Sell Your Haunted House Ep. 01.2

In Beom berteriak kencang terbangun dari mimpi di siang bolong. Ia bermimpi beberapa tangan arwah berusaha menariknya yang sedang bersantai di kolam renang. Ia memegang kalung pemberian pamannya, Oh Sung Sik,  yang meninggal bunuh diri.

In Beom berusaha mengalihkan pikirannya dengan memberi tahu Ji Cheol proyek terbaru: Dream Officetel. Pengembang kantor itu bangkrut, jadi tidak diselesaikan. Dua korban yang membeli unit 401 memilih bunuh diri, terjun dari atap bangunan. Arwah mereka seperti membawa sial bagi pemilik baru.

Pak Woo kesal saat tahu calon pembeli membatalkan datang melihat unit 401.  Ibu Woo terus mendesak agar mereka minta bantuan GSC. Tim GSC mulai beraksi. Listrik di toilet mulai bertingkah. Pak Woo melihat sepasang kaki yang menghilang dan mencarinya. Tim GSC bingung melihat video CCTV, seharusnya, pak Woo belum keluar dari toilet.

Pak Woo mengejar sosok istrinya ke atap. Bu Woo tiba-tiba meloncat dari atas gedung. Pak Woo tersadar mendengar teriakan bu Woo, dirinya lah yang berada di tepi dinding atap, bukan bu Woo. Mereka berdua berpelukan. Sesosok arwah memperhatikan mereka.

Bu Woo menelpon In Beom, meminta cepat dipasang alat penghalau hantu. Mereka berdua kegirangan.

Tapi, pak Woo punya rencana lain. Ia mendatangi kantor Daebak. Hwa Jung menegaskan mereka bukan penipu, mereka baru akan memotong komisi saat properti sudah terjual. Pak Woo menceritakan peristiwa saat ia kerasukan dan pemilik terdahulu yang bunuh diri.

Dua pemilik unit terdahulu: Nam Young Do, seorang sales properti, membujuk temannya, Yang Woo Jin, mahasiswa / pekerja serabutan, untuk membeli unit. Young Do yakin itu adalah cara menjadi kaya yang termudah. Uang pembayaran bisa mereka dapat dari berhutang.

Woo Jin kesal, ayahnya menolak membantu membeli unit karena tidak yakin bisnis properti bisa semudah itu. Kalau saja ayahnya kaya, ia tak harus bekerja serabutan di tiga tempat. Ayah Woo Jin berusaha menahan emosi.

Tapi, kekhawatiran ayahnya menjadi kenyataan. TV menyiarkan berita kalau dua pemuda memilih bunuh diri, karena perusahaan konstruksi mengaku pailit dan membuat keduanya kehilangan hak atas unit mereka. Kejadian itu berlangsung setahun yang lalu.

Ji A memutuskan untuk memeriksa langsung di unit itu. In Beom sedang ada di dalam memasang peralatannya ketika Ji A tiba. Ia lalu bersembunyi. Ji A menyalakan dupa dan matanya berpendar. Ji A berbicara pada arwah Woo Jin. Tiba-tiba muncul sepasang tangan hantu mencekik leher Woo Jin.

Ji A menelpon Hwa Jung memastikan kalau memang ada dua arwah penasaran dan Hwa Jung bisa mulai mencari pembeli secepatnya. In Beom keluar dari persembunyiannya, menganggap Ji A menderita kelainan jiwa.

Ibu Woo ingin membeli peralatan In Beom. Tapi, pak Woo datang dan memberi tahu kerjasamanya dengan Daebak. In Beom mencuri dengar, Daebak berjanji akan menjual dengan harga pasaran. Ibu Woo membatalkan niat dan meminta In Beom membawa pergi peralatannya.

In Beom memutuskan meneliti Daebak. Ia memeriksa kotak pos dan mulai memeriksa sampah. Ji A mengusirnya sebelum terluka saat Tae Jin cs datang. Tae Jin memaksa Ji A menjual kantor dengan setengah harga. Ji A tak bergeming, ia takkan menjual.

In Beom menyuruh Ji Cheol menyalakan sirine polisi. Tae Jin menyuruh anak buahnya mulai bertindak, ia tak percaya alasan arwah Mi Jin. Saat Tae Jin melihat ke jendela lantai dua, mata arwah Mi Jin berpendar. Ia dibawa ke dunia lain. Begitu juga dengan anak buahnya, mereka semua terpaku.

Suara sirine polisi menyadarkan mereka dan mereka berlari terbirit-birit ketakutan. In Beom merasa itu adalah karena jasanya menyalakan sirine polisi. In Beom mulai membual. Ia yakin kantor Daebak dihantui arwah yang membenci Ji A. Ia menawarkan pengusiran arwah dan dibanting ke dinding oleh Ji A.

In Beom berusaha membebaskan diri, tapi kalah kuat dibanding Ji A. Akhirnya, In Beom mengaku kalau ia penipu, tapi ia juga menuduh kalau Ji A tidak beda darinya. Setiap penipu punya kode etik. In Beom telah mengincar Dream Officetel dari sebulan lalu, Ji A seharusnya tidak merebutnya.

Ji A memperingatkan In Beom, kalau ia tak ingin dihampiri kematian, lebih baik cari pekerjaan lain yang tidak menipu orang dengan menggunakan arwah penasaran. In Beom mengajak Ji Cheol ke Dream Officetel memasang peralatan terbaik. Biar penipu terbaik menang dan yang kalah harus cari pekerjaan baru!

Hwa Jung tahu akar permasalahan Ji A dengan penurunan suhu badan adalah karena Ji A kurang kuat secara spiritual menghadapi arwah, bukan karena kurang makan. Jadi, tidak masalah kalau sekarang Hwa Jung mengambil sepotong pizza milik Ji A.

Untuk menghadapi duo arwah Woo Jin – Young Do, Ji A perlu menusuk Hyung Sik dua kali berturut-turut, tentunya tak usah memberi tahu hal itu pada Hyung Sik.

Persiapan GCS berjalan lancar, mulai dari kursi beroda yang meluncur, kursi lipat yang tertekuk, dan hologram Woo Jin. In Beom senang, tinggal menambahkan sedikit efek audio.

Persiapan Ji A pun tak kalah serunya. Garam murni, tempat dupa, kalung doa, pistol mantra, dan berbagai pisau magis, juga dua kertas mantra bertuliskan nama yang dimasukkan ke dalam binyeo. Hyung Sik memakai kalung pelindung dan Ji Ah mulai menggulung rambut, menusukkan binyeo.

Dupa mulai dinyalakan dan garam mulai ditebarkan. In Beom yang membuka pintu untuk mengintip persiapan Daebak tidak sengaja menghapus sebagian dinding garam. Peralatan elektronik tim GCS mulai bertingkah dan In Beom bisa merasakan hawa dingin. Pintu lift lantai 4 membuka, arwah Woo Jin tiba.

Hyung Sik melepas kalungnya, Young Do pun merasukinya. Ji A mulai mendesak, tapi Young Do bisa melarikan diri karena dinding garam terputus. Young Do meloncat dari atap, beruntung Ji A bisa menangkap tangan Hyung Sik. In Beom yang mengejar mereka membantu Ji A menarik Hyung Sik.

Ji A berhasil menjatuhkan Young Do dan menusukkan binyeo ke dada Hyung Sik. Ji A membaca ingatan Young Do.

Young Do yang mabuk berusaha membakar gedung, tapi dihentikan oleh Woo Jin. Mereka terbakar kerakusan mereka sendiri, kenapa harus menyalahkan orang lain? Young Do tidak terima, ia tidak sanggup hidup susah. Ia geram saat Woo Jin menyebutnya orang yang menyedihkan dan memukul Woo Jin dari belakang.

Saat sadar ia telah membunuh Woo Jin, Young Do berusaha menutupi kejahatannya dengan membuat seolah-olah Woo Jin frustasi dan terjun dari atap. Woo Jin ternyata masih hidup, berusaha menyelamatkan diri dengan bertahan pada lengan Young Do. Tapi, itu hanya membuat mereka berdua terjatuh bersamaan.

Sampai akhir, Young Do tidak merasa bersalah. Itu satu hal yang membuat Ji A membenci pekerjaan ini. Saat ia mau menusuk untuk kedua kali, Hyung Sik tersadar. Arwah Woo Jin tidak merasukinya. Arwah Woo Jin merasuki  In Beom.

Bersambung

Komentar aku: Oh yeah! Cenayang yang tidak ragu makan seloyang pizza! Bwahahaha… By the way, kantor siapa yang tidak ada hantunya? Hantu perkantoran adalah urban legend yang ada di mana-mana. Termasuk kantor aku di daerah Thamrin. Kekeke… Barang atau buku jatuh, kursi beroda bergerak sendiri, suara ketikan di keyboard, bahkan rekan kantor lain lantai yakin pegawai yang cuti ada di ruangannya. Nah lho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: