Doom at Your Service Ep. 07.2

Episode 7: Dan Ia pun Menghilang

Hyun Kyu menjelaskan kalau ia tak ingin meninggalkan Ji Na. Ji Na mengirim text minta Joo Ik datang membantu penulisan web-novel. Joo Ik menolak, kali ini ia benar-benar tak bisa datang. Ji Na tersenyum, sikap Joo Ik tidak banyak berubah. Dulu, waktu Ji Na menerangkan kalau yang membuat ia sedih salah satunya adalah karena Hyun Kyu pergi sebelum mereka sempat berciuman, Joo Ik lah yang menciumnya.

Dalgona, salah satu penulis Life Story, pamit pada Dong Kyung. Ia akan berhenti menulis karena menderita kanker rahim stadium tiga. Ia berpesan agar Dong Kyung menjaga kesehatan atau hiduplah seperti yang diinginkan. Dalgona menyesal, seharusnya ia lebih jujur dengan apa yang ia suka vs benci, apa yang ia ingin vs apa yang orang lain inginkan, memuji diri sendiri vs memuji orang lain.

Tim Life Story dan Jijo King makan malam bersama. Jijo King dengan mulut besarnya terus bergosip dan menjelekkan Dalgona. Meski Joo Ik mengingatkan untuk berhenti dan Ye Ji pun menganggap Jijo King sudah kelewat batas. Dong Kyung tak peduli, ia menyuruh Jijo King menulis dengan baik dan membalikkan perkataan Jijo King. Dong Kyung mengakui kalau ia pun telah divonis mati dan pergi meninggalkan mereka.

Dong Kyung pergi dengan hati kesal. Ia berlari ke tempat peyebrangan, terus berteriak kalau ia terlalu takut untuk menyebrang, berharap Myeol Mang datang menghampirinya. Tak berhasil, Dong Kyung naik ke batas pagar atap rumah dan mengancam akan menjatuhkan diri. Tapi, Myeol Mang tak juga datang, dan dinding rumahnya tak hilang menembus rumah Myeol Mang.

Dong Kyung tertidur kelelahan di lantai ruang duduk. Saat itulah Myeol Mang hadir untuk menggenggam tangannya. Myeol Mang tersenyum memperhatikan wajah Dong Kyung. Saat bangun dan mendapati bantal diletakkan untuk menyanggah kepalanya, Dong Kyung sadar Myeol Mang datang tapi tak mau bertemu dengannya. Ia menjadi kesal dan memutus gelang di tangannya.

Hidup Ji Na seolah diputar balikkan, ia baru tahu kalau usia Dong Kyung hanya sebentar lagi saja. Ia mengemudikan mobil sambil terus menangis. Ji Na mau pun staff Life Story, tidak ada yang bisa menghubungi Dong Kyung. Ji Na menggedor pintu Life Story, Joo Ik mengajaknya bicara di luar.

Joo Ik menasehati Ji Na untuk berhenti menyalahkan diri dan fokus pada apa yang bisa dikerjakan di span waktu yang pendek ini. Joo Ik khawatir dengan kondisi Ji Na dan menawarkan mengantar Ji Na mencari Dong Kyung. Di depan café, Joo Ik memutar berbalik ke arahnya, ia tak mau Ji Na melihat Kyun Hyu.

Sun Kyung menangis, ikut berlari mendorong Dong Kyung ke ruang operasi. Myeol Mang memperhatikan itu semua dan menangis tersedu-sedu. Dong Kyung terus memikirkan Myeol Mang sampai kesadarannya menghilang.

Dr. Dang Myun menjelaskan pada Sun Kyung, meski mereka berhasil mengurangi tekanan tumor pada otak Dong Kyung, mereka masih harus terus melakukan pengawasan dan perawatan. Sun Kyung menolak panggilan telpon dari bibi Soo Ja. Dong Kyung masih terus tak sadarkan diri.

SoNyeoShin menghampiri Myeol Mang yang duduk seorang diri. Seolah menerapkan psikologi terbalik, SoNyeoShin memuji keputusan Myeol Mang untuk tidak pernah menemui Dong Kyung lagi. Akan lebih mudah bagi Myeol Mang untuk melanjutkan hidupnya. Dan trik itu berhasil, Myeol Mang pergi meninggalkan SoNyeoShin.

SoNyeoShin tahu, untuk bisa menjadi matang, anak perlu sesekali memberontak dari orang tuanya. Untuk menjadi kuat, cinta perlu diterpa cobaan. SoNyeoShin menoleh, memperhatikan pot yang tidak juga menunjukkan bibit yang mulai bertumbuh.

Dong Kyung terbangun, melihat Sun Kyung tertidur di sisi tempat tidurnya. Jam berdetak ke arah pukul 12 malam. Dong Kyung berjalan ke luar kamar dan melihat sosok Myeol Mang, berjalan menghampirinya. Dong Kyung tahu, Myeol Mang pria yang baik, yang tak kan meninggalkannya sebelum memenuhi permintaan terakhir Dong Kyung. Myeol Mang memeluknya.

Dong Kyung sadar, saat semua ketidak beruntungan terjadi, ia tak pernah sendiri. Waktu ia gagal mengikuti wawancara kerja, Ji Na berdiri menunggunya sambil tersenyum lebar. Waktu ia selesai ujian SMA, Sun Kyung juga berdiri menunggu di luar sekolah. Waktu ia duduk sendiri di tepi laut, bibi Soo Ja datang menjemput dengan scooter. Dan kini, Myeol Mang mencarinya.

Itulah jawaban yang Dong Kyung cari-cari selama ini. Pada banyak momen, kemalangan dan keberuntungan datang pada saat yang sama. Sampai sekarang pun, Dong Kyung tidak terlalu bisa membedakan keduanya.

Bersambung

Komentar aku: seolah membaca pikiran aku, penulis memutuskan SoNyeoShin menjadi dewi yang lebih bijak. Hahahaha… Bagus! Senang kalau bahkan dewa-dewi pun diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik (Ha!). Adegan dan perkataan penulis di bagian akhir, seolah menegaskan ‘Satu pintu terbuka saat pintu lain menutup’. Yup… hanya kalau aku ada di Gedung Lawang Sewu, berapa pintu yang harus menutup sebelum satu pintu terbuka? Kekeke… Gedung Lawang Sewu berhantu juga, ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: