Mouse Ep. 01.2

Ji Eun terbangun dari tidur sesaat dan melihat Seo Joon telah membereskan semuanya. Ji Eun memutar lagu klasik dan Seo Joon menyiapkan teh hangat. Ji Eun bertanya-tanya apa yang ia akan lakukan kalau bayinya memiliki gen psikopat? Seo Joon meminta bayi dalam kandungan tidak mempedulikan pikiran aneh ibunya.

Tiba-tiba terdengar sirine mobil polisi yang semakin mendekat. Seo Joon keluar, Du Seok mengeluarkan surat penggeledahan resmi dan menyuruh tim polisi melakukan tugasnya.

Sebelumnya, Mu Chi menunjuk poster bergambar Seo Joon sebagai si pembunuh. Waktu polisi heboh meminta surat penggeledahan, Mu Chi mengambil scapel dan menyelinap masuk mobil Du Seok.

Seo Joon menyuruh Ji Eun menenangkan diri dan menghubungi pengacara Hwang.  Polisi menggeledah setiap sudut rumah Seo Joon, tapi gagal menemukan barang bukti.

Mu Chi menurunkan kaca mobil dan melukai pipi Seo Joon. Ia keluar dan terdorong menimpa boneka salju saat Du Seok menghalanginya menusuk Seo Joon. Dari tubuh boneka satu menggelinding kantong plastik hitam. Ho Nam mencoba membuka dan langsung melempar plastik itu, terlontarlah hiasan dan rambut penuh darah milik ibu Go.

Mu Chi menangis memanggil ibunya dan merangkak mendekati kantong itu. Eun Ji yang memperhatikan dari balik jendela menutup mulutnya yang ternganga melihat apa yang ditemukan Mu Chi.

Berita temuan kepala dan penangkapan Han Seo Joon, si ‘Pemburu Kepala’ menghebohkan masyarakat. Seo Joon menyangkal semua tuduhan itu, dan tidak tahu menahu bagaimana manusia salju bisa ada di halamannya. Pengacara berhasil membebaskan Seo Joon.

Daniel dan Ji Eun pergi menjemput Seo Joon. Di mobil, Daniel menerangkan kalau seorang psikopat tidak mampu mencintai orang lain, mereka hanya mencintai diri mereka sendiri.

Seo Joon berhenti membuat pernyataan di depan wartawan saat melihat Ji Eun dan berjalan memeluknya. Dengan dingin Ji Eun menunjukkan foto yang ia ambil, memperlihatkan Seo Joon lah yang membuat boneka-boneka salju itu.

Malam itu, setelah mengantar Daniel ke hotel, Seo Joon mengarahkan pak Go ke bumi perkemahan.  

Seo Jon memuji Ji Eun yang pintar dan lurus. Alasan Seo Joon menikahi Ji Eun hanya untuk mendapatkan keturunan. Ji Eun menjadi histeris. Polisi pun urung membebaskan Seo Joon. Daniel merangsek masuk dan mendorong Seo Joon ke dalam ruang tertutup.

Seo Joon dengan tenang, bahkan tersenyum, mengakui kalau ia membunuh Jennifer, kakak Daniel, dan membuat terlihat seperti penjambretan. Ia mengancam Jennifer yang telah ditusuk sebanyak 20 kali akan membunuh ibu dan adiknya, kalau Jennifer mencoba menyelamatkan diri.

Seo Joon membunuh karena Jennifer menggugurkan bayi mereka. Polisi berhasil membuka pintu ruang itu dan menggelandang Seo Joon keluar. Di depan pintu, Seo Joon menoleh, berkata kalau sebelum menghembuskan nafas penghabisan, Jeniffer membuatnya berjanji untuk tidak menyakiti ibu dan Daniel.  

Ji Eun terbangun di RS, Daniel berdiri di depannya, menawarkan test DNA untuk janin yang dikandungnya. Hanya dari raut muka Daniel, Ji Eun tahu hasil test yang dilakukan. Ji Eun memohon Daniel menggugurkan kandungannya. Daniel menolak, ia bukan ginekolog.

Daniel pergi meninggalkan Ji Eun untuk memberikan amplop pada seseorang di dalam jok belakang mobil yang berhenti di depan RS.  

Seorang wanita, istri dari peneliti yang bekerja sama dengan Daniel, pak Jung, memperkenalkan diri. Bayi yang ibu Jung kandung positif memiliki gen psikopat. Pak Jung, meninggal akibat ditabrak truk saat mencoba menyelamatkan anak kecil.

Pak Jung adalah pria yang lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri, lurus bak anak panah. Karenanya, bu Jung tak percaya kalau bayi yang dikandungnya akan menjadi seorang psikopat pembunuh. Ia akan mempertahankan bayi itu dan membuktikan Daniel salah.

Berita mengabarkan Seo Joon dijatuhi hukuman mati.

5 tahun kemudian… di kebun penjara, Seo Joon membaca berita temuan mayat seorang anak kecil dan berita kembalinya Daniel. Ia memperhatikan seekor tikus yang berusaha menerobos pagar penjara.

Tak berapa lama, di laboratorium Daniel menerima paket tanpa nama. Ia membuka paket itu dan terjatuh. Seekor tikus meloncat keluar dan seekor lagi bergerak di dalam box paket.

Jae Hoon membuka payung dan berjalan di hujan. Pandangannya tertarik pada seekor tikus di tepi jalan. Ia mengambil makanan dan menawarkannya pada si tikus. Tikus yang nantinya ia masukkan ke dalam aquarium ular tikus hitam.

5 tahun berlalu… Guru kelas Jae Hoon melihat luka-luka di lengan Jae Hoon,  dan terkesiap melihat gambar yang dibuat Jae Hoon. Jae Hoon memandangnya dengan tajam.

Saat istirahat, terjadi kegaduhan. Jae Hoon duduk berdua dengan gurunya. Ia mengaku membedah perut kelinci sekolah. Jae Hoon menggaruki lengannya sampai terluka karena merasa terganggu dengan teman sekelas. Kali ini, ia terganggu dengan ibu guru yang memandanginya dengan aneh.

Anak-anak terdiam dan menjauh dari Jae Hoon, semua takut padanya.

Ibu guru memanggil ayah Jae Hoon, pak Jae. Berita baik: IQ Jae Hoon mencapai 160. Berita buruk: gambar dan kelinci sekolah yang dibedah. Bu guru menyarkan Jae Hoon mengikuti terapi. Saran itu membuat pak Jae marah dan memukul Jae Hoon.

Di rumah Jae Hoon melihat pak Jae memberi makan ikan dan mencium anjing mereka, Choco. Ia menggaruk lengannya. Esoknya, Jae Hoon mendorong Jae Min, yang melarang Jae Hoon menuangkan ammonia untuk membunuh ikan. Jae Hoon benci melihat ayahnya lebih mencintai ikan dan Choco dibanding dirinya.

Ia mengambil Choco, menyuruh Jae Min tutup mulut, dan menggendong Choco keluar.

Jae Min tidak berkata apa-apa saat pak Jae bertanya. Tapi, si bungsu Jae Hee, mengulangi semua perkataan Jae Hoon dan Jae Min. Jae Hoon berdiri di antara para tetangga yang menyaksikan pak Jae tergopoh-gopoh berusaha menyelamatkan Choco yang mengambang di danau.  

Pak Jae masuk rumah dan mulai memukuli Jae Hoon. Ji Eun berusaha membela. Jae Hoon yang babak belur, mengajak Jae Min menemui Choco. Ia mendorong Jae Min ke dalam lubang di samping makam Choco dan mulai mengisinya dengan tanah.

Ji Eun mendorong Jae Hoon, menarik Jae Min dan menyuruhnya berlari ke rumah. Ji Eun mulai mencekik leher Jae Hoon sambil terus menangis dan berharap ia tak pernah melahirkan seorang monster.

Kembali ke dalam gereja. Jae Hoon mengatupkan tangan dan berdoa, memohon agar ia tidak menjadi monster.

15 tahun kemudian, saat ini. Seorang pria berdiri di depan puluhan foto sambil mendengarkan berita hilangnya gadis muda. Polisi menganggap ini sebagai bagian dari rangkaian pembunuhan berseri. Di bawah foto-foto itu, terpajang bingkai foto Jae Hoon di depan aquarium ular tikus hitam.

Voice over… Tapi, Tuhan tidak pernah menjawab doaku. Aku adalah seorang pembunuh.

 Jae Hoon masuk ke dalam rumah, menarik pisau yang tertancap di dada pak Jae dan bergerak menuju tempat persembunyian Jae Min dan Jae Hee.

Bersambung

Komentar aku: Ha! Rupanya, penulis yang ini, suka adegan yang melompat-lompat. Sebetulnya, mirip aku. Pikiran aku juga suka meloncat-loncat, tapi kenapa kalau diterapkan di drama jadi kesal ya? Kekeke… What goes around, comes around. 20 episodes! Oh, may… peringatan: maybe sanggup maybe tidak sanggup 20 eps.

Whoa! Aku tidak salah, dari semua pemain yang ada, aku memilih Ahn Jae Wook! Hohoho… si ‘Pemburu Kepala’ Aku ingin tahu, alasan Seo Joon membunuh 20 (termasuk ibu & pak Go) orang, dan juga pemilihan korban. Atau random, yang polisi sebut sebagai ‘Stranger Murderers’, langka dan nyaris tak pernah tertangkap? Sepertinya random, karena sebelum membunuh pak & bu Go, dia berbisik pada angin, ‘Malam yang indah untuk berburu…’. Wao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: