Mr. Queen Ep. 15.1

Melihat kode tangan Cheol Jong, Bong Hwan pun mulai berakting begitu sedih atas kematian Dam Hyang. Padahal, Bong Hwan membaui Dam Hyang, yang mulutnya berbau alkohol dan tangannya masih hangat. Dam Hyang masih hidup!

Begitu juga Hong, ia berpura-pura sedih dan mengambil tubuh Dam Hyang untuk ‘dikuburkan’ secara layak. Tentu saja dengan tambahan segepok uang pada pembawa kereta.

Cheol Jong menjelaskan pada Bong Hwan kalau ia melepaskan ibu Dam Hyang agar mereka berdua bisa hidup bersama jauh dari istana dengan aman. Cheol Jong juga menjelaskan pada Pyeong kalau ia rela membiarkan Dam Hyang dikorbankan, setelah itu ia juga akan tutup mata apabila berjatuhan korban 10, 100 dan seterusnya.

Bong Hwan heran kenapa semua orang ingin membunuh So Yong? Cheol Jong berjanji akan melindunginya. Bong Hwan menolak, ia akan melindungi dirinya sendiri, lagipula ia sudah terlanjur terkenal sebagai ‘ratu gila’ di istana ini. Bong Hwan mengangkat kedua tangannya dan mulai berteriak!

Episode 15: Si Gila ‘X’ di Istana

Jwa Geun menjelaskan kalau So Yong berganti kubu ke Cheol Jong dan mengkhianati klan Kim. Jwa Geun mencemooh Byeong In yang tidak mau percaya. Byeong In berbalik, selama ini ia selalu menuruti perintah Jwa Geun karena hormat dan ingin menjadi seperti Jwa Geun. Sekarang, setelah Jwa Geun melukai So Yong, Byeong In tidak lagi menganggap Jwa Geun sebagai ayahnya.

Jwa Geun akan selalu menanggap Byeong In sebagai anaknya dan pintu rumah akan selalu terbuka apabila Byeong In ingin kembali, kapan pun itu. Byeong In pergi meninggalkan Jwa Geun.

Bong Hwan sibuk berpikir siapa yang menaruh buku inventori di kamarnya? Ia yakin pasti Gaebi, tapi dari mana Gaebi dapat buku itu? Lalu, apa isi buku itu sebenarnya? Suara dengkuran terdengar keras dari mulut Bong Hwan, ia jatuh tertidur (sambil duduk).

Gaebi tahu, Byeong In menghadap dan meminta maaf atas perlakuan sebelumnya, pasti punya maksud tersebunyi. Byeong In tersenyum dan memuji kepandaian Gaebi membaca situasi.

Byeong In mengumpulkan tetua kedua klan. Ia mengajukan proposal akan membuat petisi yang memberikan keringanan hukum bagi kedua klan. Bagaimana kalau mereka mendukungnya? Kedua klan mengangkat minuman mereka, tanda setuju.

Jwa Geun mencoba menulis surat pengunduran diri, karena tidak mendidik anak buahnya, menteri pertahanan, yang melakukan perbuatan tercela karena keserakahannya. Tapi, Jwa Geun berjanji surat itu tak kan menghentikan langkahnya.

Saat Lady Choi dan Hong Yeon membangunkan Bong Hwan pagi-pagi, ia menyuruh Lady Choi memanggil Mun Geun untuk datang ke istana. Tapi, ternyata Mun Geun telah menunggu untuk bertemu. Mun Geun memberi tahu isi buku inventori, dan kalau Hwan Jin mungkin yang mengambilnya.

Bong Hwan mengerti sekarang. Sunwon adalah dalang eksekusi, Gaebi yang menaruh buku, dan Hwan Jin yang menyediakan buku itu. Saatnya Bong Hwan beraksi. Mun Geun kaget melihat perubahan So Yong yang biasanya lembut berubah menjadi kuda liar, itu sebutan Lady Choi untuk Bong Hwan.

Hari ini Bong Hwan menggunakan baju perang miliknya, kecantikkannya.

Ronde pertama, ia menghadap Sunwon dan memberikan kentang isi. Bong Hwan menyindir Sunwon. Yang ingin memakannya tidak boleh sembarang membelah kentang tanpa tahu isinya, karena sekali dipotong kentang tak kan bisa menyatu kembali. Lalu, menghidangkan minuman persis seperti yang diberikan Sunwon saat itu. Bong Hwan meminumnya saat Sunwon menolak.

Bong Hwan mengingatkan Sunwon, ia bertindak sebagai ratu, bukan karena dukungan klan atau suaminya, tapi karena ia bisa.

Kepala kasim yang ketahuan selalu melaporkan tindakan Cheol Jong pada Sunwon, berlutut mohon ampun. Padahal, Cheol Jong sedang memarahi staff istana lainnya. Cheol Jong menepuk pundak kepala kasim, ia tahu kepala kasim hanya menjalankan tugasnya, kepala kasim tak punya pilihan.

Ronde kedua, Bong Hwan menghadap Gaebi. Ia mengatakan ia tahu perbuatan Gaebi menaruh buku inventori dan masuk kamarnya tanpa izin. Bong Hwan mengambil dupa lalu menyebarkannya di depan lukisan kaisar almarhum. Bong Hwan tidak peduli lagi, ia memang gila, jadi sebaiknya Gaebi berhati-hati akan kegilaannya.

Cheol Jong ternyata bersembunyi bersama Pyeong dan memperhatikan semua itu. Cheol Jong lalu mengutip moto Bong Hwan ‘Pertahanan terbaik adalah menyerang dengan benar’.

Ronde ketiga Bong Hwan menemui Hwan Jin di tepi danau. Bong Hwan berterima kasih, karena buku inventori yang diberikan Hwan Jin nyaris mengambil nyawa Bong Hwan. Bong Hwan mengingatkan semua tuduhan Hwan Jin, membunuh Oh Wol, mencuri hati Cheol Jong, tidak benar. Juga, bersikap sebagai korban membuat Hwan Jin berubah menjadi monster tanpa ia sadari.

Bersambung

Komentar aku: Yas! Kenapa selalu dua episode terakhir itu OK? Hehehe… Terkadang, orang akhirnya percaya pada cap/label yang diberikan masyarakat. Tapi, dalam hal ini, Bong Hwan sekalian menggunakan cap ‘gila’ untuk bertahan hidup. Go girl/boy/whatever!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: