Tale of the Nine-Tailed Ep. 04.2

Lee Rang menemui pria yang diberinya bayi. Pria itu dulu pernah menyelamatkannya saat ia tertebas pedang Lee Yeon. Di jari pria itu muncul cincin kasat mata, nasib yang menautkan mereka. Lee Rang kagum, pria itu memberikan nyawanya selama 600 tahun untuk menyelamatkan si bayi yang sedang tidur, dan tetap hidup.

Lee Rang tidak sabar menunggu si bayi menjadi dewasa. Saat sang bintang utama jatuh cinta pada wanita yang telah lama menghilang, cerita tragis akan berulang kembali.

Lee Yeon memberi Ji A jimat berisi kacang merah untuk menambah umur. Jangan sampai hilang, terutama karena Lee Yeon akan pergi beberapa saat. Lee Yeon merasa berat meninggalkan Ji A.

Ji A melayat ke pemakaman ibu Sae Rom, temannya. Sae Rom akhirnya bisa menangis. Di saat yang sama, Lee Yeon dihukum selama seminggu, agar bisa merasakan penderitaan manusia.

Siapa lagi yang ditemui Ji A di rumah duka, kalau bukan Lee Rang. Tapi, Ji A bisa menebak dengan tepat, kalau Lee Rang sangat menyayangi kakaknya, itu sebabnya Lee Rang berlaku seperti sekarang.

Lee Rang bercerita bagaimana kakaknya menerlantarkan hutan dan dirinya, sampai manusia yang biasa berdoa meminta dikabulkan harapan mereka membakar hutan, termasuk anjing yang dibesarkan Lee Rang.

Lee Rang memberi tahu kalau demi menyelamatkan Ji A, Lee Yeon sekarang dihukum. Lee Rang secara diam-diam merobek kantong jimat Ji A. Para hantu/siluman mulai mengikuti kacang merah yang berjatuhan.

Di penjara Gunung Salju, waktu berbeda dari alam manusia. 1 hari di alam manusia sama dengan tujuh tahun di sana, tanpa makan, tanpa tidur. Bahkan, tanpa kematian.

Lampu tiba-tiba mati saat JI A berjalan ke luar. Ia melihat dua orang anak mengikutinya. Jae Hwan memanggil Ji A, hendak mengajak pulang. Saat Ji A berbalik, kedua anak itu sudah hilang. Saat di luar, Ji A baru sadar kalau kantong jimatnya robek.

Lee Yeon merasa kalau Ji A dalam bahaya. Ia memanggil Taluipa, ia rela pergi ke akhirat penuh pedang, untuk mengurangi waktu hukumannya. Meski ia bisa kehilangan nyawanya.

Jae Hwan membawa Ji A yang tiba-tiba pingsan, pulang. Jae Hwan memberi tahu kalau rumah duka itu di bangun di atas pemakaman anak-anak. Jae Hwan menghilang dan kedua anak itu ada di dalam rumah Ji A.

Lee Yeon mulai menapaki jembatan akhirat, pedang-pedang beterbangan ke arahnya dan mengenai tubuhnya.

Lampu kembali berkedip-kedip di rumah Ji A. Saat lampu berhenti berkedip, kedua anak masing-masing memegang kaki Ji A dan menginginkan tubuh Ji A.

Ji A berlari ke jalan, dikejar oleh kedua anak. Luka di tubuh Lee Yeon semakin banyak, pedang terus berdatangan, mengiris-iris tubuhnya. Dan Ji A tak bisa lagi sembunyi dari kedua anak itu, ia lari ke atap.

Lee Yeon tidak lagi peduli apakah Ji A titisan A Eum atau bukan, kehilangan Ji A akan lebih menyakitkan daripada irisan semua pedang itu. Ji A semakin terdorong ke pinggir atap oleh semua hantu anak-anak. Mereka saling mengingat arti satu sama lain dan waktu yang telah mereka lewati bersama.

Saat Ji A terjatuh, Lee Yeon menangkapnya, tapi Lee Yeon sendiri penuh luka. Ji A menangis memeluk Lee Yeon. Tetesan air matanya membangkitkan manik Rubah yang Lee Yeon berikan.

Aku pun telah lama menunggumu…

Bersambung

Komentar aku: eerrr… kenapa Ji A tiba-tiba lemah, ya? Bukankah biasanya dia kuat, banyak akal dan tahu tentang dunia lain? Atau kutukan untuk mereka yang mencoba hidup di dua dunia, seperti yang pernah dikatakan Lee Yeon, mulai berlaku? Here comes the knight in a shining armour… LOL!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: