Love Scene Number 23 Ep. 4

Doo Ah keluar menemui Han Wool yang tiba-tiba datang. Han Wool ingin memberi tahu kalau foto Doo Ah sudah beredar. Doo Ah tahu itu, ia sedang bersama penulis, ketiga pacarnya dan ia yang memanggil mereka datang. Jadi, Doo Ah bisa memutuskan mereka semua.

Kalau Han Wool tidak bisa menerima mereka putus, kenapa Han Wool terus berada di samping Doo Ah? Han Wool mengakui ia tak bisa hidup tanpa Doo Ah. Setelah peristiwa sebelum Han Wool wamil, Doo Ah menghilang dan tak bisa dihubungi, lalu memutuskannya di hari pertama Han Wool dapat cuti wamil. Satu-satunya cara Han Wool bisa bersama Doo Ah, adalah menjadi sahabat karibnya.

Tapi, Han Wool juga mempertanyakan sebegitukah Doo Ah menilai kualitas cinta? Mengganti keuntungan yang ia dapat dari memacari ketiga pria yang lalu menulis hal seperti itu di sosmed. Apa Doo Ah pernah benar-benar mencintai seseorang?

Seorang teman pria menghentikan Doo Ah dan menyatakan cintanya serta minta Doo Ah menjadikannya pacar ke empat. Ia sudah menyukai Doo Ah sejak lama, dan tidak keberatan berbagi pacar. Doo Ah menyuruhnya mengenal wanita lebih dalam sebelum mencoba pacaran.

Doo Ah mencurahkan isi hatinya pada Ji Sung, sekaligus menikmati anggur merah. Sekarang ia sudah tak punya siapa-siapa. Bagi Ji Sung, itu bukan apa-apa. Doo Ah masih muda, ia bisa mencoba cara berhubungan A, B atau jenis hubungan apa pun. Kalau tidak berhasil, masih bisa bangkit lagi, mudah untuk sembuh. Sampai satu saat benar-benar terbakar lalu menyerah sekaligus.

Tapi, itulah hidup. Semua proses itu akan menjadi sejarah berpacaran. Atau, putuskan semua pria dan cintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri itu romansa seumur hidup. Masalahnya adalah Doo Ah terlalu banyak berpikir. Ada saat di mana kita harus membuang semua pikiran, misalnya saat berhubungan seks.

Seks adalah seks, jangan beri nilai lebih. Saat Doo Ah melewati batas itu dengan seorang teman, ia akan membuat pagar karena tidak yakin akan bisa mengatasi perasaan itu. Ditambah dengan menekan semua perasaan itu dalam-dalam, saat mendengar pria menyatakan cintanya. Doo Ah mencoba mencerna semua itu.

Dalam hidup, semuanya bergantung pada waktu. Waktu bisa mendekatkan atau menjauhkan hubungan seseorang.

Doo Ah lalu mengingat saat ia dan Han Wool menghabiskan malam terakhir sebelum Han Wool pergi wamil. Doo Ah dan Han Wool terbawa suasana. Saat itulah Doo Ah melewati batas, ia tidur bersama Han Wool. Dan saat itu juga Han Wool tiba-tiba menyatakan cintanya. Doo Ah tidak percaya cinta. Doo Ah memilih persahabatan daripada mencintai tetapi tidak sempurna. Ia memilih dari sudut pandangnya.

Doo Ah mengajak Han Wool masuk, mereka akan lebih nyaman berbicara di dalam. Han Wool minta maaf untuk segalanya. Doo Ah tersenyum, semuanya sudah berlalu. Giliran Doo Ah yang meminta maaf, justru karena kebaikan dan kesabaran Han Wool, Doo Ah bertindak melewati batas.

Mereka lalu membahas tentang malam itu. Doo Ah tidak siap dengan cinta Han Wool, tapi Han Wool terlihat sangat yakin. Itu membuat Doo Ah takut dan pergi. Doo Ah merasa kehilangan dan mengisi kekosongan dengan ketiga pacarnya.

Bagaimana sekarang? Doo Ah merasa Han Wool sangat berharga, ia sayang, tapi mereka hanya bersahabat. Tak lebih dari itu. Han Wool bertanya, apa Doo Ah bisa hidup tanpa dirinya, entah sebagai pacar atau sahabat? Doo Ah terdiam. Han Wool pamit pulang dan Doo Ah menitikkan air mata.

Doo Ah mengucapkan mantra untuk dirinya di depan cermin, ‘Kamu akan baik-baik saja.’ Tapi, tetap saja ia sulit tertidur dan terus menangis dalam diam.

Musim berganti. Sekarang sudah musim gugur, Doo Ah menyibukkan diri dengan kuliahnya. Sampai akhirnya ia memberanikan diri pergi ke unit Han Wool. Tidak ada yang menjawab bel dan pintu tidak terkunci. Doo Ah masuk dan unit sudah bersih, kosong. Doo Ah bertanya-tanya, kenapa dia terlalu fokus pada label sahabat atau kekasih? Sementara mereka telah bersama sekian lama dan ia menikmati kebersamaan mereka.

Doo Ah sadar, ia harus jujur, kalau ia tidak ingin kehilangan Han Wool. Tapi, semuanya sudah terlambat sekarang. Doo Ah membuka kotak hadiah yang sengaja ditinggal di sana. Isinya miniatur kesayangan Han Wool dan sebuah surat, kalau suatu waktu mereka mungkin bisa bertemu lagi.

Han Wool menempati kamar baru. Tiba-tiba ia menerima telpon dari nomor tak dikenal menyatakan ada paket untuknya. Han Wool keluar dan menukan sekotak hadiah bertuliskan ‘Bomb’. Isinya kura-kura dan surat, di dunia ini tidak ada kebetulan.

Han Wool melihat keluar pagar, mencari si pembawa hadiah. Si pembawa hadiah berada di sisinya.

NOMOR 23 SUDAH TAMAT

Komentar aku: Bwah… 3.9 dari 5 bintang. Aku suka dengan penggambaran Doo Ah yang melakukan semuanya tanpa ragu. Yup, tabrak dulu semua, urusan dengan polisi belakangan. Meski, akhirnya memang harus berurusan dengan polisi. Juga, suka dengan penokohan Ji Sung. Mereka berdua mirip, meski Ji Sung tentunya lebih dewasa dan telah melalui lebih banyak pengalaman berharga. Ji Sung juga tidak menghakimi, tetapi mencoba menempatkan cara pandang dari sisi lain. Kali ini aku tepuk tangan untuk profesi psikolog yang digambarkan dengan baik.

Beruntung Doo Ah akhirnya tidak kehilangan Han Wool, setelah mencoba menerapkan poliamori yang lebih ke arah selingkuh (karena ketiga pacarnya tidak diberi tahu dari awal, dan juga bisa punya hubungan terbuka dengan orang lain). Semoga persepsi aku bahwa Doo Ah belajar dari pengalaman itu sama dengan persepsi penulis.

Meski drama ini bagus, ada sisi yang tidak dikupas. Sisi para ketiga pacar Doo Ah. Bagaimana pun, nama mereka tersangkut dengan gosip itu. Kalau seluruh kampus tahu gadis yang punya pacar tiga itu Doo Ah, pastinya mereka juga tahu siapa nama-nama ketiga pria itu. Aku ingin tahu apa yang mereka dapat, atau perkembangan kepribadian mereka. Atau, mereka hanya sebatas ‘korban’ / objek pelengkap? Huhuhu…

Wao… kenapa aku ikutan ingin menganalisa, ya?

Tapi, drama ini menghibur, ringan sekaligus tetap memberikan pemikiran, jadi aku suka. ‘Till we were badly burned and gave up entirely…’ Ouch… But, loving yourself is never out of fashion. Setuju!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: