih pedang bersama Su Tang. Gerakan Xi Fan terlihat gamang, Xi Fan mengelak dan mengatakan kalau dia tidak ahli menggunakan pedang, juga kenapa tiba-tiba Su Tang rajin latihan pedang? Su Tang menerangkan kalau dia sedang mencoba gerakan Ru Yu berdasarkan ingatannya. Lalu mengalihkan pembicaraan ke Qin Sang. Gadis yang berpura-pura menjadi Madam Jin. Lalu sekarang menghilang. Apa Xi Fan tidak ingin tahu siapa gadis itu sebenarnya? Xi Fan mengenali jurus yang dipakai adalah jurus milik keluarga Qin, Permainan Pedang Pita Matahari. Meski gadis itu masih muda, tapi permainannya cukup baik, pastinya gadis muda itu putri keluarga Qin, Qin Sang. Su Tang tahu mereka akan kesulitan kalau harus bersinggungan dengan keluarga Qin.

Qin Sang menceritakan insiden yang dia alami. Qin Sang menuduh gubernur Wei tidak menyembunyikan informasi kalau masih ada pembunuh dari Shanhai yang berkeliaran di Negara bagian Chan. Pembunuh itu bertopeng dan jago silat. Dia pasti dikirim oleh sekte Shanhai untuk memata-matai sekte Feng Lin. Sebelum Qin Sang menemukan pembunuh itu, dia akan tinggal di gubernuran.

Kilas balik ke tiga tahun yang lalu… Lu Ping mengikatkan rantai di tangannya dan menenggelamkan diri. Itu dilakukan agar sebagian tenaga dalamnya bisa lepas dari segel jiwa. Semakin Lu Ping kesulitan bernafas dan kesakitan, semakin banyak tenaga dalam yang keluar dari segel jiwa. Untuk itu Lu Ping akan mencoba menyelam lebih lama setiap harinya. Su Tang khawatir bukan tenaga dalam yang keluar, tetapi jiwa Lu Ping yang akan hilang. Lu Ping memang mendapatkan sebagian tenaga dalamnya, di saat yang sama, dia juga kehilangan kesadarannya. Xi Fan yang berada di sana, terjun ke danau dan menyelamatkan Lu Ping.

Xi Fan marah karena Lu Ping nyaris kehilangan nyawanya. Bagi Xi Fan tindakan Lu Ping sudah sangat keterlaluan. Xi Fan melihat bayangannya di tepi kolam, tangannya bergetar. Dia pun teringat saat Si Tu Xing dan Si Tu Luo membantai keluarga dan teman-temannya. Saat nyawa Xi Fan terancam, teman dekatnya mengorbankan diri agar Xi Fan bisa selamat. Sejak saat itu Xi Fan bersumpah untuk tidak pernah membiarkan ada lagi temannya yang kehilangan nyawa.

Guru You Dao menanyakan kenapa Xi Fan menakut-nakuti ikan yang ada di danaunya? Xi Fan menanyakan latar belakang Lu Ping. Guru You Dao menjelaskan dia pun tidak tahu latar belakang Lu Ping. Lu Ping dan Su Tang hanyalah anak-anak jalanan yang tersesat. Karena kasihan, Guru You Dao menyelamatkan mereka. Siapa sangka Guru Gao harus menghabiskan banyak uang untuk membesarkan mereka? Saat Xi Fan menyalahkan diri sendiri karena ulah Lu Ping yang tidak bisa diatur, Guru You Dao menjadi marah.

Xi Fan ditarik dan dinasehati untuk bertindak lebih luwes, jangan terlalu kaku. Xi Fan sudah beberapa lama dididik di perguruan Zhaifeng, dan ilmunya berkembang pesat. Bahkan mempelajari tenaga dalam Suara yang bukan merupakan tenaga dalam pertama/bawaan Xi Fan. Tapi tetap saja kepribadian Xi Fan tidak berubah, semua masalah dia tanggung di pundaknya. Xi Fan menjelaskan kalau dia tidak bisa santai sampai dia bisa membayar hutang nyawa itu. Guru You Dao merebut badge yang ada di pinggang Xi Fan dan mengingatkan kalau Xi Fan, pemilik badge Zhaifeng adalah tempat bersandar seluruh perguruan, termasuk dirinya di masa depan nanti.

Guru You Dao perlu pergi ke ibukota Kaifeng. Seluruh perguruan Zhaifeng ada di tangan Xi Fan. Usahakan agar teman-teman, terutama Lu Ping, menjaga nama baik perguruan. Xi Fan menggoda gurunya karena akan bertemu dengan teman wanita istimewa. Teman wanita itu punya temperamen tinggi, karena setiap kali pulang dari rumah teman wanita ini, Guru You Dao pasti dalam keadaan babak belur… Lalu, kenapa Guru You Dao masih juga datang berkunjung? Guru You Dao menjawab, ia pun punya dosa yang musti ditebus.

Qin Sang dan Zi Yang sudah beberapa kali mengelilingi kota Chan Qiao, tetapi tidak juga menemukan Dewa Bandit. Zi Yang menyarankan untuk pulang saja. Wei Tian Qi yang mendengarkan pembicaraan itu menyarankan untuk meminta bantuan pembunuh bayaran yang ahli menemukan orang. Untuk itu Wei Tian Qi telah memasang poster di seluruh ibukota, dari Timur sampai Barat, menawarkan imbalan bagi mereka yang bisa menemukan Dewa Bandit.

Qin Sang menganggap ide itu ide bodoh. Dari kamarnya, Qin Sang mendengar seorang mencoba menyelinap masuk. Qin Sang meniup semua lilin yang ada di kamarnya, dan menangkap si penyusup.

Bersambung…

Komentar aku: Huah! Aku sempat kesal juga melihat kelakuan Lu Ping. Xi Fan itu suabaar sekali, ya. Dua-duanya menutupi trauma mereka dengan sikap yang bertolak belakang. Lu Ping jadi bersikap berandalan (tapi masih perhatian, kalau tidak, saat Xi Fan dan Su Tang terdesak oleh Si Tu Chong, pastinya ditinggal lari saja). Xi Fan jadi bersikap over protective. Huhuhu…

Yang agak normal tinggal Su Tang (masih takjub kalau ingat ini gadis baru berusia 13 tahun).

Legend of Awakening

Episode 2

Legend of Awakening Ep. 1

Setapak demi setapak, telapak kaki berdarah dari sepasang kaki yang menyeret rantai gelang, tampak berjalan terseok-seok di lembah gunung bersalju. Laki-laki itu Menggendong seorang perempuan muda di punggungnya. Pemuda itu bernama Lu Ping, dan dia menggendong adiknya, Su Tang. Lu Ping terjatuh kelelahan. Lu Ping bertanya pada Su Tang kalau dia baik-baik saja? Su Tang merasa lapar. Lu Ping mengambil bubuk salju dan memberinya pada Su Tang, berharap adiknya membayangkan butiran salju itu permen dingin, agar mudah ditelan.

Setelah beberapa saat berbaring, Lu Ping kembali menggedong Su Tang. Su Tang bertanya ke mana mereka akan pergi? Lu Ping menjawab ke mana saja yang memungkinkan kita bertahan hidup…

Narasi Kerajaan-kerajaan sedang berselisih dan keadaan menjadi kacau balau. Zhai Wei dari kerajaan Dan melakukan pemberontakan dan mendirikan  Kerajaan Shuo. Kerajaan Shuo berada di seberang kerajaan Dan yang mundur ke arah Utara. Dalam keadaan yang tidak pasti ini, para prajurit memperdalam ilmu bela diri yang berdasar pada penguasaan tenaga dalam.   

Dasar tenaga dalam terdiri dari ‘Enam Tenaga Dalam’ utama, yakni: Visi, Suara, Energi, Pivot, Kekuatan dan Mental. Visi, berdasar pada indra penglihatan. Mereka yang menguasai visi bisa melihat obyek dengan tingkat akurasi dan kedalaman yang tinggi. Seperti saat menggulung sutra dari kempompong ulat, tidak ada satu utas sutra pun yang tidak diuraikan. Suara, berdasar pada indra pendengaran. Mereka yang menguasainya mampu mendeteksi asal suara meski berada ribuan meter jauhnya. Energi, berdasar pada keseimbangan energi, mereka yang menguasainya mampu bergerak seringan udara dan secepat anak panah. Pivot, berdasar pada indra penciuman dan indra perasa yang bekerja jauh lebih baik, sehingga bisa mengenali jenis-jenis tanaman obat dan racun. Kekuatan, berkonsentrasi pada kekuatan fisik. Mereka yang memilikinya mampu mengeser gunung, memindahkan daratan dan sungai. Mereka tidak terhentikan.  Mental, berkonsentrasi pada kemampuan menguasai pikiran. Mereka yang menguasainya bisa mengontrol pikiran orang lain. Mental adalah tenaga dalam yang paling misterius dari seluruh tenaga dalam yang ada. Orang yang menjadi korban tenaga dalam mental akan kehilangan akal sehat. Meski sudah berlatih seumur hidup, tetap sulit bagi ahli bela diri untuk menguasai keenam tenaga dalam ini.

Legenda menceritakan bahwa ada yang mereka yang lahir dengan penggabungan keenam tenaga inti. Meski demikian, mereka sangatlah sulit ditemukan. Mereka disebut ‘Sang Pembangkit

Di perguruan Beidou, yang berada di puncak gunung, Jendral Qin Qi berlatih bersama murid-murid Beidou. Jendral Qin didamping pejabat Negara Wen Ge Cheng. Pejabat Ge Cheng memberitahu Jendral tenaga dalam yang dikombinasikan dalam jurus Beidou yang dipakai, agar bisa mencari titik lemah dari jurus tersebut.  Berbekal pengetahuan itu, Jendral Qin mulai mengalahkan satu persatu murid Beidou sampai Master Li Yao Tian mengambil pedang kayu dari tangan Jendral. Latihan pun selesai.

Master Yao Tian mengundang Jendral Qin dan pejabat Ge Cheng beristirahat dan minum teh. Jendral Qin mengagumi jurus yang dimiliki perguruan Beidou yang terkenal. Master Yao Tian memuji jurus Permainan Pedang Pita Matahari yang diperagakan Jendral Qin. Master Yao Tian tidak lupa memuji pejabat Ge Cheng yang menggunakan Pivot untuk menganalisa jurus Beidou untuk mengetahui kombinasi tenaga dalam yang dipakai.

Jendral Qin menyampaikan maksud kedatangannya. Kaisar mengetahui kalau banyak pendekar dunia persilatan berasal dari Beidou. Di masa sulit ini, Kaisar meminta agar Master Yao Tian mau bekerja kembali di Kekaisaran dan melatih para prajurit. Tentunya, Kaisar tidak akan lupa memberikan balasan dan gelar yang setimpal.

Dalam perjalanan kembali ke ibukota, pejabat Ge Cheng meminta maaf pada Jendral Qin, karena usulannya merekrut perguruan Beidou gagal. Pejabat Ge Cheng memberikan saran untuk mencari tenaga-tenaga berbakat di perguruan-perguruan lainnya di Negara Shuo. Jendral Qin menolak, karena dia tidak sekedar mencari lulusan perguruan silat, tetapi dia ingin mencari mereka yang memiliki kemampuan luar biasa.

Jendral Qin mendengar suara dari balik rerumputan dan langsung menembakkan anak panah ke tempat suara berasal. Mata seorang gadis berpakaian prajurit berpendar biru. Dengan menggunakan visi, gadis itu secara presisi membelah dua anak panah yang ditembakkan ke arahnya. Nama gadis itu Qin Sang.

Penasihat Ge Cheng memberi salam kepada Qin Sang dan memuji kemampuan visinya yang berkembang pesat dalam beberapa hari ini. Qin Sang merajuk kepada kakaknya, karena anak panah tersebut bisa saja melukai dayangnya, Zi Yang. Jendral Qin menegur Zi Yang karena dianggap lalai menjalankan pekerjaannya menjaga Qin Sang. Hukumannya adalah penggal kepala. Mendengar itu, Zi Yang berlutut meminta maaf. Qin Sang menarik Zi Yang berdiri sambil berkata kalau itu semua bukan salah Zi Yang.

Qin Sang memeluk lengan kakaknya dan berkata kalau semua ini dia lakukan agar bisa mempelajari gerak-gerik kakaknya. Siapa tahu apa yang dia pelajari bisa untuk membantu kakaknya di kemudian hari, sambil meminta dukungan pejabat Ge Cheng. Pejabat Ge Cheng tidak bisa berkata lain kecuali mengiyakan.

Asisten Jendral Wen Rui meyela percakapan itu karena dia mendapat pesan dari daerah Chan yang diserang secara misterius dan berharap Jendral Qin bisa berkunjung untuk menyelesaikan masalah itu. Jendral Qin bertanya siapa yang berani berbuat ulah? Asisten Jendral Wen Rui menjawab yang menyerang adalah sekte Shanhai. Jendral Qin menyetujui mampir di kota Chenqiao. Qing Sang mendesak ikut serta. Berangkatlah pasukan Long Jie.

Dari ujung jembatan, terdengar yel-yel kegagahan Zhaifeng akan mengalahkan kegagahan Beidou yang diteriakkan oleh murid-murid perguruan Zhaifeng yang berlatih berlari sambil membawa beban keranjang batu. Xi Fan, murid pertama perguruan Zhaifeng tiba-tiba berbalik dan mendatangi Lu Ping yang terduduk dan menolak melanjutkan lari. Lu Ping mengeluh karena bagi Xi Fan yang memiliki Kekuatan, mudah untuk lari sejauh 5 kilometer. Tapi dia yang tidak punya tenaga dalam apa pun, latihan itu berat sekali. Shi Tou membandingkan Lu Ping dengan Su Tang. Su Tang gadis mungil tapi tidak mengeluh. Xi Fan menimpali, kalau semua murid seperti Lu Ping, bagaimana mereka bisa mengalahkan Beidou?

Su Tang berdiri membela kakaknya dan menantang siapa pun yang berani mengganggu Lu Ping. Lu Ping berpura-pura mengeluh kesakitan, pinggangnya keseleo dan minta izin tidak meneruskan berlari. Xi Fan sudah hafal dengan semua alasan Lu Ping, menolak memberi izin dan memarahinya serta menyuruh untuk terus berlari.

Jendral Qin dan pasukannya telah sampai kota Chen Qiao. Pasukan Long Jie memblokir jalan utama dan murid Zhaifeng berhenti berlatih dan berdiri di depan jalan yang ditutup. Saat itu pejabat Gen Cheng mengintip dari balik kereta. Lu Ping melihat wajah Ge Cheng dan teringat saat dia disiksa di penjara istana Shanhai. Sosok berjubah hitam bertopeng perak menolong dirinya. Lu Ping berbisik pada Su Tang kalau itu yang bernama Wen Ge Cheng. Su Tang bertanya seberapa yakin Lu Ping kalau dia yang menyelamatkan mereka? Lu Ping yakin karena dia telah mencari tahu. Lu Ping menyuruh Su Tang mengalihkan perhatian Xi Fan, karena dia akan menemui Ge Cheng.

Melihat jalan diblokir, Xi Fan memutuskan berputar arah agar bisa meneruskan latihan mereka. Saat melihat Su Tang berdiri sendiri, Xi Fan menyadari kalau Lu Ping menghilang. Su Tang berusaha menghalangi, tetapi gagal. Dengan menggunakan Suara, Lu Ping berhasil mengetahui posisi Lu Ping saat itu.

Pejabat Chen dan Gubernur Wei, menyambut Jendral Qin dan pasukannya serta menyilahkan masuk untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Lu Ping melihat Ge Cheng masuk gubernuran dan memutuskan untuk ikut masuk. Asisten Jendra Wen Rui menghalangi Lu Ping.

Gubernur Wei memberikan lencana Shanhai pada Jendral Qin. Siapa pun yang menerima lencana itu maka sekte atau keluarga penerima akan dimusnahkan. Sekte Feng Ling yang berada di dekat Chan mengirim pesan kalau mereka menerima lencana yang sama. Pejabat daerah Chan mengatakan kalau itu bukan ancaman biasa, karenanya mereka memberanikan diri meminta bantuan Jendral Qin. Pejabat Ge Cheng memberikan pendapat kalau serangan ini hanyalah persaingan antar sekte saja. Tidaklah bijaksana apabila Jendral Qin mengurusi insiden ini sementara Konvensi Pertarungan Tenaga Dalam akan segera dimulai. Qin Sang menyela kalau sudahlah menjadi tugas pejabat pemerintahan untuk memberikan bantuan, apalagi kalau sampai ada korban jiwa.

Ge Cheng menerangkan kalau dunia persilatan mempunyai aturannya sendiri. Kalau Jendral Qin mencampuri sengketa antar sekte, maka intervensi itu akan merusak keseimbangan di dunia persilatan. Juga, Gubernur Wei cukup terpandang dan memiliki prajurit yang berkemampuan tinggi. Surat itu ditujukan kepada Gubernur Wei, sudah sepantasnya Gubernur Wei menyelesaikan sengketa ini.


Mendengar teguran dari Ge Cheng, pejabat Chen dan Gubernur Wei langsung berlutut meminta maaf karena bertindak tanpa berpikir panjang. Jendral Qin memutuskan agar sengketa ini diatasi oleh Gubernur Wei dibantu oleh pejabat Chen. Jangan sampai para penjahat melarikan diri. Qin Sang tidak percaya Jendral Qin mengikuti saran Ge Cheng. Jendral Qin menegur Qin Sang untuk bersikap sopan dan ikut kembali ke rumah. Qin Sang berpikir kalau kakaknya tidak mau mengambil alih, maka dia yang akan bertindak.

Lu Ping masih berusaha menemui Ge Cheng dengan mencoba meloncati pagar Gubernuran, tapi ditarik turun oleh Xi Fan. Xi Fan menganggap Lu Ping bertindak keterlaluan hendak membuat onar dengan para tentara.

Xi Fan masuk ke halaman perguruan Zhaifeng disertai rekan-rekannya. Xi Fan bertanya apa Lu Ping ingat apa yang diajarkan Guru Guo You Dao? Lu Ping sembari tertawa menyatakan kalau dia tidak pernah menyimak ajaran Guru You Dao. Xi Fan menghela nafas dan menyuruh Shi Tou melemparkan kendi minuman. Dengan menggunakan visi, Xi Fan mengarahkan anak panah dan menembak kendi tepat pada sasaran. Anak panah kedua dilepaskan dan tepat mengenai lubang mata uang yang ditancapkan di puncak patung kendi.

Setiap orang yang berlatih bela diri wajib menguasai satu tenaga dalam, setelahnya belajar menguasai tenaga dalam kedua. Dan seterusnya, sampai menguasai kelima tenaga dalam. Xi Fan menggunakan visi untuk menembak obyek yang dia tuju. Kalau Lu Ping bisa menunjukkan keahlian setingkat Xi Fan, Xi Fan tidak akan menghukumnya.

Lu Ping melepaskan anak panah, tentu saja tidak kena kendi. Anak panahnya meluncur ke kolam air. Menurut Lu Ping, pecundang seperti dirinya lebih baik bergulingan saja di tanah dan mencari pohon untuk dipeluk. Kalau saja Xi Fan tidak mencampuri urusannya, Lu Ping sudah pergi mengikuti Jendral ke ibukota Kaifeng dan hidup berkelimpahan harta.

Bagi Xi Fan, setiap anggota perguruan Zhaifeng, wajib mengikuti aturan perguruan. Satu, meski tidak rajin, tetap tidak boleh mangkir. Dua, sebagai orang yang berlatih bela diri, meski tidak mahir, tetap tidak boleh berpuas diri. Tiga dan yang paling penting, Lu Ping telah mengganggu pejabat Negara. Negara akan menghukum murid dan rekan-rekan seperguruan apabila dia melanggar aturan Negara. Xi Fan menyuruh murid-murid lainnya memberikan hukuman untuk Lu Ping. Su Tang kembali membela Lu Ping. Xi Fan mengingatkan bahwa dia bertugas menegakkan disiplin. Su Tang memang berbakat, bagaimana nanti dia bisa bertanggung jawab kalau Su Tang berada di posisi Xi Fan? Lu Ping melarikan diri.

Saat Lu Ping melewati gerbang Zhaifeng, sebuah kendi mendarat di keningnya.  Lu Ping pun terjatuh. Pukulan kendi mengingatkan Lu Ping saat dia  dan Su Tang terkapar di salju, tidak sanggup lagi berjalan. Sebuah jari mengetuk keningnya dan menyadarkan Lu Ping yang pingsan. Lu Ping melihat ke atas dan meminta tolong. Si penolong, seorang lelaki setengah baya, menyetujui menolong mereka dengan bayaran 5000 tael perak. Muka yang sama sekarang berada di hadapannya.

Guru You Dao melarang Xi Fan memukul Lu Ping dengan alasan agar tidak kehilangan nama baik. Guru menyuruh Lu Ping berlutut dan meminta maaf pada Xi Fan. Xi Fan tidak boleh memukul Lu Ping, karena Lu Ping masih punya hutang 5000 tael perak pada Guru. Lalu Guru menyuruh Xi Fan mengikutinya. Guru punya tugas untuk Xi Fan. Janda dan pemilik restoran Ru Yu, madam Jin, diculik oleh bandit untuk diperistri. Madam Jin punya banyak harta. Mereka perlu uang untuk memperbaiki gedung Zhaifeng sebelum musim dingin tiba. Itu tugas untuk esok hari.

Guru You Dao menyuruh murid-muridnya melaksanakan tugas yang akan dipimpin Xi Fan dan Su Tang. Lagi-lagi Lu Ping menolak ikut bertugas dengan alasan dia tidak mampu membantu apa pun. Guru tahu hal itu, karenanya Lu Ping ditugaskan berjaga di tepi hutan. Guru juga menghukum Lu Ping dengan melarangnya makan malam dan harus membersihkan kandang kuda. Xi Fan menolak penugasan ini dan pergi ke dalam bangunan. Guru You Dao mengejar Xi Fan dan menanyakan alasan. Bagi Xi Fan menolong orang yang kesusahan itu seharusnya gratis. Guru You Dao memang telah menolong orang selama beberapa tahun ini, tetapi semua yang ditolong dimintai bayaran, hal itu tidak terasa pantas bagi Xi Fan. Guru You Dao berdalih, kalau semua pendekar hanya menolong orang miskin, lalu bagaimana bila orang kaya mendapat kesulitan? Apa mereka dibiarkan begitu saja? Itu sama saja artinya Xi Fan membeda-bedakan perlakukan berdasarkan status seseorang. Bukan itu yang diajarkan Guru selama ini. Guru You Dao meledek Xi Fan kalau sebetulnya bukan itu alasan Xi Fan tidak mau membantu, tetapi lebih kepada Xi Fan takut gagal. Guru membujuk Xi Fan untuk tidak khawatir akan kegagalan, karena pastinya Dewa Bandit akan datang membantu.

Para murid melewati kandang kuda dan menertawakan Lu Ping. Su Tang datang dan memberikan bakpau yang disisihkan untuk Lu Ping. Su Tang menyesal tidak bisa menghalangi Xi Fan dan menyebabkan Lu Ping dihukum. Lu Ping memberikan permen Osmanthus untuk Su Tang dan mengambil bakpau hangat. Mereka makan di depan padepokan.

Su Tang berpikir kalau Lu Ping bercerita tentang masa lalunya, rekan-rekan seperguruan tidak akan menertawakan dan merendahkan Lu Ping. Saat menembakkan anak panah tadi, panah Lu Ping tepat mengenai lubang mata uang dan memang sengaja diarahkan ke kolam, sehingga tidak ada yang tahu itu. Lu Ping sengaja menyembunyikan jati dirinya. Setelah Lu Ping menemukan Ge Cheng, dia berniat membawa Su Tang pergi dari perguruan Zhaifeng. Su Tang khawatir Shanhai akan menemukan mereka di kota Chen Qiao ini, tidak pernah ada orang yang berhasil keluar dari Shanhai hidup-hidup. Lu Ping menenangkan Su Tang, mereka adalah bukti hidup bahwa ada yang berhasil. Mereka menikmati malam bermandikan sinar bulan Purnama.

Rumah Gubernur Wei dijaga ketat. Salah seorang prajurit mendekati Qin Sang dan minta agar mereka mundur saja. Prajurit sudah kecapaian akan sulit bila sekte Shanhai menyerang. Tiba-tiba kembang api meledak di atas gubernuran dan pujian berkumandang, ‘Gangguan yang dialami tiga kerajaan itu layaknya istana yang terbakar. Hanyalah sekte Shanhai yang mampu memadamkanya.’ Qin Sang bersiap menghadapi empat anggota Shanhai menggunakan pedang Kuinyinnya. Satu persatu anggota Shanhai ditaklukkan. Pejabat Zheng memuji keampuhan jurus Permainan Pedang Pita Matahari. Tak disangka serangan belum berakhir. Anak-anak panah bergerak sendiri dan meluncur melukai semua prajurit dan pejabat yang berjaga di sana.

Di atas atap, pembunuh kiriman Shanhai, Si Tu Chong tersenyum sinis. Dari awal pertikaian, Si Tu Chong telah menggunakan Mental untuk menghipnotis seolah segerombolah anggota Shanhai menyerang gubernuran. Si Tu Chong menyerang Qin Sang. Qin Sang berhasil merebut lencana milik Si Tu Chong dan melarikan diri.

Pagi hari berikutnya, Xi Fan membagi tugas: Shi Tou menaburkan obat tidur di jamuan pesta, Su Tang bergabung dengannya dan Lu Ping melipir pergi lalu duduk di bawah pohon. Xi Fan tidak habis pikir dengan kelakuan Lu Ping. Lu Ping berjaga sambil membawa bungkusan besar berisi makanan agar tidak kelaparan saat menunggu.

Qin Sang dan Zi Yang bersembunyi dari kejaran Si Tu Chong yang bergerak semakin mendekat. Zi Yang menawarkan diri mengalihkan perhatian dan pergi ke benteng terdekat, Benteng Chuan Yun. Meski Si Tu Chong bukan tandingan Zi Yang, tapi Zi Yang menguasai Energi, sehingga yakin akan bisa lepas dari kejaran Si Tu Chong. Mereka berganti pakaian agar Si Tu Chong menyangka kalau yang lari adalah Qin Sang. Rencana itu berhasil, Si Tu Chong berlari mengejar Zi Yang.

Di pesta perjamuan para bandit, kepala bandit menggoda Madam Jin, menanyakan kenapa sang pendekar kekasih Madam Jin tidak juga datang membebaskannya. Madam Jin tidak khawatir. Perguruan Zhaifeng memegang teguh sifat kesatria dan pemberani. Begitu Guru You Dao mendengar khabar ini, pasti dia akan datang menyelamatkan Madam Jin. Rupanya, ini adalah sandiwara buatan Madam Jin agar Guru You Dao menyelamatkan dirinya. Madam Jin berjanji akan membayar gerombolan bandit untuk kerjasama mereka. Bandit yang berjaga mengabarkan kalau mereka melihat murid perguruan Zhaifend sudah terlihat. Madam Jin pun bersiap-siap masuk ke hall pernikahan.

Qin Sang yang juga sampai di tempat bandit itu melumpuhkan penjaga dan masuk ke hall bersama Madam Jin. Madam Jin menanyakan apakah Guru You Dao hadir? Dan terus membombardir Qin Sang dengan puluhan pertanyaan, seperti sejak kapan ada murid Zhaifeng yang cantik jelita? Qin Sang tidak menjawab apa pun kecuali minta agar Madam Jin menangggalkan pakaian pengantinnya. Saat Madam Jin menolak, Qin Sang menjawab kalau dia adalah pegawai pemerintah dan melumpuhkan Madam Jin.

Xi Fan dan Su Tang meneliti situasi yang ada. Hanya ada 12 bandit dan menara jaga juga kosong. Akan mudah mengalahkan mereka dan menyelamatkan Madam Jin. Su Tang akan melawan para bandit sementara Xi Fan menemukan dan menyelamatkan Madam Jin. Xi Fan menahan Su Tang untuk menjalankan aksinya. Kalau perkiraan Xi Fan benar, Dewa Bandit akan datang ke acara ini. Xi Fan memang tidak bermaksud untuk menyelamatkan Madam Jin. Ia ingin menangkap Dewa Bandit karena Dewa Bandit sering mengalahkannya di beberapa misi penyelamatan sambil merampok orang kaya dan membagikan harta tersebut ke orang miskin.

Su Tang menuduh Xi Fan tidak tahu berterima kasih, karena beberapa kali Dewa Bandit menolong dan menyelamatkan mereka saat menjalankan misi penyelamatan. Xi Fan menolak tuduhan itu dan mengatakan kalau dia hanya melakukan kewajibannya sebagai murid pertama Zhaifeng dalam menegakkan keadilan.

Kepala bandit memamerkan lencana Shanhai yang dia dapat sebagai hadiah perkawinan. Obat tidur mulai bekerja, para bandit mulai jatuh bergelimpangan. Saat itu satu sosok berbaju hitam meluncur memasuki arena pesta. Angin berhembus membuka kerudung pengantin. Saat Xi Fan hendak membantu, Su Tang menahan karena merasa ada yang tidak beres. Pengantin di balik kerudung itu bukan Madam Jin, melainkan Qin Sang.

Berbekal senjata rahasia dan pedang Kuinyin, Qin Sang menyerang pria bertopeng, Dewa Bandit. Dewa Bandit melihat kalau penyerangnya bukan Madam Jin. Sementara, Qin Sang bertekad mengalahkan pembunuh dari Shanhai yang kasar dan kurang ajar itu.

Su Tang yang menyaksikan dan mendengarkan percakapan mereka membatin, ‘Sekte Shanhai?’

Bersambung…

Komentar Saya: Hahaha…misi buru sergap, tapi ketahuan dari awal… Kalau musuhnya seimbang atau lebih kuat, itu pastinya akan berakhir dengan merekalah yang harus diselamatkan.

Arthur Chen Fei Yu di sini agak belum masuk ke karakter Lu Ping. Sementara Ancy Deng (yang berusia 13 tahun saat berperan di sini) justru cukup piawai memainkan Su Tang. Juga Chloe Zhao sebagai Madam Jin, genit dan ekspresi saat dia mengetahui kalau Qin Sang itu pejabat pemerintahan… ouw, ouw, ouw… busted!

Itu seragam Zhaifeng disebut compang-camping, tapi lebih ke quilt (kerajinan tangan memadu padankan dan menjahit kain berukuran kecil) ya? Huhuhu… Jadi ingat di Indonesia pernah trend baju quilt batik. Ke mana ya kerajinan itu sekarang?

#LegendofAwakening #ArthurChen #RecapDrama

Legend of the Awakening