Legend of Awakening Ep. 42

Qiu Ci sempat ragu saat hendak menebas leher Lu Ping, teringat permohonan Xi Fan untuk mengampuni Lu Ping. Beda beberapa detik ini membuat Lu Ping dapat menyarangkan pedang Pemimpin Seribu Cemara ke jantung Qiu Ci. Qiu Ci bertanya apa beda Lu Ping dari Liu Song yang hendak menaklukkan Negara Shou? Lu Ping menjawab kalau ia ingin tahu berapa banyak setan di dunia ini dan meninggalkan Qiu Ci yang terluka parah.

Yan Jin dan gerombolan Shanhai memperhatikan semua itu, dan menyampaikan pesan dari Liu Song kalau Wisma Wuji telah habis. Saat Qiu Ci hendak mengejar, Yan Jin mengirimkan pukulan terakhir.

Di Wisma Wuji, beberapa anggota yang menyusup membuat keributan dan memulai pertengkaran. Anggota sekte yang lain pun terpicu dan mulai membunuh anggota Wisma Wuji. Xi Fan menemui ayahnya yang terluka parah. Bagi Xi Fan sekarang yang penting adalah Qiu Ci telah melindungi kota Jin selama ini dan Xi Fan menghormati ayahnya. Qiu Ci mewariskan pedang keluarga Yan dan berharap Xi Fan melakukan hal yang terhormat. Qiu Ci telah membayar kesalahannya dan mati secara terhormat.

Sisa-sisa anggota Wisma Wuji membereskan bekas kerusakan yang diakibatkan oleh pertengkaran yang dipicu oleh mata-mata Shanhai. Waktu kecil Xi Fan membenci ayahnya yang jarang ada di rumah. Ibu Xi Fan menenangkan dan berkata kalau satu-satunya harapan Qiu Ci adalah membesarkan Wisma Wuji. Zi Yan memeluk Xi Fan dan berkata akan mendampingi Xi Fan membesarkan kembali nama Wisma Wuji.

Liu Song menawarkan anggur pada Chu Min, rencana Liu Song membalaskan dendam Xiu Tang sudah berhasil, Qiu Ci sudah mati. Penghormatan kedua adalah untuk Negara Dan. Penghormatan ketiga untuk masyarakat yang tidak pernah mengecewakannya. Hanya dengan sedikit bantuan, mereka saling bertengkar satu sama lain. Chu Min menuduh Liu Song memanipulasi semuanya hanya untuk menghancurkan Negara Shuo, Liu Song tidak menyangkal.

Qiu Ci selalu menyarankan pada Xi Fan agar saat selagi muda melakukan apa saja yang mereka mau, tetapi saat dewasa jadilah orang yang bertanggung jawab. Xi Fan tidak menyangka saat ia harus menjadi dewasa datang tiba-tiba. Xi Fan akan menanggung semua kewajiban limpahan Qiu Ci dan Wisma Wuji. Xi Fan menyuruh Zi Yan ke Kaifeng memperingatkan Kaisar. Zi Yan tidak tahu apakah ada orang yang akan bisa menghalangi Lu Ping yang berhasil mengalahkan orang nomor satu di dunia persilatan? Xi Yan yakin ada satu orang yang bisa membujuk Lu Ping.

Di kediaman Qin Sang, sakit Qin Sang semakin parah. Seseorang melemparkan Bunga Kembar ke depan ruang Qin Sang beserta surat. ‘Bunga Kembar ini bisa menyembuhkan jalan darah. Geruslah Bunga Kembar ini dan minum bersama air hangat. Lalu, berlatih tenaga dalam selama dua hari, untuk menghilangkan racun dingin.’ Qin Sang yakin kalau Lu Ping yang memberinya Bunga Kembar. Tapi, Lu Ping menghilang saat Qin Sang mencarinya.

Qin Sang memarahi Zi Yan yang menyebabkan Mo Lin meninggal dan menjadi mata-mata Kaisar. Akibat semua itu, Lu Ping dan Xi Fan akan bermusuhan selamanya. Zi Yan tidak keberatan dihukum secara militer, selama Qin Sang mau mencari jalan mengatasi masalah yang ada.

Kaisar Zhai Rong berkata kalau Liu Yange, bangsawan Negara Dan, didukung oleh Kaisar Negara Dan karena mempunyai segel komandan. Kaisar Negara Dan menyuruh pasukan Xi Dan bergabung dengan Shanhai dan menyerang Negara Shuo akan di perbatasan. Sekarang kondisi makin sulit karena Wisma Wuji telah kehilangan Qiu Ci. Kaisar tahu kalau Qin Sang datang untuk Lu Ping. Kaisar mengajak Qin Sang datang besok saat Kaisar memberi penghargaan pada para prajurit.

Madam Jin memberi penghormatan pada Guru You Dao. Lu Ping datang dan minta waktu untuk bicara dengan Guru You Dao sendiri. Lu Ping bertanya apa Guru You Dao tidak memberi tahu apa-apa karena benar-benar ingin melindungi Lu Ping atau tidak percaya pada Lu Ping? Lu Ping tidak membalas dendam pada pembunuh orang tuanya. Sebagai Sang Pembangkit, Lu Ping malah membawa banyak kemalangan pada orang-orang di sekitarnya. Lu Ping sudah tidak ingin peduli lagi.

Dua bayangan menghampiri Lu Ping yang tertidur. Ayah-ibu Lu Ping datang ke mimpi Lu Ping. Lu Ping tidak perlu enam tenaga dalam. Lu Ping tidak peduli kota Jianghu dan segala masalahnya. Kenapa mereka melahirkan Lu Ping? Lu Ping teringat perkataan Guru You Dao, di masa depan majulah terus, jangan melihat mundur. Lu Ping terus bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan di masa depan? Lu Ping menenggelamkan diri lagi ke danau berusaha memutuskan segel terakhir. Lu Ping ingin menjadi tuan untuk dirinya sendiri, bukan untuk siapa-siapa.  

Di Wisma Wuji, Xi Fan memimpin penghormatan terakhir untuk Qiu Ci. Xi Fan menyuruh Paman Yan membagi-bagi uang pada seluruh penghuni Wisma Wuji dan menyuruh semua pulang ke rumah masing-masing. Xi Fan memutuskan menutup Wisma Wuji. Xi Fan memilih membela Negara Shuo daripada mempertahankan Wisma Wuji. Xi Fan pun berangkat untuk bergabung dengan tentara Kekaisaran.

Bersambung

Komentar aku: hu? Setuju dengan perkataan Liu Song, khalayak ramai memang tidak pernah mengecewakan. Beri saja mereka sedikit dorongan, maka kita akan saling bertengkar, meski menjunjung nama Negara yang sama. Jangankan level Negara, level antar kota pun mudah diprovokasi. Waduh, sejarah memang selalu berulang! Meski yang ini fantasi, ironis ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: