100 Hari Penuh Kebahagiaan

Judul buku:         100 Hari Penuh Kebahagiaan

Penulis:               Fausto Brizzi

Penerbit:             Penguin, 2013

Bagaimana jika dokter menvonis hidupmu hanya tersisa 4 – 5 bulan, dan bisa menjalani kehidupan normal hanya sekitar 3 bulan, karena kanker hati mu sudah masuk stadium akhir dan mulai menggerogoti paru-parumu?

Lucio Battistini berniat menjalaninya dengan penuh kebahagiaan…

Lucio Battistini, atau Lucio, lahir 40 tahun yang lalu akibat kehidupan bebas ayah-ibunya, Antonio dan Carla. Lucio dibesarkan oleh kakek-neneknya. Sebelum mengetahui kalau Lucio menderita kanker hati, Lucio bekerja di gym sebagai personal trainer dan menjadi pelatih polo bagi anak-anak di kotanya. Sewaktu menjadi PT, Lucio melakukan hal yang akan berdampak besar dalam kehidupannya, Lucio berselingkuh dengan Signora Moroni. Hal yang harus dibayar mahal oleh Lucio.

Lucio menikah dengan Paola yang memberinya dua anak, Eva, gadis kecil yang suka berbicara dan pendukung gerakan hijau, dan kakaknya, Lorenzo, pemuda cilik yang suka membongkar barang-barang tanpa bisa menyatukannya kembali. Oscar, duda, mertua Lucio sekaligus pendukung setia Lucio, membuka toko kue dan selalu memberikan Lucio donut hangat di pagi hari. Dua sahabat karib Lucio, Umberto, dokter hewan yang melajang dan Corrado, pilot Alitalia yang selalu berganti pacar. Mereka menyebut kelompok mereka ‘Three Musketeers’ lengkap dengan keisengan dan ‘kegilaan’ mereka sejak SMP. Mereka inilah kelompok inti Lucio, yang mendukung dan menyertai Lucio menjalani 100 hari terakhirnya.

Lucio mulai menghitung hari… Lucio keluar dari pekerjaan dan berniat menjalani hari dengan penuh kehidupan. Target utama: membuat Paola memaafkan Lucio. Target kedua: menjodohkan Oscar dengan Martina. Wanita yang Oscar temui saat berpura-pura menjadi turis jerman di kelompok tour yang dipimpin Martina.

Lucio memutuskan untuk tidak melakukan kemoterapi dan mencoba pengobatan alternative via diet makanan, yang hanya bertahan beberapa saat saja. Lalu Lucio memperbaiki sepeda yang sudah lama ia tinggalkan dan mulai berkeliling kota. Lucio bertemu dengan Massimiliano, pemilik toko Chitchat. Toko di mana kita membeli ‘teman instant’. Massimiliano akan menemanimu selama beberapa waktu, dan kalian bisa melakukan hal-hal yang disukai, minum the, nonton TV bersama, ngobrol, makan, dll…

Untuk mengurangi depresinya, The Three Musketeers melakukan keisengan, seperti berpura-pura menjadi Kardinal Vatican agar bisa makan gratis, terjun payung, atau mengganggu pertunjukkan opera. Lucio juga merencanakan membelikan hadiah untuk Lorenzo dan Eva sampai berumur 18 tahun, dengan bantuan Umberto. Dan, memberikan restu pada Umberto untuk menikahi Paola saat Lucio sudah tiada. Sampai suatu hari Umberto mengusulkan The Three Musketeers berkeliling Eropa dengan Euro-Train, untuk mengurangi depresi Lucio.

Hari pertama di Jerman, Lucio menyadari kalau yang terpenting baginya sekarang adalah berkumpul dengan Paola, Larenzo dan Eva. Bukan hanya Lucio yang bersedih kalau dia meninggal, tetapi mereka-mereka yang ia tinggalkan juga akan sama kehilangannya. Jadi, Lucio pulang dan mengajak Paola, Larenzo dan Eva pergi bermobil sampai ke Swiss.

Keluarga Battistini berkendara, mulai dari Craco, kota hantu; memancing di Lido; mengikuti kontes dansa di Molise (Eva dan Lucio ada di urutan kedua, dari belakang); Neosapiens Village; Pinocchio Park di Tuscany (Pinokio adalah buku favorit Lucio); Argentario; Genoa; melihat dolphin dan paus; camping; taman bermain Gardaland; menerbangkan lantera lilin di dekat Danau Garda.

Gereja San Rocco menjadi perhentian di mana Lucio melakukan janji pernikahan untuk kedua kalinya bersama Paola, yang dihadiri oleh orang-orang terdekat mereka. Dan menjadi kejutan yang tidak disangka oleh Paola. Malam itu, Paola memaafkan Lucio.

Perhentian terakhir adalah perhentian bis yang akan membawa Lucio ke Lugano, Swiss. Paola akan berkendara bersama anak-anak kembali ke rumah. Lucio akan ke klinik di Lugano, di mana ia akan melakukan ‘assisted suicide’. Hal yang terakhir yang Lucio sadari adalah neneknya mengayun Lucio sambil menyanyikan lagu selamat tidur…

Penutup: Di surga, kau boleh memilih menjadi dirimu di tahun yang terbaik dalam hidupmu. Lucio memilih berumur 8 tahun, tahun di mana mimpinya berisi mimpi-mimpi indah, mewarnai dengan Crayola dan bisa terbang keluar kamar hanya dengan membaca buku karya Stevenson dan Barrie…

Komentar aku: huahahahaha, membaca buku ini, memang mengingatkan aku tentang apa yang penting bagi kita. Kerja, harta, teman, pesta, sekolah, keluarga, silahkan putuskan… Aku setuju dengan Lucio, aku ingin Malaikat Maut menemukan aku dalam kondisi bersyukur akan kehidupan yang aku jalani, amin.

Banyak hal-hal lucu, terkadang absurd, tapi juga menyentuh hati saat membaca buku ini. Termasuk, Roberto, pemilik toko buku yang selain menjual buku-buku komersil, juga menulis buku berdasarkan pesanan dan hanya diketik untuk 1 buku saja, seharga 20 euros (Rp 320.000). Roberto menjual buku berdasarkan harga cover, meski buku tersebut terbit 50 tahun lalu.

Café yang memiliki tembok yang dibagi dua: ‘Things I Love’ dan sebelahnya ‘Things I Hate’. Pengunjung dipersilahkan menulis hal yang mereka suka atau mereka benci, yang bisa dikenang kembali saat pengunjung datang kembali beberapa tahun mendatang.

Atau, toko ‘Chitchat’, di mana bisa menjadi alternative penyegaran moral, saat kita punya beban dan ingin seseorang mendengarkan kita, tanpa menghakimi. Atau sekedar bermain ular tangga. Atau saat tak ingin sendiri, tetapi tak ingin juga berbicara apa-apa. Nice, isn’t it?

Aku beruntung menemukan buku ini. Dan surprise! Ini bukan buku tentang pembunuhan atau misteri yang biasa aku baca, dan aku menyukainya! Terima kasih, Mr. Fausto Brizzi! Semoga, suatu hari buku ini dibuat film atau drama, tapi tolong, jangan terlalu di-dramatisir. Buku ini menarik karena ceritanya mengalir dengan natural.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: