Isekai Izakaya “Nobu” Ep. 01

Voice over… Saya ada di dunia alternative Aiteria. Kami membuka kedai di jalan sepi di daerah pertokoan Kyoto. Entah bagaimana, pintu masuk kedai terhubung dengan kota di Aiteria.. (Senke Shinobu)

Kapten Berthold sedang mengajar teknik pedang pada pasukannya. Ia menyuruh Hans dan Nikolaus maju menyerangnya bersamaan. Keduanya kalah telak. Mereka mengeluhkan kekuatan kapten yang diatas rata-rata manusia biasa.

Saat makan malam, selain letih berlatih sepanjang hari, pembicaraan  dari pengunjung kedai yang berputar tentang kehidupan pensiun dan pungutan pajak, membuat Hans tak berselera makan makanan yang itu-itu lagi. Rasa bir pun menjadi tak enak. Nikolaus berusaha menghibur dan berjanji membawa Hans ke kedai yang enak, kalau mereka sudah gajian besok.

Nikolaus menepati janjinya. Ia mengajak Hans ke kedai yang bahkan namanya tidak bisa ia baca. Saat masuk, Chef Nobuyuki sedang menyiapkan ikan untuk sashimi, dengan potongan yang presisi.  Begitu duduk, Nikolaus minta Shinobu memberikan mereka toriaezu zama, bir dingin.

Hans terheran-heran melihat semua. Terlebih lagi, saat bir disajikan di gelas yang adalah barang mewah di Aiteria. Satu tegukan menjadi satu gelas sekali teguk… Hans sangat menyukai toriaezu zama, ia memesan satu gelas penuh lagi.

Saat makanan pembuka datang, Hans kecewa. Karena hanya berupa kacang yang bahkan tidak dikupas. Nikolaus mengajari, itu adalah Otoshi, kudapan pembuka berupa kacang yang telah dibumbui dengan garam dan pasangan serasi untuk toriaezu zama. Hans benar-benar menyukai kedai misterius ini!

Malam ini chef menyiapkan Oden. Hari ini tidak ada sosis, jadi chef memberikan sate urat sapi sebagai gantinya. Chef Nobuyuki menerangkan komponen yang ada di Oden: Lobak putih menyerap kaldu dengan baik; konjac kentang; sate dari urat sapi yang dimasak lama agar menjadi lembut; Chikuwa (perkedel ikan) yang dipanggang; rumput laut; konjac putih; dan telur rebus.

Semua dimakan oleh Hans dengan sangat lahap. Hans merasa makan makanan dewa. Hans menyisakan kentang, karena ia bosan makan kentang. Chef Nobuyuki memberinya semangkuk kecil Karashi (Mustard Jepang). Hans berteriak, ‘Panas, lezat dan hangat…’

Nikolaus menertawakan Hans sambil menikmati Atsukan (sake panas). Atsukan cocok diminum saat makan Oden. Chef Nobuyuki menyilahkan Hans mencoba.

Kapten Berthold masuk dan duduk di samping Hans. Kali ini Hans yang menjadi pemandu. Kapten Berthold minta dimasakkan makanan dari ayam, karena ia tidak suka cumi-cumi kering dan Oden sudah habis. Di Aiteria, ayam sulit dimasak, karena biasanya mereka menggunakan ayam yang sudah tua yang tidak lagi bertelur, daging menjadi alot.

Chef Nobuyuki memasakkan ayam tepung yang digoreng dua kali, agar di dalamnya empuk, tetapi luarnya crispy. Disajikan dengan mayonnaise dan potongan jeruk lemon. Saat memakannya, kapten Berthold tidak bisa berhenti makan. Makan segigit lalu minum seteguk, ayam dan bir, adalah pasangan takdir! Kapten Berthold mengaku kalah.

Chef Nobuyuki juga memasakkan ayam goreng tepung untuk Hans dan Nikolaus. Hanya kali ini Nikolaus memeras jeruk lemon agar ayam goreng tidak terlalu berminyak, terasa lebih segar. Kapten Berthold menyesal tidak melakukan itu sebelumnya, tapi ayamnya sudah habis…

Chef Nobuyuki memasak Chicken Nanban: ayam goreng dimasukkan ke bumbu rendaman, dihidangkan bersama saus tartar yang diberi potongan halus acar. Kapten Berthold memohon agar dibolehkan mencoba. Ia berjanji, kalau Chef Nobuyuki dalam bahaya, ia akan menyelamatkannya!

Chef Nobuyuki tertawa saat menyadari meski mereka menjalani hari yang berat, mereka datang ke kedai ini, memakan makanan enak yang membuat mereka bahagia malam ini. Chef ikut merasa bahagia.

Di luar kedai, Gernot, pegawai penarik pajak, mendengarkan keramaian di kedai. Ia senang karena itu artinya, ia akan bisa menarik pajak tinggi pada kedai itu.

Santap malam diakhiri dengan kapten Berthold menyuruh Hans dan Nikolaus berlatih dengan menggunakan baju zirah berat 50 kg, karena berat badan mereka semua bertambah 20kg.

Bersambung

Komentar aku: me-rekap ini membuat air liur tidak berhenti mengalir. Ganti bir dingin dengan Coca-Cola dingin! Awwwww…. Masa pandemic ini benar-benar membuat aku kangen makanan seperti di café atau kedai ini. Dimasak saat dipesan dan langsung dimakan hangat/panas. Tapi, jarak 2 meter itu bagaimana, ya? Huhuhu… (sedih).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: