Beyond Evil Ep. 04.2

Jin Mook mengkhawatirkan kondisi Dong Sik, membuat pertahanan Dong Sik patah. Jin Mook percaya Min Jung akan pulang, seperti ia percaya Dong Sik bukan pelakunya. Dong Sik memutus pembicaraan, tapi tak bisa menahan diri, ia kembali dan meminta Jin Mok menjaga diri baik-baik.

Chief Cheol Mun tidak menyetujui permintaan pembebasan Dong Sik lebih awal. Karena mengisyaratkan kalau polisi salah tangkap dan kalau nantinya terbukti Dong Sik benar pembunuh, polisi juga yang akan disalahkan.

Jung Je memaksa masuk, meminta maaf karena seharusnya ia mengaku lebih awal, kalau ia ada bersama Dong Sik malam Min Jung menghilang. Kali ini, giliran Jung Je yang diceramahi Sr. Det. Kwak.

Ji Hwa tidak ingin mendengar pengakuan Jung Je atas dasar rasa bersalah karena tidak mempercayai Dong Sik. Tapi, kalau benar Dong Sik ada bersama Jung Je, kenapa Dong Sik tidak pernah mengakuinya? Jung Je yakin, itu karena Dong Sik tidak ingin memberatkan Jung Je, sama seperti 20 tahun yang lalu. Jung Je bergegas pergi menyiapkan surat pembebasan Dong Sik.

Hae Won – Ki Hwan – Chang Jin makan malam bersama. Chang Jin meminta mereka berhenti berbasa basi, mereka bertemu karena saling menginginkan sesuatu dari yang lain. Chang Jin ingin investasi pembangunan Munju berhasil, atau ia akan jatuh bangkrut. Chang Jin berasumsi Hae Won ingin diangkat jadi wakil daerah, dan Ki Hwan agar kaitan no telp putranya tidak terekspos di media.

Mereka butuh pengalih dan peredam perhatian dari kasus pembunuhan. Chang Jin ingin Ki Hwan menutup mulut polisi. Mereka akan sukses kalau bekerja sama. Chang Jin menekan tombol ponselnya, dan meminta Hae Won dan Ki Hwan menonton berita. Ia juga menyuruh mereka tidak mempedulikan Dong Sik.

Jung Je menjemput Dong Sik yang baru dikeluarkan dari penjara. Dong Sik mengingatkan kalau Jung Je mau berbohong seharusnya berbohong lebih cepat. Punggung Dong Sik sakit karena tidur di lantai penjara. Jung Je membalas, apa Dong Sik tidak percaya padanya? Dong Sik tersenyum dan mengajak makan malam. Joo Won menguntit mereka.

Dong Sik – Jung Je pergi ke resto tempat Sang Bae mentraktir. Ibu pemilik yang dulu bergosip, kali ini melemparkan segenggam garam ke kepala Dong Sik, seolah mengusir roh jahat. Ia terus menyerocos, menuduh, bahkan menyalahkan Dong Sik atas jatuhnya nilai properti mereka. Dong Sik menerima itu dengan tenang. Joo Won memperhatikan dari balik jendela.

Mereka pergi ke toko daging Manyang. Jae Yi sudah menyiapkan makan malam dan ekstra sepotong tahu untuk Dong Sik. Jae Yi melarang Dong Sik bersih-bersih dan Jung Je membawakan baki makanan lalu mengganti saluran TV.  

TV menyiarkan berita wawancara teman sekolah Min Jung. Semuanya menuduh Min Jung sebagai gadis penghibur, tukang pesta, gadis yang lari dari rumah, bahkan ada yang menganggap pencarian Min Jung hanya menyia-nyiakan uang pajak rakyat. Dong Sik mulai tertawa terbahak-bahak. Kedua temannya terdiam.

Joo Won berdiri di depan pintu rumah Dong Sik. Ia terus memikirkan kelakuan aneh Dong Sik. Ia mendengar dari balik jendela, isakan tangis dan ucapan maaf Dong Sik pada Min Jung. Joo Won masuk ke dalam basement, dan mengacungkan pistol pada Dong Sik. Tidak ada salahnya berhati-hati, apalagi Dong Sik telah membunuh partnernya sendiri.

Pastinya, bagi Joo Won, tangisan dan permintaan maaf Dong Sik, terdengar seperti pengakuan. Joo Won mengakui ia siap merekam pengakuan itu. Dong Sik mengingatkan dua hal: pengakuan di bawah tekanan tidak diterima pengadilan, dan CCTV yang ia pasang merekam kegiatan mereka.

Joo Won tidak peduli, bukti CCTV bisa ia hilangkan. Dong Sik mulai menjelaskan kenapa Joo Won tidak akan pernah bisa menahannya.

Pertama, kasus Yu Yeon dan Ju Seon, Dong Sik bebas karena alibi yang kuat dan bukti yang lemah. Sama seperti sekarang, ia pun akan terbebas dari kasus Min Jung.

Kedua, kasus Jeong Im. Kasus wanita hilang sangat banyak terjadi di Korea. Siapa yang bisa meyakinkan Jeong Im lari dari rumah atau diculik/dibunuh? Ketiga, kasus wanita ponsel burner. Identitas wanita itu tidak akan dikeluarkan untuk melindungi kepentingan Joo Won.

Jadi, apa Joo Won akan menembak Dong Sik? Membunuh orang tidak gampang, dan Dong Sik tahu Joo Won tidak pernah membunuh. Ia memegang pistol dan mengarahkannya ke dada lalu dahinya. Joo Won benar-benar harus memastikan ia membunuh Dong Sik, atau hidup Joo Won dan ayahnya akan hancur berantakan.

Joo Won terserang panik, ucapan Dong Sik membuatnya sulit bernafas. Ia bergegas keluar dari basement, berusaha memasukkan udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya. Semua ucapan dan tindakkan Dong Sik berputar-putar di kepalanya. Joo Won terduduk di mobilnya sampai pagi menjelang.

Ji Hwa memarahi Ji Hoon, yang membocorkan kasus ini ke media. Ji Hwa ingin tahu kenapa? Malam itu saat Ji Hoon berjalan pulang, ia melihat Min Jung berjalan dengan wajah gembira menemui seseorang.

Joo Won berjalan ke kantor polisi di mana para wartawan berdiri menunggu. Ia telah mengambil keputusan.

Joo Won membuat pernyataan bahwa pembunuhan Min Jung adalah bagian dari beberapa seri pembunuhan yang diselidiki oleh divisi Hubungan Internasional. Mereka menemukan tiga korban yang dibunuh dengan MO yang sama sekitar 9 bulan lalu, ditambah beberapa korban yang semuanya wanita, mencapai total 7 orang korban dari pembunuh serial yang memulai aksinya sejak 20 tahun yang lalu.

Dong Sik mendengarkan wawancara Joo Won dan tersenyum. Joo Won kembali ke basement Dong Sik. Dari semua perkataan dan perbuatan Dong Sik, terutama tentang tidak penting siapa yang melakukan, Joo Won mengambil kesimpulan. Ia menyebutkan semua nama korban dan bertanya, kalau Dong Sik tidak membunuh mereka, siapa sebetulnya pembunuh asli yang Dong Sik lindungi?

Bersambung

Komentar aku: Kalau begitu mungkin perbuatan Dong Sik menjadi ‘gila’ dan berusaha mengaitkan pembunuhan Min Jung dengan kasus 20 tahun lalu, adalah agar orang tidak lupa dan polisi terus melakukan penyelidikan karena  pembunuh asli masih terus berkeliaran mencari mangsa? Seorang monster untuk melawan monster? Aku pikir sekarang keduanya jadi monster yang kepalang basah dan mengorbankan diri sendiri. Dong Sik dengan memotong dan mendisplay jari Min Jung (atau mungkin menemukan dan memindahkan jemari itu?). Joo Won dengan memberikan wawancara yang akan mengundang skandal bagi diri dan ayahnya sendiri. Ouch…

Beyond Evil Ep. 04.1

Forensik mulai memproses basement Dong Sik. Chief Jung Cheol Mun dari kepolisian Munju marah-marah karena kebocoran berita di media, ditambah tidak adanya surat perintah dan Dong Sik masih mengenakan pakaian polisi.

 Det. Do Su melakukan apa yang Dong Sik sarankan, menutupinya dengan selimut dan menyelinap ke kantor. Tapi, di depan pintu masuk, Dong Sik sengaja melepas selimut. Membuat wartawan gaduh melihat tersangka adalah seorang polisi.

Di basement, forensik bingung kenapa hanya ada satu titik noda darah di atas meja?

Episode 4: Menangis

Sr. Det. Kwak mendapat text menyuruh mengizinkan Chief Sang Bae dan  Joo Won mendengarkan interogasi Dong Sik. Sr. Det. Kwak masih kesal karena kejadian tadi, seolah Dong Sik ingin semua orang tahu penangkapannya.

Dong Sik protes, ini pasti kerjaan Joo Won sembarangan menuduh kalau Dong Sik yang menempatkan ponsel burner itu di gunung Simju. Ia sedang berjalan-jalan di gunung membawa ramen di plastik hitam.

Dong Sik sengaja memberi jawaban yang melingkar-lingkar, membuat Do Su naik darah. Dong Sik dengan acuh meneruskan berceloteh tentang ramen. Lalu tertawa terbahak-bahak membahas layar dan foto diri.

Muka Dong Sik berubah menjadi serius. Apa polisi lebih tertarik, berbicara tentang penahanan tanpa surat resmi, membiarkan media menyebarkan foto diri, meski tanpa bukti yang jelas bahwa orang itu bersalah? Ia memandang tajam ke arah cermin dua sisi.

Dong Sik berbalik menekan Ji Hwa, apa kali ini ia akan berani bersaksi? Ji Hwa membalas, ia bersaksi kalau Dong Sik benar suka jalan-jalan ke gunung. Tapi, Ji Hwa tidak bisa bersaksi kenapa ada bukti berkas setes darah Min Jung yang ditemukan di basement Dong Sik.

Ji Hwa terus mendesak. Dong Sik terlihat stress dan balik bertanya, apa itu artinya  Dong Sik yang menculik, menyeret, memotong jemari, akhirnya membunuh Min Jung dan untuk menghilangkan bukti, ia membersihkan basement dengan bleach dan detergen?

Semua siap mendengar pengakuan Dong Sik.

Muka Dong Sik berubah dan ia tertawa. Semua polisi tahu, berkas darah yang dibersihkan dengan bleach dan detergen tetap akan terlihat dengan luminol. Lalu, logiskah kalau ditemukan hanya setitik? Chief Sang Bae melirik tajam pada Sr. Det. Kwak.

Dong Sik berjalan ke cermin dua sisi, membenarkan rambut yang terurai. Chief Sang Bae melampiaskan kekesalan pada Sr. Det. Kwak, pertunjukkan polisi yang gegabah dan tanpa didasari logika! Ia juga menekankan kalau kamera yang merekam kegiatan Dong Sik bersih-bersih justru memperkuat posisi Dong Sik.

Joo Won membantah, ia tahu pasti Dong Sik membunuh Min Jung bukan di basement, tapi di tempat di mana berkas darah adalah lumrah, dan menggunakan pisau atau gergaji tidak akan menimbulkan kecurigaan.

Polisi dan forensik berdatangan memenuhi toko daging Manyang dan mulai mengambil foto dan bukti. Jae Yi membaca surat penggeledahan resmi sambil menggigit bibir, menahan tangis. Penduduk yang lewat bergosip kalau dulu ibu Jae Yi yang menghilang, sekarang teman dekatnya.

Tidak hanya mobil, Jae Yi melempari Joo Won dengan telur. Joo Won dengan dingin mengingatkan kalau Jae Yi ingin marah karena tokonya digeledah, marahlah pada diri sendiri, kenapa akrab dengan seorang pembunuh seperti Dong Sik? Polisi yang lain menghalangi agar Jae Yi berhenti. Ibu-ibu yang melihat bergosip melihat Joo Won.

Jae Yi ganti berkata dengan nada tinggi, apa Joo Won terganggu dengan gosip ibu-ibu itu? Joo Won hanya terkotori telur, bisa mandi untuk membersihkannya. Tapi, Joo Won memberikan cap pembunuh pada Dong Sik, yang akan terbawa seumur hidup.

Jae Yi melempar surat perintah dan menuduh Joo Won hanya ingin pamer pertunjukkan. Joo Won menganggap Jae Yi menghina kredibilitas petugas polisi. Joo Won mengingatkan agar Jae Yi tidak melewati batas, dibalas dengan lemparan telur ke leher belakang Joo Won.

Jae Yi ingin tahu, apa hasil penyelidikan Joo Won nantinya.

Chief Sang Bae menerobos masuk loker, menyuruh Joo Won membersihkan diri dan berganti baju. Ia tidak pernah menyetujui izin cuti Joo Won. Hidup tidak mudah, jadi biasakanlah.

Ji Hoon mencuci mobil Joo Won, ia hanya ingin memberi tahu kalau Jae Yi bukan gadis yang jahat. Joo Won tidak mau mendengar. Baginya, Ji Hoon menganggap semua orang baik, dulu Dong Sik, sekarang Jae Yi. Kali ini, Ji Hoon membantah Joo Won lah yang bersalah, mengobrak-abrik kehidupan mereka yang terpenjara dalam kota yang menyedihkan ini.

Petugas forensik melaporkan hasil penelitian toko daging. Hanya ada bekas darah manusia yang sudah tua dan mungkin sudah terkontaminasi di gagang satu pisau. Ji Hwa langsung menebak kalau darah itu adalah milik Han Jeong Im, ibunda Jae Yi.

Kwon Hyeok memberi tahu hasil itu pada Joo Won, artinya mereka mengacau. Kwon Hyeok menegaskan, berkas darah manusia meski ada, tapi hanya sedikit dan bukan darah Min Jung. Artinya, pembunuhan tidak mungkin dilakukan di toko daging Manyang + mereka harus membebaskan Dong Sik.

Kwon Hyeok mengingatkan, seharusnya yang marah adalah Ki Hwan, yang mendesak penahanan Dong Sik, dan, Kwon Hyeok yang mengeluarkan surat penggeledahan. Mereka berdua telah dibodohi Joo Won.

Kwon Hyeok menyuruh Joo Won berhenti mengacau. Ini bukan sekolah, dan dunia tidak berputar di sekeliling yang mulia Joo Won. Kwon Hyeok berbalik badan, pergi menjauh sambil tersenyum.

Joo Won teringat nama itu dan memeriksa foto flyer orang hilang dari dinding basement Dong Sik. Membandingkan nomor telpon di flyer, ia baru sadar kenapa darah Jeong Im ada di pisau dari toko daging Manyang.

Jae Yi membersihkan toko dan menemukan flyer lama. Ia mengelus flyer itu dan berjanji mengembalikan toko daging ke kondisi semula. Dan setelah ibunya kembali, ia akan menyerahkan toko ini dan pergi tidak akan pernah kembali lagi.

Joo Won memperhatikan semua itu dari pinggir jalan. Ia tahu, ia berhutang maaf pada Jae Yi.

Joo Won mendatangi Dong Sik yang dipenjara. Mereka kembali beradu mulut. Joo Won menuduh Dong Sik membuat orang menyukainya sebagai jebakan sebelum dibunuh, seperti ia membunuh Jeong Im.

Dong Sik membalas kalau wanita berponsel burner, itu adalah jebakan yang dikirim Joo Won. Apa wanita itu tahu kalau Joo Won mendorongnya ke kematian?

Ji Hwa pusing dan melarang anak buahnya terus mencoba mencari tahu sumber kebocoran. Tak lama, Do Su datang mengabarkan kalau Jin Mook  menjenguk Dong Sik di penjara.

Bersambung

Komentar aku: Groooaar… Yeo Jin Goo bermain dengan bagus di sini, bisa mengimbangi kegilaan Shin Ha Kyun. Sedemikian, sehingga karakter Joo Won, yang benar-benar terbutakan oleh emosi dan arogansi, terbawakan dengan baik.  Membuat aku ingin ikutan Jae Yi melemparkan telur… Tapi sayang telurnya, telur itu enak dibuat telur mata sapi setengah matang, dimakan dengan kornet dilumuri tepung tipis lalu digoreng, atau kuning telur mentah di atas spaghetti carbonara. Yummyyyyy…

Beyond Evil Ep. 03.2

Pihak kepolisian Munju terus melakukan penyusuran di area gunung, meski hari sudah malam. Tiba-tiba, salah satu anjing pelacak menggonggong. Ji Hwa dan sr. det. Kwak berlari ke arah suara gonggongan dan menemukan sebuah ponsel yang nyaris tertutup dedaunan kering.

Joo Won menerima email rekaman CCTV yang ia minta dari ayahnya. Ia ingat melihat Dong Sik di basement kantor polisi Munju sekitar pukul 15.00. Tetapi, setiap video, dari dua kamera yang berbeda, selalu berhenti sebelum mencapai pukul 15.00.  

Esok harinya, Joo Won menunggu di depan ruangan Jung Je, sambil terus memperhatikan kamera. Setelah pintu dibuka oleh Jung Je, Joo Won langsung memeriksa box file dan tertawa terbahak-bahak. Ia memperlihatkan semua file yang sebelumnya hilang. Jung Je mengaku ia menemukan file-file itu terselip di box lain, dan mengembalikan pada tempatnya.

Joo Won langsung menuduh Jung Je sebagai kaki tangan Dong Sik. Ingatan Jung Je kembali ke saat ia diinterogasi Sang Bae. Jung Je terus bersikeras kalau Dong Sik ada bersamanya semalaman. Tapi, Sang Bae mengancam akan memukulinya kalau terus berbohong.

Dong Sik menghadap chief Sang Bae, minta izin cuti. Ia merasa tidak sepantasnya ikut penyelidikan, karena ia adalah saksi mata dan tersangka dari 20 tahun lalu. Saat chief Sang Bae menolak dan menyebutnya pembuat onar, Dong Sik bertanya apa chief Sang Bae akan memukulinya lagi seperti 20 tahun lalu?

Dong Sik mengambil cawan teh milik Sang Bae, menyindir kalau Sang Bae tidak perlu merasa bersalah. Penyelidikan 20 tahun lalu tidak secanggih sekarang, sehingga kekerasan dibenarkan untuk mendapatkan pengakuan. Chief Sang Bae mengambil cawan itu dan berharap Dong Sik tak pernah memaafkannya.

Dong Sik tidak percaya zaman telah berubah. Dulu & sekarang, kalau mau menangkap pembunuh, mereka harus mendapatkan pengakuan. Apa pun harus dilakukan agar mendapatkan pengakuan itu. Bagi Dong Sik, untuk bisa menangkap monster, kita harus menjadi monster serupa. Tidak ada jalan lain.

Jung Je menelpon Dong Sik memberi tahu kalau Joo Won datang, menemukan file dan tertawa seperti orang gila. Dong Sik balas tertawa, membuat Jung Je heran, apa yang lucu dari semua itu? Dong Sik menutup telpon dan membatalkan permintaan cutinya.

Dong Sik keluar dan melihat Joo Won telah menunggunya dengan mobil patroli. Kali ini, Joo Won bersikeras untuk mengemudi, karena pastinya Dong Sik masih berduka atas kematian Min Jung yang sudah seperti keponakannya sendiri. Muka Dong Sik mengeras.

Joo Won sengaja mengambil rute berbeda dan mengarahkan mobilnya ke toserba. Ia ingat pepatah kalau penjahat selalu kembali ke tempat ia melakukan kejahatan. Mereka melihat Jin Mook keluar dan jongkok tersungkur di samping meja temuan jemari. Joo Won memperhatikan raut muka Dong Sik lekat-lekat.

Menjawab pertanyaan Joo Won, bagi Dong Sik tidak penting ‘siapa’ yang mengambil dan mengambalikan file-file itu. Perhatian Joo Won terpotong, karena menerima telp dari Ji Hwa menyuruhnya datang, segera.  

Ji Hwa mengajukan beberapa pertanyaan. Joo Won dengan tegas memastikan kalau ada di Munju hanya sebelum mulai bekerja dan waktu berumur 7 tahun, tidak diantaranya. Ia juga tahu siapa itu Min Jung, tapi tak kenal dekat. Sebatas bertemu saat Dong Sik membawa Min Jung yang mabuk berat ke kantor polisi.

Ji Hwa menunjukkan gambar ponsel yang mereka temukan. Dari ponsel itu didapat: tiga text, bau serupa wangi Min Jung, dan text dikirim ke no ponsel pribadi Joo Won. Joo Won bersikeras tidak kenal dekat dengan Min Jung tapi terdiam saat ditanya ponsel itu milik siapa.

Ki Hwan membanting laporan forensik tentang ponsel yang ditemukan yang dibawa oleh Kwon Hyeok. Ki Hwan menjanjikan promosi sebagai jaksa khusus violent-crimes di kota Munju, kalau Kwon Hyeok membantunya menangani kasus ini. Ki Hwan minta terus dikhabari hasil penyelidikan kasus ini.

Di luar ruangan, Kwon Hyeok tertawa senang, dan berterima kasih pada Joo Won, membuatnya mendapat kesempatan emas dari Ki Hwan.

Anggota dewan Hae Won mengunjungi kantor polisi Munju dan memuji-muji kinerja mereka. Jung Jae yang baru kembali melihat mobil ibunya, perhatiannya teralih melihat Lee Chang Jin, CEO JL Construction yang berjalan. Ia buru-buru masuk kantor dan meminta ibunya keluar. Hae Won menjanjikan pada Sr. Det. Kwak kalau ia terpilih, ia akan membantu polisi Munju.

Di samping mobil, Jung Je membentak ibunya yang dianggap terlalu ikut campur urusan polisi, lalu memohon agar tidak pernah bekerja sama dengan Chang Jin.

Di parkiran mobil, Chang Jin menyapa dan memuji Ji Hwa. Ji Hwa nyaris memukulnya saat Chang Jin mengaku ia kangen bekas istrinya. Akhirnya, Chang Jin mengaku kalau ia akan kembali menetap di Munju dan menjalankan bisnisnya, ia juga minta agar Ji Hwa menjauhinya.

Joo Won luar biasa kesal saat Kwon Hyeok mengatakan kalau Ki Hwan meminta Kwon Hyeok menjadi pengacara untuk kasus pembunuhan di Munju.  Kwon Hyeok menyarankan Joo Won mengambil berkas penyidikan yang ia bawa, agar tidak menyesal. Karena DNA mayat perempuan yang ditemukan ada di ponsel yang memiliki contact nomor Joo Won.

Ki Hwan memarahi Joo Won. Joo Won membantah, ia akan bersikeras menempis semua tuduhan dan hubungan dengan mayat wanita yang ditemukan. Ki Hwan khawatir polisi akan melakukan rujuk silang dengan divisi hubungan internasional.

Joo Won berteriak tidak akan ada yang bisa melacak siapa itu Lee Geum Hwa, yang hanyalah seorang imigran gelap!  Ki Hwan menjadi marah, kalau kasus ini sampai keluar ke media, akan ada skandal yang akan mengaitkan Joo Won dan dirinya. Apa Ki Hwan musti kehilangan jabatan barunya karena kebodohan Joo Won?

Joo Won terpekur. Tiba-tiba pandangannya terarah pada satu detil yang dituliskan di laporan: ditemukan di gunung Simju. Kenapa ponsel itu bisa ada di gunung Simju?

Staff polisi Manyang bergosip tentang kasus itu. Gwang Young minta chief Sang Bae jujur pada mereka. Apakah Joo Won terlibat karena ia dipanggil oleh kepolisian Munju dan gosip terbaru, DNA mayat wanita ada di ponsel itu?

Joo Won mendengar semua itu dari balik pintu kantor polisi. Ia masuk dan mengakui kebenaran gosip itu. Karenanya, ia meminta maaf sekaligus izin cuti pada chief Sang Bae. Joo Won juga meminta maaf pada Dong Sik, menunduk hormat dan pergi keluar.

Dong Sik menyusul Joo Won, menunduk dan berterima kasih.  Saat menunduk, ia tertawa terbahak-bahak, tapi mukanya langsung berubah biasa saat ia mengangkat mukanya. Joo Won menjadi terprovokasi dan bersumpah tidak akan pergi sampai berhasil menangkap Dong Sik.

Dong Sik bukannya menenangkan, malah semakin mencemooh, mengatakan kalau Joo Won mengalami breakdown dan perlu terapi. Joo Won semakin marah dan mencengkeram kerah baju Dong Sik. Dong Sik mengingatkan mereka terekam kamera CCTV. Ia melepaskan cengkeraman Joo Won, menunduk dan masuk ke dalam kantor. Joo Won berusaha menahan emosinya.

Joo Won pergi ke gunung Simju. Ia memperhatikan kamera yang terpasang di sekitar. Seorang penghuni menjelaskan kalau tidak ada CCTV yang aktif di daerah ini dan tidak seperti kota Seoul, di sini orang bebas parkir mobil di dekat kediaman mereka.

Joo Won mencoba mencari mobil yang diparkir di dekat situ dan menemukan sebuah mobil dengan kamera terpasang di kaca spion dalam. Ia mendapat izin untuk mengambil simcard dari kamera mobil.

Dari gambar yang terekam, Joo Won melihat Dong Sok berjalan dengan membawa kantong plastik hitam. Joo Won lalu pergi menuju rumah Dong Sik, dan masuk ke dalam basement. Ia menemukan bleach pembersih, dinding bertempelkan flyer orang hilang, dan meja dengan bekas setitik darah.

Dong Sik memperhatikan ponselnya dengan seksama. Mukanya datar tanpa reaksi. Ji Hwa masuk dan menahan Dong Sik atas tuduhan menculik dan melukai Min Jung. Di ponsel Dong Sik, terlihat gambar live CCTV merekam Joo Won yang sibuk memeriksa basement Dong Sik.

Joo Won keluar dari rumah Dong Sik saat polisi berdatangan dan menyegel rumah Dong Sik. Ia membaca text yang dikirim untuknya kalau penahanan Dong Sik dilakukan tanpa surat perintah dan Dong Sik dibawa ke kantor polisi Munju. Joo Won tersenyum, begitu pula Dong Sik yang sedang dibawa dengan mobil polisi.

Bersambung

Komentar aku: Ha! Entah siapa sekarang yang waras vs gila, benar vs salah, buruan vs pemburu, polisi vs pembunuh di drama ini. Masing-masing bersikeras dengan teori dan kebenaran yang mereka pegang. Akhirnya, jadi personal dan bias. Aku juga heran, seharusnya Dong Sik berbesar hati menerima permintaan maaf Joo Won, tapi kenapa malah memprovokasi? Dan, tidak mungkin detektif seperti Dong Sik kehilangan 1 titik darah di mejanya, yang terlihat begitu nyata. Gegara drama ini aku jadi baca cara membersihkan darah agar tidak terdeteksi gen nya. Dan ternyata, bisa : https://www.reuters.com/article/us-blood-cleaning-idUSTRE4A498620081105 kekeke… pastinya jejak darah itu ditinggalkan oleh Dong Sik untuk ditemukan oleh Joo Won. Lagi-lagi, kenapa?

Beyond Evil Ep. 03.1

Chief Sang Bae membujuk Jin Mook untuk meninggalkan toserba. Di kantor polisi, Ji Hoon menutup telpon dari wartawan. Di toko daging ‘Manyang’ Jae Yi berusaha terus bekerja, tapi meski akhirnya menyerah. Jung Je duduk menatap langit-langit di kantornya, dan tidak mempedulikan panggilan dan text dari ibunya. Joo Woon minum miras, melirik ke text dari Ji Hwa dan menulis di crime-board di apartmentnya.

Di basement rumahnya, Dong Sik tak jadi menginjak semut yang ia kibaskan. Ia mengingat semua pembunuhan yang terjadi, mulai menarik lepas semua file dari crime board di depannya, dan tersenyum.

Episode 3: Senyum

Dong Sik membawa file itu ke kantor Jung Je. Dong Sik minta Jung Je keluar ruangan, tidak terlibat dengan apa yang ia lakukan, mengembalikan file yang ia curi. Joo Won yang datang atas text Ji Hwa, mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.

Joo Won berusaha mendengar pengakuan dari Dong Sik, kalau ia yang membunuh Min Jung. Sayangnya, ponsel Joo Won tiba-tiba berdering, membuat Jung Je – Dong Sik berhenti berbicara. Joo Won menyelinap keluar, dan Dong Sik menutup pintu di belakangnya.

Dong Sik tidak peduli kalau ada yang menuduh dirinya, asal bukan Jung Je yang jadi sasaran. Dong Sik membaca pesan dari Ji Hwa. Pesan itu membuat Dong Sik menebak siapa yang ada di balik pintu tadi.

Dong Sik masuk ke ruang saksi, ia bertanya kenapa tidak diinterogasi di ruang utama? Joo Won membela Ji Hwa, yang pastinya mengerti kalau itu dilakukan, media akan berpesta menunjuk Dong Sik sebagai pembunuh.

Ji Hwa tanpa basa-basi menerangkan hasil penyelidikan polisi: sidik jari di kantong plastik, jejak kaki di depan toserba, jemari yang masih dalam penyelidikan NFS, semuanya tidak memberikan bukti kuat, sama seperti pembunuhan 20 tahun lalu.

Joo Won memprotes perlakuan Ji Hwa. Seharusnya, hasil penyelidikan polisi tidak dibagikan pada Dong Sik, juga Dong Sik harus dikeluarkan dari team penyelidik karena hubungan keluarga dengan korban.

Dengan dingin Dong Sik bertanya apa yang salah, kalau ia, selaku polisi ingin menangkap orang yang membunuh orang yang ia kasihi? Apa salah kalau Dong Sik memberi briefing tentang kemiripan pembunuhan 20 tahun lalu, atau polisi salah karena memberi tahu tersangka pembunuhan briefing tentang pembunuhan yang sekarang?

Ji Hwa menengahi dengan memanggil detektif Kang Do Su sebagai pengawas interogasi ini, dan mulai mencatat kesaksian mereka. Joo Won kembali protes karena Ji Hwa sebagai detektif yang bertanggung jawab justru menguatkan alibi tersangka. Ji Hwa minta Joo Won menerangkan keberatannya.

Pendapat Joo Won didasari atas fakta bahwa dua tindak kejahatan dengan rentang waktu 20 tahun, terjadi dengan MO (Modus Operandi) yang persis sama yang detailnya tidak pernah dikeluarkan ke media. Kesimpulannya: pembunuh musti orang yang sama. Ditambah: orang yang mengaku sebagai saksi, kembali tinggal di tempat ini dan menemukan jasad korban. Pastinya, bukan sebuah kebetulan belaka.

Joo Won tidak peduli, polisi sengaja bertindak bodoh atau tidak tahu bagaimana bekerja dengan benar. Apa pun itu, Joo Won baru akan bekerja sama kalau polisi yang bertugas diganti. Ia memberi salam dan mulai berjalan ke luar. Tapi Dong Sik mengahalanginya.

Dong Sik membalikkan semua perkataan Joo Won. Bagaimana dengan Joo Won yang tertarik dengan file kasus dan juga kembali ke desa ini setelah dua puluh tahun berlalu. Bagaimana kalau pembunuh adalah Joo Won yang mempelajari detail dari file polisi, juga menjadi saksi untuk dua pembunuhan terakhir, dan juga menemukan jasad korban?

Joo Won makan malam dengan ayahnya. Joo Won tidak bisa tinggal diam atau menganggap pembunuhan Geum Hwa sebagai copycat, seperti permintaan Ki Hwan. Apalagi, Dong Sik, detektif yang dikagumi ayahnya, menuduhnya membunuh Min Jung. Ki Hwan mengingatkan Joo Woon bertindak lebih emosional dan gegabah, membuat Dong Sik terlihat lebih rasional, dan akan membuat Joo Won kesulitan menangkap si pembunuh.

Ki Hwan bertanya bagaimana dengan alibi Joo Won sendiri? Joo Won ingat akan alibinya yang dibalikkan oleh Dong Sik: pulang ke unit sendirian, tapi pagi-pagi buta sudah ada di depan rumah Dong Sik, yang berada di dekat TKP. Joo Won minta bantuan ayahnya memberikan rekaman CCTV yang berada di dekat ruang file dan ruang interview basement polisi Munju.

Polisi mengerahkan petugas dan anjing pelacak menyusur daerah hutan mencari Min Jung. Di rumah, Dong Sik sibuk mengatur CCTV di basement. Ia lalu mulai membersihkan dan menyikat basement, dan melihat ke bercak darah di meja saat bel rumah berbunyi.

Ji Hwa – Jung Je datang berkunjung setelah menengok Jin Mook. Jung Je menyuruh Dong Sik duduk dan memakan sup daging yang dimasakkan Jae Yi. Jung Je mengingatkan kalau yang hidup musti meneruskan hidup mereka. Ji Hwa bertanya pada Dong Sik, apakah Min Jung masih hidup?

Dong Sik mengalihkan jawaban, ia sadar selama 20 tahun ini, tidak ada yang pernah melapor kalau melihat perempuan berusia 40 tahun, yang mirip Yu Yeon dan tidak memiliki jari, artinya: Yu Yeon sudah meninggal. Ji Hwa tidak mengerti kenapa Dong Sik begitu yakin Min Jung sudah meninggal.

Dong Sik tertawa, ia yakin polisi tidak akan menemukan jasad Min Jung, karena si pembunuh tidak ingin memberikan Min Jung kembali. Di luar rumah, Ji Hwa bertanya pada Jung Je apa Dong Sik tahu siapa pembunuh Min Jung? Jung Je membela Dong Sik, Dong Sik sudah kehilangan kewarasan dan tak tahu apa yang ia bicarakan atau perbuat. Mereka berdua saling berusaha meyakinkan kalau masing-masing sama-sama percaya bahwa bukan Dong Sik yang melakukan semua pembunuhan itu.

Joo Won memperhatikan foto kumpulan polisi di toko daging Manyang. Foto yang sama yang ia perlihatkan pada Geum Hwa, wanita yang ia jadikan umpan, sekaligus korban ke-6. Geum Hwa mengaku tak kenal. Joo Won memberikan ponsel dengan penyadap lokasi dan mengancam melaporkan status Geum Hwa sebagai imigran ilegal, kalau menolak membantu.

Pada hari Geum Hwa menghilang, masuk text ke ponsel Joo Won dari Geum Hwa, berisi text seperti yang Joo Won minta.

Bersambung

Komentar aku: whoa, sekarang sedikit lebih mengerti kenapa Joo Won begitu terobsesi membuktikan kalau Dong Sik adalah si pembunuh serial desa Munju. Pertama, mengurangi beban bersalah karena melanggar aturan atasan sekaligus membuat Geum Hwa sebagai umpan dibunuh (itu tiga kesalahan, ya? Melanggar atasan + mengancam Geum Hwa untuk bekerja sama padahal statusnya imigran ilegal + membuat Geum Hwa terbunuh) dan Ki Hwan mengagumi otak Dong Sik. Bayangkan… hidup di bawah bayang seorang ayah lalu dibandingkan dengan (tersangka) pembunuh serial. Tidak heran, jadi ‘gila’ terobsesi pada Dong Sik dan (sangat) mengaburkan logika.

Beyond Evil Ep. 02.2

Tak disangka Sang Bae menelponnya, Joo Won langsung kembali ke kantor. Sang Bae mengingatkan di kota ini, tidak ada rahasia, itu sebabnya ia tahu Joo Won ada di kantor polisi Munju. Joo Won menyebut nama Bang Ju Seon dan bertanya kenapa Sang Bae memperkejakan Dong Sik? Sang Bae menyuruh Joo Won tutup mulut.

Bertentangan dengan asumsi Joo Won kalau Sang Bae menyukai dan menutupi keterlibatan Dong Sik. Dong Sik bersikeras mencari Wu Cheol, berdiri selama 6 jam bersama Seok Gu, bukan karena dedikasinya sebagai polisi. Tetapi untuk menutupi kepedihan hati yang teramat dalam.

Ayah Dong Sik meninggal karena beku dalam salju, menunggu kepulangan Yu Yeon. Ibu Dong Sik kehilangan ingatan saat menemukan jenazah suaminya. Dong Sik tidak ada di kota ini saat hal itu terjadi, tapi tundingan orang-orang terus melekat di dirinya. Karenanya, Sang Bae minta agar Joo Won tidak meneruskan obsesinya.

Joo Won harus berkaca pada Sang Bae, yang menghancurkan hidup Dong Sik dengan gegabah menuduhnya sebagai pembunuh. Seorang polisi tidak boleh sembarangan menggunakan otoritasnya.

Dong Sik menemui temannya, Kim Dong Hyun, dari kantor polisi Met. Seoul. Divisi Hubungan Internasional sepertinya berusaha memecahkan kasus rahasia, tiba-tiba seorang anggota elit mereka dengan koneksi tinggi, meminta ditransfer, dan dia adalah Joo Won. Divisi Hubungan Internasional berurusan dengan imigran ilegal.

Dong Hyun menerangkan kemungkinan besar kasus itu menyangkut seorang imigran legal yang menjadi pembunuh berseri dan korbannya semua adalah wanita.

Joo Won memperhatikan papan penyelidikan yang ia buat. Ia menambahkan data di salah satu foto: korban keenam, Lee Geum Hwa, 2020.10.19. Lalu memperhatikan foto Dong Sik di sampingnya. Ia menghela nafas saat Ki Hwan menelpon memberi tahu kalau Unit Investigasi Daerah mencari tahu tentang Joo Won.

Joo Won minta ayahnya tidak khawatir dan langsung menutup telpon. Joo Won tidak menyangka kalau Dong Sik masih punya koneksi di Met. Seoul yang bersedia membantunya.

Dong Sik kembali menemui Jin Mook di ruang RS ibunya. Ia langsung menebak kalau Min Jung masih juga tidak pulang. Dong Sik menelpon Ji Hwa, ia tahu bahwa NFS tidak bisa mengindetifikasi mayat perempuan itu. Tapi, kali ini Dong Sik minta bantuan Ji Hwa melacak no telpon Min Jung.

Jae Yi memaksa Ji Hoon makan lalu melakukan hal-hal yang menyenangkan, akan lebih baik daripada diam dan memikirkan mayat yang ia temukan. Tiba-tiba telp Ji Hoon berbunyi, dan isinya adalah foto-foto Min Jung. Dong Sik menyuruh Ji Hoon mencari tahu nama klub tempat Min Jung berpesta, dari foto-foto itu.

Dong Sik langsung menuju ke klab, dan berhasil mengetahui lokasi Min Jung.  Ia memperingatkan pemuda yang menghabiskan waktu bersama Min Jung, bahwa meninggalkan seorang gadis dalam kondisi berat memang bukan kejahatan. Tapi Dong Sik bisa melacak identitas pemuda itu, jadi sebaiknya ia berhati-hati.

Min Jung terbangun di kursi kantor polisi, dengan tangan terbogol ke besi pembatas. Dong Sik datang dan menyuruh Min Jung tidur lagi saja, ia tak kan keluar dari kantor polisi kalau belum sadar. Dong Sik menyilahkan Joon Won melepas borgol Min Jung, tapi kalau lari, maka Joo Won harus membawa Min Jung kembali.

Hari ini Joo Won berpatroli bersama Ji Hoon. Ji Hoon bercerita tentang latar belakang Min Jung. Orang tua Dong Sik mengangkat Jin Mook, ayah Min Jung, sebagai anak dan memberinya toserba. Ibu Min Jung melarikan diri setelah melahirkan Min Jung, membuat Jin Mook patah hati. Dong Sik bertindak sebagai ayah sekaligus ibu bagi Min Jung. ‘Begitulah kepribadian Dong Sik’, ujar Ji Hoon.

Dong Sik mengurusi Min Jung, menyuruhnya menghapus cat kuku dan pulang. Min Jung meminta agar Dong Sik tidak bercerita pada ayahnya.

Min Jung menyelinap pergi saat seluruh polisi di Manyang mendengarkan berita bahwa polisi Seoul melepaskan tersangka yang terlibat dalam pembunuhan orang hilang karena mayat si orang hilang tidak ditemukan. Ji Hoon merasa itu tidak adil.

Dong Sik mengingatkan hukum di Korea Selatan mensyaratkan adanya bukti mayat korban pembunuhan, atau hakim di mana pun tidak akan menyetujui adanya persidangan. Bukan demikian, detektif inspektur Joo Won? Joo Won membenarkan. Joo Won mengingatkan Dong Sik kalau Min Jung melupakan kuncinya.

Dong Sik langsung menelpon Min Jung. Tiba-tiba Min Jung menghentikan percakapan mereka dan melihat ke arah di depannya. Ia berjalan perlahan, melihat sosok di atas jembatan dan tersenyum.

Saat Min Jung bangun, ia sudah dalam keadaan terikat dan mulutnya direkat lakban. Ia mendengar suara pisau di asah, dan berusaha melihat ke arah suara itu. Matanya terbeliak, seolah mengenali siapa si pengasah itu.

Dong Sik masuk ke toko daging dalam kondisi gelisah, dan langsung menghabiskan setengah gelas soju. Ia terdiam dan menghela nafas saat Jin Mook memberinya potongan daging. Lalu, langsung mengambil jepitan untuk membakar daging dari tangan Jin Mook, tapi ia malah membiarkan daging itu hangus.

Sang Bae mengajak semua berdiri dan memberi penghormatan terakhir pada mayat yang mereka temukan. Saat wanita itu dibunuh, polisi tidak ada untuk melindunginya. Karenanya, mereka harus berusaha sekuat tenaga menangkap si pembunuh itu. Mereka mengheningkan cipta lalu mengangkat gelas, bersama bertekad menegakkan keadilan.

Dong Sik melihat ke sekelilingnya, anggota polisi yang berkerja bersamanya.

Jung Je menunggu lama di depan rumah Dong Sik, ia memperhatikan kalau Dong Sik bertingkah aneh sejak makan malam. Dong Sik mengaku habis olah raga.  Dong Sik melarang Jung Je turun ke basement. Jung Je bertanya, apa karena di situlah Dong Sik menyimpan file-file yang hilang?

Dong Sik berteriak, dia tidak mengambil file-file itu. Klipping berita kematian yang dikumpulkan dan ditempelkan di dinding oleh ibunya saja, sudah cukup membuatnya gila. Jung Je meminta maaf dan pamit pulang. Jung Je mengatakan yang menyadari kalau file-file itu hilang adalah Joo Won, bukan dirinya.

Dong Sik turun ke basement dan membuka satu ruang. Selain foto dan file tentang pembunuhan, tertempel juga flyer berita Yu Yeon yang hilang.

Dong Sik keluar dari rumah, bersiap olah raga di dini hari. Tak disangka, Joo Won memarkir mobilnya tepat di samping rumah Dong Sik. Joo Won beralasan ingin mengenal lingkungan lebih dekat.  Dong Sik mengajak Joo Won berjalan kaki menelusuri lingkungan ini. Tiba-tiba Joo Won menyatakan niatnya untuk tinggal di sekitar sini

Dong Sik menebak, rupanya Dong Sik si tersangka yang menarik perhatian Joo Won. Joo Won membalas kalau Dong Sik juga tertarik dengan pekerjaannya dulu di divisi hubungan internasional. Dong Sik tertawa. Tapi, tiba-tiba matanya beralih ke meja di depannya.

Mereka berdua melihat potongan jemari di tersusun rapi di atas meja itu. Melihat reaksi Dong Sik, Joo Won sadar ada yang tidak beres dan berusaha memperhatikan lebih teliti. Ia baru sadar, hiasan kuku yang ada di jemari itu adalah milik Min Jung.

Dong Sik menangis tersedu-sedu dan menundukkan badan. Ia tersedak dan menyebut nama Min Jung. Joo Won berdiri memandang Dong Sik, telpon yang sedianya akan digunakan untuk melapor dibiarkan  diam.

Malam sebelumnya, seseorang mengenakan pakaian dan hoodie hitam, berjalan membawa kantong plastik. Ia berhenti di depan sebuah meja dan mulai mengeluarkan isi kantong plastik itu. Ia menata jari-jari tersebut dengan rapi. Sewaktu ia mengangkat muka, tampak wajah Lee Dong Sik.

Bersambung

Komentar aku: arrghhh… minggu depan lambretta ratahayo! Asyik sekali melihat detail perubahan raut dan bahasa tubuh kedua pemeran utama ini. Meski Joo Won digambarkan sebagai pemuda dengan karakter dingin dan mengesalkan (dan berhasil, karena kesal sekali melihat arogansinya), tapi ia bisa menyampaikan emosi, dan ini seharusnya terbaca oleh Dong Sik (dan tersampaikan ke penonton juga). Begitu juga dengan Dong Sik, matanya tiba-tiba bisa menjadi ‘gila’ atau simpati, seperti saat menghadapi Seo Guk.

Lalu, Dong Sik kah pembunuhnya? Ha! Kalau semudah itu, kenapa perlu 16 episode? Tapi, parah, kalau ternyata setelah 16 episode, ternyata Dong Sik benar pembunuhnya. Aku terbiasa dengan ‘twist’ , sehingga tidak percaya kalau apa yang ada di depan mata, itu yang terjadi (hanya untuk drama/film, lho). Bwahahaha… itulah twist di dalam twist. Ketuk meja 6 kali… Hadaw, aku merekap 1 episode ini selama 6 jam? Wah!

Beyond Evil Ep. 02.1

Team forensik mulai mengolah TKP. Polisi memberi tahu Ji Hwa kalau tidak ada CCTV di dekat TKP. Ji Hwa menyuruh anak buahnya pergi ke divisi lalu lintas untuk memeriksa kendaraan yang melewati jalan di depan ladang ilalang.

Petugas forensik memperlihatkan foto kaki korban yang diikat dalam kantong plastik, mengingatkan polisi akan pembunuhan yang terjadi 20 tahun lalu. Saat itu, polisi menemukan pick gitar di dekat korban dan menjadikannya bukti untuk menangkap Dong Sik.

Dong Sik berteriak pada ayahnya, ia tidak membunuh Yu Yeon. Kenangan itu mengalir dalam ingatan Dong Sik.

Episode 2: Menghilang

Sang Bae protes, kenapa polisi menangkap Dong Sik? Rekannya menyarankan Sang Bae untuk berhenti mengkoleksi anak buah eksentrik. Dong Sik DAN si detektif baru memasuki ruangan itu atas kemauan mereka sendiri.

Dong Sik merasa perlu diinterogasi karena ada rekan polisi yang mencurigainya. Ia juga tahu Joo Won melakukan penyelidikan atas dirinya. Joo Won mengaku tak ingat. Dong Sik menyindir kenapa akhir-akhir ini ingatan Joo Won hilang semua, termasuk identitas mayat wanita yang baru saja mereka temukan.

Ji Hwa masuk, kali ini ia akan mengikuti permainan mereka. Joo Won menegaskan ia ada untuk memastikan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan. Ji Hwa menghela nafas dan menendang komputer yang tidak mau menyala. Ia memeriksa ulang laporan tertulis, menolak menjawab pertanyaan atas hasil otopsi, dan menyuruh mereka pulang.

Sang Bae menjemput dan memarahi mereka berdua. Meski sebetulnya, ia khawatir dan tak ingin Dong Sik terseret kembali dicurigai sebagai pembunuh. Ia mengajak mereka berdua makan malam.

Pemilik restoran mengenali Sang Bae dan terus menuduh Dong Sik. Dong Sik dengan tenang mengangkat mangkuknya, menegur si pemilik dan meminta tambahan sup daging gratis, atas tuduhan tanpa bukti. Pemilik langsung mengambil mangkuk Dong Sik. Joo Won mendengarkan dan memperhatikan dengan diam.

Sang Bae jadi kehilangan selera makan dan mengajak pergi. Dong Sik menolak, ia mengambil mangkuk Joo Won yang tidak suka sup daging dan mulai makan. Sang Bae beranjak pergi. Dong Sik bertanya apa Joo Won menikmati semua itu? Joo Won berdalih, ia tetap tinggal karena seorang partner harus bersama 24/7. Ha.

20 tahun lalu, saat melakukan reka ulang kejahatan, Dong Sik menolak mengakui jemari itu sebagai milik Yo Yeon, karena cat kuku yang dipakai berbeda. Di balik pagar, ibunya berteriak putus asa saat dia digelandang polisi. Kembali ke masa ini, Dong Sik mengupas jeruk di samping ibunya yang tidak bereaksi, terbaring di RS.

Jin Mook menegur dan mengambil waslap dari tangan Dong Sik, ia yang akan menyeka ibu Dong Sik. Jin Mook bertanya apa Dong Sik baik-baik saja? Dong Sik memberikan jeruk yang ia beli, untuk Jin Mok, bukan untuk ibunya. Jin Mook tertawa, ia akan memastikan ibu Dong Sik makan jeruk siang ini.

Jin Wook ingin membalas budi dan merawat ibu Dong Sik. Dong Sik menegur Jin Mook telah bekerja keras untuk keberhasilan toserba itu. Jadi, kalau memang mengambil libur, sebaiknya Jin Wook mengajak Min Jung makan enak. Jin Wook terdiam, Dong Sik tahu itu artinya putrinya tidak pulang lagi.

Dong Sik meninggalkan pesan untuk Min Jung. Ia menyuruh Min Jung cepat pulang, atau ia akan menggerebek semua club malam dan untuk tidak pernah menyentuh ponsel Dong Sik lagi. Min Jung mengganti namanya di ponsel Dong Sik menjadi ‘kekasih abadi Dong Sik’.

Do Hae Won, walikota Munju, marah-marah saat staff menyebut nama Dong Sik. Ia telah bekerja keras selama 20 tahun ini mencitrakan Munju sebagai kota tanpa kejahatan. Kenapa Dong Sik musti berulah lagi?

Hae Won bertanya pada putranya, Jung Je, apa yang ia tahu? Jung Je menjawab dengan sinis, bagaimana kalau mayat yang ditemukan Dong Sik itu benar adalah Yu Yeon? Artinya, status ‘kota tanpa kejahatan’ terbukti, karena selama 20 tahun ini tak ada kejahatan lain. Hae Won menatap mata Jung Je dalam-dalam.

Petugas forensik memberi tahu mayat itu telah terkubur kurang lebih selama 8 bulan, dan mengenakan sepatu desainer koleksi musim gugur/dingin tahun ini. Sepatu itu dibersihkan dengan teliti sebelum ditutupi dengan kantong plastik, lalu diikat dengan pita, bagai memberikan hadiah berharga.

Sang Bae menyuruh duo Dong Sik – Joo Won pulang dari patroli. Tapi, Dong Sik punya pikiran lain. Mereka mungkin tidak pulang, karena harus menangkap pembunuh yang masih bebas berkeliaran. Joo Won setuju, seorang pembunuh harus ditangkap, bagaimana pun caranya. Mereka saling berpandangan tajam.

Tiba-tiba Dong Sik menghentikan mobil keluar dalam hujan, Joo Won mengikuti. Mereka menemukan Shin Seok Gu, penderita cacat intelektual, terduduk di jembatan dan menolak ditolong, ia ketakutan mendengar kata polisi. Dong Sik membujukknya dan berhasil meminjam ponsel Seok Gu untuk menelpon ibunya.

Joo Won tertegun saat kembali dari membeli hot-pack dan melihat Dong Sik, bertelanjang kaki, memayungi Seok Gu dan tersenyum.

Genk Dong Sik cs: Dong Sik, Ji Hwa, Jung Je, Ji Hoon dan Jae Yi duduk, makan & minum bersama. Ji Hwa memberi tahu, mayat itu bukan Yu Yeon. Jae Yi bertanya apa itu pembunuh dari 20 tahun lalu? Ji Hwa tidak yakin kalau itu copycat, karena MO nya sama persis. Bisa jadi, di antara span 20 tahun itu, ia membunuh lebih banyak gadis dan berhasil menyembunyikan mayat mereka dengan baik.

Jae Yi menjadi gelisah dan terus meminum soju sampai Jung Je melarangnya. Dong Sik menegaskan yang penting sekarang adalah mengetahui identitas si mayat.

Ki Hwan bertanya pada Joo Won apa Joo Won meminta ditugaskan di Munju karena mengetahui keberadaan mayat itu? Joo Won mengaku ia melakukan kesalahan, ia melanggar perintah atasan, menggunakan wanita itu sebagai umpan dan menyebabkannya terbunuh dengan cara yang persis sama dengan kasus pembunuhan 20 tahun lalu yang ditutupi ayahnya.

Ki Hwan senang kalau benar polisi mengkaitkan kasus itu dengan pembunuhan 20 tahun lalu. Artinya ia bisa menggunakan kekuasaannya untuk mengumumkannya sebagai kasus copycat yang tidak terselesaikan dan menguburnya dalam-dalam sebelum orang bisa mengidentifikasi si mayat, dan tidak akan ada yang tahu siapa yang wanita itu temui sebelum mati.

Joo Won hanya perlu menutup mulut. Kalau sampai orang mengetahui identitas wanita itu, tamatlah sudah karir mereka berdua. Dan, itu adalah sebuah perintah untuk Joo Won! Joo Won terdiam, tertunduk.

Joo Won minta Jung Je memberinya berkas kasus Yu Yeon. Meski enggan, Jung Je memberi tahu di mana musti mencari. Joo Won menemukan satu kasus sebelum Yu Yeon, Bang Ju Seon, tapi yang tersisa hanyalah lembar pertama.

Jung Je beralasan, kantor polisi sempat beberapa kali pindah, bahkan kebakaran. Seharusnya polisi mendigitalisasi semua file kasus-kasus lama. Tapi, karena harus memprioritaskan kasus-kasus baru, maka pekerjaan tersebut terbengkelai. Joo Won kelepasan bicara, kalau ia tertarik akan kasus itu karena Dong Sik.

Joo Won melihat nama polisi yang bertugas untuk kedua kasus itu: Nam Sang Bae. Ia lalu teringat omongan pemilik restoran saat mereka makan bersama.

Bersambung

Komentar aku: anjing vs kucing. Ini anjing setan – kucing malaikat, atau kebalikannya? Biasanya, kucing lebih ‘gila’. Pengalaman dari kucing aku yang menjemput aku pulang kantor dan dengan galak mencakar hidung anjing tetangga, membuat anjing tetangga kapok dan tak berani mendekat. Ha! Padahal anjing tetangga ada 2, kucing aku sendiri. Hu, rupanya Joo Won, dan Ki Hwan,  juga menyimpan rahasia tak kalah berat. Meski Joo Won tidak membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri, tapi secara tidak langsung ia menyebabkan wanita itu terbunuh plus melanggar larangan atasan. Jadi ingat seri ‘Line of Duty’, huhuhu… my fave.

Beyond Evil Ep. 01.2

Esok hari, Joo Won menolak uluran tangan Dong Sik yang memperkenalkan diri, ia hanya menyebutkan namanya dan mengangguk. Briefing pagi ini digunakan Sang Bae untuk mengatur ulang regunya. Melihat Dong Sik dan Joo Won saling tidak menyukai, Sang Bae memutuskan mereka menjadi partner.

Ketika Joo Won mencoba menolak, Sang Bae langsung menegur Dong Sik yang dianggap menunjukkan contoh tidak baik, sehingga seorang inspektur baru pun berani melawan keputusan atasan. Joo Won tahu teguran itu ditujukan untuk dirinya, ia tidak bisa menolak. Sang Bae memerintahkan mereka berdua untuk berpatroli.

Di dalam mobil, Dong Sik menegur Joo Won yang berkendara secara ugal-ugalan dengan bukti cara berkendara Joo Won seminggu lalu secara detil, sehingga Joo Won tidak bisa berkutik. Dong Sik juga mengingatkan di kota kecil ini tidak ada rahasia, akan selalu ada orang yang mengawasi tindak-tanduk mereka.

Joo Won tidak suka saat Dong Sik menerima laporan warga lewat ponsel pribadi. Laporan mengenai Bang Wu Cheol, penderita demensia yang pergi dari rumah dan lupa jalan pulang. Dong Sik menyuruh Joo Won mencari di ladang dan tertawa saat Joo Won minta memeriksa CCTV. Daerah belum berkembang tidak punya CCTV.

Joo Won mulai memasuki ladang, ia benci tanah berlumpur dan bersentuhan dengan ilalang. Ia mulai menuduh Dong Sik mempermainkan dirinya. Wu Cheol yang takut polisi melarikan diri saat Joo Won menyebut nama & jabatannya. Mereka akhirnya berhasil menangkap Wu Cheol, meski harus berlumuran lumpur.

Joo Won ingin tahu, rahasia apa yang dipegang putri Wu Cheol, yang membuat Dong Sik hanya terdiam saat dimarahi putri Wu Cheol. Padahal, mereka sudah membantu membawa pulang Wu Cheol dengan selamat.

 Di kantor polisi, Joo Won musti menggigit lidah. Pertama, saat ia menjelaskan memilih tidak berteman, karena selama ini orang yang mendekatinya selalu punya maksud lain. Membuat Dong Sik menyindir, koneksi seperti apa yang bisa menjadikan Joo Won arogan dan keras kepala? Kedua, karena menganggap kantor polisi Manyang tidak higienis. Membuat Sang Bae tersinggung, karena ia telah menyiapkan jamuan menyambut Joo Won di warung Jae Yi.

Meski enggan, akhirnya Joo Won datang juga ke warung. Ia diperkenalkan pada Jung Je, dan tetap menolak uluran tangan Jung Je. Sang Bae menegur Joo Won yang tak tahu keberadaan Dong Sik, seorang partner harus tahu di mana partnernya berada 24/7.

Tak lama, Ji Hwa datang bergabung diikuti oleh Dong Sik yang membantu membeli makgeoli dan soju dari toserba Kang Jin Mook. Jin Mook menolak bergabung. Putrinya, Kang Min Jung, sibuk di Seoul, jadi tidak ada yang jaga toko. Tanpa basa-basi Ji Hwa berkomentar kalau Joo Won tidak mirip ayahnya, membuat suasana jadi canggung. Dong Sik menjelaskan, Joo Won tidak suka nama ayahnya disebut.

Tapi, Gil Goo dan Gwang Young tidak bisa membaca suasana terus menyebut nama Ki Hwan. Membuat Joo Won kehilangan kesabaran. Akhirnya, Dong Sik menyuruh mereka menyebut nama ayahnya saja.

Sebelum jamuan berakhir, Joo Won menyelinap keluar. Dong Sik yang sedang memotong daging mengingatkan kalau Sang Bae tidak suka anak buahnya menyelinap pergi. Joo Won tidak peduli. Joo Won melihat kunci yang dibeli Dong Sik, ia mengungkit lagi rahasia apa yang dipegang putri Wu Cheol?

Dong Sik menjawab kalau ia membunuh putri termuda keluarga Bang, lalu tertawa terbahak-bahak saat Joo Won menjadi sangat serius. Dong Sik mengaku sekedar jahil dan ia menyukai Joo Won. Jadi, sebaiknya Joo Won pergi sebelum ketahuan oleh Sang Bae.

Joo Won tidak pulang, ia pergi menemui Kwon Hyeok, temannya yang juga seorang jaksa. Joo Won minta file autopsi terhadap Wi Sun Hee, gadis muda yang ditemukan di ladang, diberikan padanya.

Di apartment, Joo Won membuka lemari yang penuh berisi file, dan di satu sisi terdapat foto dan data pembunuhan gadis-gadis muda, termasuk foto Dong Sik dan potongan berita berjudul ‘Muka Asli si Pembunuh’.

9 bulan yang lalu, Joo Won memberikan briefing di divisi hubungan Internasional kepolisian Metropolitan Seoul tentang pembunuhan berseri dengan signature yang sama: potongan jari, tangan diikat dan kaki dimasukkan ke kantong plastik dan Dong Sik sebagai tersangka utama.

Jun Joon Woo, salah seorang detektif, mengenali Dong Sik. Detektif handal yang terkenal akan kegilaannya. Dong Sik tidak bisa menjelaskan kematian partnernya, membuat teamnya dibubarkan dan ia didemosi.

Dong Sik mengganti banner usang pencarian Yu Yeon dengan yang baru, dibantu oleh Ji Hoon dan Jin Mook. Mereka melihat mobil Joo Won melintas, tapi tidak berhenti. Tak lama Dong Sik menerima berita kalau Wu Cheol melarikan diri lagi, ia mengajak Ji Hoon mencari bapak tua itu.

Sesampainya Joo Won di kantor polisi, Sang Bae langsung melempar kunci mobil dan menyuruh Joo Woon membantu mencari Wu Cheol. Ladang ilalang menjadi tempat yang sulit, hujan turun semalaman.

Hari sudah malam saat Joo Won sampai di ladang. Ia melihat lampu senter berpendar di tengah ladang dan suara memanggil Wu Cheol.  Dong Sik menyuruh Joo Won mengikutinya agar tidak lagi tersesat.

Saat itulah Ji Hoon berteriak panik menyuruh Dong Sik bergegas datang. Dong Sik menyuruh Ji Hoon mengarahkan cahaya senternya ke atas. Dong Sik dan Joo Won langsung berlari ke arah sumber cahaya.

Begitu Dong Sik sampai, Ji Hoon langsung menunjuk ke tangan yang tersembul dari tanah. Yang pertama terpikir oleh Dong Sik adalah mayat Yu Yeon. Tak lama Joo Won pun sampai di lokasi. Ia memperhatikan gerak-gerik Dong Sik dengan seksama.

Joo Won melihat Dong Sik berjongkok dekat tangan, dan ia melihat cincin yang masih melekat di jari si mayat. Joo Won terkesiap, ia mengenali pemilik cincin itu. Tanpa Joo Won sadari, ia mundur ke belakang. Dong Sik melihat itu dan memperhatikan raut muka  Joo Won.

Dong Sik menyuruh Ji Hoon menunggu di mobil. Saat Ji Hoon sudah pergi, ia meraih baju Joo Won, ia yakin kalau Joo Won pasti tahu, siapa wanita itu. Giliran Joo Won yang bertanya, dari mana Dong Sik tahu kalau itu mayat wanita?  Dong Sik melepaskan genggamannya dan menyuruh Joo Won melaporkan penemuan itu.

Joo Won percaya Dong Sik yang membunuhnya. Dong Sik mempersilahkan Joo Won melaporkan kecurigaannya selama ada bukti. Joo Won terus mendesak Dong Sik, memaksanya mengakui kalau Dong Sik membunuh adiknya.

Dong Sik mengangkap muka dan berbalik menghadapi Joo Won lalu tersenyum lebar. Senyum aneh yang membuat bulu kuduk berdiri.

Bersambung

Komentar aku: Huah! Hebat! Setengah episode aku tidak menyukai Dong Sik muda. Setengah episode lagi, aku tidak menyukai Joo Won! Benar-benar perang antar dua ego yang yang kuat, yang satu kuat kegilaannya yang satu kuat kearogansiannya. Untung Sang Bae cukup bijaksana dan memegang kendali. Kalau tidak itu satu kantor polisi isinya perang dingin terus. Oh, aku juga suka rekan-rekan dari kepolisian Munju yang tidak peduli dengan status keluarga Joo Won, sekalian ditanya di depan muka, ‘Tak mirip bapak, ya?’ kekekeke…

Di satu sisi, keluarga akan selalu menjadi rantai atau inspirasi bagi anggotanya. Rantai, karena akan selalu dibandingkan. Inspirasi karena cinta dan prestasi yang bisa dicapai. Hu.. berat

Beyond Evil Ep. 01.1

Pada malam hari di dataran kosong dipenuhi rumput liar yang tinggi, terlihat cahaya senter menyinar dan seseorang berteriak. Pria itu terjatuh, ketika terbangun dan melihat apa yang ada dihadapannya, ia berteriak memanggil Dong Sik agar segera datang. Tangan manusia menyembul keluar dari dalam lumpur.

Flash Back: 14 Oktober 2000. Lee Yu Yeon, pianis yang mengiringi paduan suara gereja dipuji oleh seorang ibu. Ia pemudi yang baik, patuh dan baru saja diterima di UN Seoul. Bertentangan 180° dengan saudara kembarnya, Lee Dong Sik, yang suka berkelahi dan hanya sibuk bermain gitar tanpa peduli keluarga.

Bang Ju Seon, pemilik café ‘Bonjour’ mengusir Dong Sik yang sudah berjam-jam bernyanyi sambil bermain gitar. Ju Seon membandingkan Dong Sik dengan kembarannya, membuat Dong Sik marah dan nyaris memukul Ju Seon. Ju Seon balik menantang, agar ayah Dong Sik bisa membayar ganti rugi. Dong Sik pergi dengan muka menahan amarah.

Yu Yeon berusaha menghubungi kakaknya. Tapi, Dong Sik enggan pulang, ia meminta Yu Yeon keluar rumah menemuinya. Yu Yeon menyelinap keluar, ia berjalan di jalanan sepi berbatas padang rumput. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan lampu jalanan mati. Yu Yeon berlari dan berlari…

Di pagi hari, di antara rerumputan, seorang wanita muda tergeletak dengan tangan terikat dan kaki terbungkus kantong plastik.

Ibu Yu Yeon membuka pintu rumah dan mengambil koran di halaman. Perhatiannya teralih pada pagar rendah di depannya dan ia berteriak. Di atas pagar, terjajar rapi potongan 10 jari manusia dengan kuku bercat merah.

Episode 1: Kemunculan

20 tahun kemudian: 11 Oktober 2020. Dong Sik bersiap pergi bertugas. Di dinding rumahnya, terpasang berita lama tentang pembunuhan, di antaranya berita bahwa jari yang ditemukan dulu adalah milik Yu Yeon. Di depan lampu merah jalan utama kota Munju, berhenti sebuah mobil mewah. Si pengedara melihat sekeliling, pandangannya mengarah ke banner usang pencarian Yu Yeon.

Oh Ji Hoon memperhatikan Dong Sik yang berusaha membubarkan ibu-ibu yang bersitegang saat bermain kartu. Pertengkaran mulut berubah menjadi fisik, Ji Hoon bergegas memberi tahu kantor polisi, lebih karena khawatir Dong Sik akan kehilangan kendali. Benar saja, Dong Sik menangkap para ibu dengan tuduhan berjudi.

Kepala polisi, Nam Sang Bae, membela para ibu dan menegur Dong Sik. Begitu juga Hwang Gwang Young, rekan polisi. Dong Sik bersikeras judi adalah judi, dari hanya 1 sen lama-lama menjadi ribuan. Mereka masih saling ribut sendiri saat Han Joo Won, si pengemudi mobil mewah, masuk dan memperkenalkan diri.

Joo Won mengaku melapor datang lebih awal karena Sang Bae sudah lama meminta detektif baru dan ia tidak suka menunggu. Saat Joo Won bertanya siapa yang akan menjadi partnernya, Sang Bae memarahi komputer tua yang mendadak berhenti bekerja dan harus dinyalakan ulang.

Kecuali Dong Sik, anggota kepolisian Manyang bergosip tentang Joo Won, yang ternyata lulusan dengan pujian dari Univ. Kepolisian Nasional Korea. Ayah Joo Won adalah orang kedua di kepolisian Korea, yang akan diangkat sebagai Komisaris Besar Polisi, Han Ki Hwan.

Dong Sik menerangkan pada seorang pria kalau ia tidak bisa melaporkan putranya, yang telah berusia di atas 18 tahun, sebagai orang hilang, tetapi sebagai orang yang melarikan diri dari rumah, sesuai dengan hukum yang berlaku di Korea Selatan. Dong Sik mengutip aturan itu dengan detil. Sang Bae memilih masuk ke ruangannya, sementara Joo Won mendengarkan dengan seksama lalu pergi ke luar.

Saat malam tiba, Dong Sik tertatih menyeberangi jalan, kakinya terasa sangat sakit. Ia berhenti dan meminum obatnya. Joo Won yang berkendara melihat Dong Sik dan melewatinya. Dong Sik melihat dan menghafal nomor mobil Joo Won.  

Di toko daging, Yoo Jae Yi mengasah pisau dan mulai memotong. Ia menyiapkan daging dan sayuran lalu membawanya ke tempat para polisi makan malam bersama. Dong Sik memuji kelezatan sup buatan Jae Yi.

Ji Hoon memberi tahu Oh Ji Hwa, kakaknya, dan Park Jung Je, keduanya sahabat karib Dong Sik dan polisi dari kantor Munju, kalau Dong Sik naik darah dan menahan para ibu. Jae Yi membela Dong Sik, karena Dong Sik sebetulnya tidak ingin para ibu-ibu itu terlibat dengan rentenir yang mulai mendekati dan memperdaya mereka karena permainan kartu itu.

Ji Hwa pura-pura memukul adiknya, agar lebih menghargai dan mempercayai Dong Sik. Ji Hoon tertawa, sepertinya Dong Sik akan punya partner baru. Dong Sik berkilah, ia tidak menyukai anak baru itu.  Ji Hoon tidak setuju, apalagi Joon Won bukan anak sembarangan. Dong Sik menerangkan kalau anak baru itu adalah putra dari Han Ki Hwan, wakil kepala kepolisian kantor pusat.

Joo Won makan bersama ayahnya, Ki Hwan. Joo Won menolak tawaran ayahnya untuk bekerja di kantor pusat. Ki Hwan menegur Joo Won untuk tidak pernah berpikir akan bisa kembali ke divisi hubungan internasional, menjaga sikap dan tidak menarik perhatian untuk sementara waktu. Joo Won tersenyum dan mengiyakan perintah ayahnya.

Bersambung

Komentar aku: whoa, Lee Do Hyun! Dari anak teladan Woo Young di ’18 Again’ menjadi pemberontak di ‘Beyond Evil’, dan aku benar-benar bisa melihat kemiripan Lee Do Hyun vs Shin Ha Kyun saat Dong Shik marah waktu diusir dari café. Saluté, Anda benar-benar bunglon sejati! Merinding jadinya. Nanti kalau suatu saat ada sutradara yang menawari jadi pembunuh berseri, mau ya? Siapa tahu jadi epic seperti Hannibal (yang film)?

Beyond Evil

Network: jTBC

Rating: R-18+, kekerasan dan makian

Genre: thriller, pembunuhan, pembunuh serial

Mulai tayang: 19 Februari 2021

Durasi per episode: 1 jam 10 menit

Status: Sedang tayang untuk 16 episodes

Lee Dong Sik, detektif polisi yang didemosi karena dianggap berkaitan dengan pembunuhan adiknya, meski kemudian tuduhan itu dianulir, karena tidak ada bukti mayat yang ditemukan. Dong Sik memiliki ingatan dan kemampuan analisa yang tajam. Ia terus mencari mayat adiknya, berharap suatu waktu bisa menemukan, sekaligus menangkap pembunuhnya.

Han Joo Won, detektif polisi meminta ditugaskan di kota Manyang, tempat Dong Sik bertugas. Ia sangat terobsesi membuktikan kalau Dong Sik benar-benar bersalah. Joo Won sendiri menyimpan rahasia, yang hanya diketahui diri dan ayahnya, Han Ki Hwan.

Mereka berdua dikelilingi sahabat dari kepolisian Munju dan atasan mereka, Nam Sang Bae, yang dulu bertugas menangkap Dong Sik. Dalam menghadapi kedua anak buahnya yang saling bersitegang, Sang Bae justru memutuskan mereka berdua menjadi partner dalam bekerja.

Akankah Dong Sik berhasil menemukan mayat adiknya dan menangkap si pembunuh, atau benar dugaan Joo Won bahwa Dong Sik lah yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu?

Akhirnya! jTBC mengeluarkan drama thriller ini. Aku sudah mencoba menonton dua episode awal dari beberapa  drama baru: ‘Vincenzo: tidak tertarik dengan jalan cerita. Pemain yang aku anggap cukup kuat hanya Song Jong Ki. Mungkin harus tunggu sampai 4 episode/sudah jelas jalan ceritanya baru tertarik. Sementara ini, lewat dulu.  ‘The Penthouse 2: War in Life’: tidak menghibur: selain menginjak yang lemah, menusuk teman/tetangga dari belakang, membunuh atau mencoba membunuh, juga berganti pasangan seperti berganti piyama, sebetulnya apa yang ingin diceritakan? ‘Sisyphus: The Myth’: kesalahan aku: harapan yang diletakkan terlalu tinggi, mengingat drama ini berbudget tinggi dan Jo Seung Woo menjadi pemeran utama (aku tidak bisa lupa dari perannya di ‘Forest’ 2 seasons). Tapi, melihat duck-tape, 10 anggota biro vs 1 orang (menang), mencari DNA dari abu kremasi, orang dan koper terbang, membuat aku mengurungkan niat. Ouch…

Aku belum melihat ‘Times’, ‘Hello, Me!’ dan ‘River Where the Moon Rises’, tapi mungkin aku memilih ‘Douluo Continent’ yang mirip dengan ‘The Legend of the Awakening’. Kekeke…

Mr. Queen Ep. 20.2

Cheol Jong tidak tidur, pagi hari tiba, ia langsung masuk ke kamar So Yong dan menungguinya, bersama tabib istana. Saat So Yong sadar tabib memeriksa dan memberi khabar baik, bayi mereka juga selamat. Tidak ada di ruangan itu, yang matanya kering, mereka semua menangis gembira dan terharu.

Dayang berlari dan berteriak, membuat Sunwon naik darah. Dayang memberi tahu kalau raja menitahkan memindahkan Sunwon ke istana Barat, yang adalah istana pengasingan. Mereka berdua mencoba membuka pintu, tetapi ditahan oleh para dayang dari arah sebaliknya.

Dayang memberi tahu kedatangan ratu. So Yong datang memberi khabar yang sama. Bagaimana pun Sunwon berteriak dan berusaha keluar, So Yong tidak bergeming. Kali ini, kejatuhan Sunwon akan terjadi di tempat ia biasa berkuasa. Mulai hari ini, So Yong lah yang akan berkuasa, dan perubahan yang Sunwon takutkan, sudah mulai berjalan.

So Yong kembali ke kamarnya, dan mulai memaki. Kali ini, Lady Choi tidak menegurnya. Rasanya puas berhasil menurunkan Sunwon.

Pyeong masuk ke dalam ruang sembahyang Gaebi, membawa titah raja. Atas kejahatannya membuat rumor tentang ratu, ia juga akan dibuang ke istana Barat. Gaebi bersumpah atas nama almarhum raja, kalau ia tak bersalah. Hong memanggil dayang mata-mata sebagai saksi.

Raja menghukum para menteri yang terlibat pada rencana penggulingan dirinya. Ia menghukum mereka menjadi budak kerajaan dan membuang ke daerah terpencil. Tapi, istri dan anak mereka diampuni. Mereka berusaha menyalahkan Byeong In.

Cheol Jong menjadi sangat marah, dan menyebutkan kesalahan mereka adalah mementingkan kehidupan mewah mereka di atas rakyat, kedua: menyiksa dan merampas masa depan rakyat sampai para ayah dan raja tak mampu menghidupi keluarga, rakyat dan negaranya.

Rakyat melempari Jwa Geun yang diarak ke tempat pembuangan dengan sayuran dan mengutuknya. Jwa Geun hanya terdiam terus berjalan dikawal para prajurit.

Sunwon memperhatikan semua harta yang ia kumpulkan. Ia menyuruh dayangnya meninggalkan peralatan berhias. Dayang setianya menolak dan menangis saat Sunwon tak lagi memarahinya. Di tempat sembahyangnya, Gaebi berusaha meyakinkan diri, kalau ia harus terus hidup, karena itu satu-satunya jalan untuk bisa menang. Dan terpuruk menangis tersedu-sedu.

So Yong berziarah ke makam Byeong In. Ia menggantikan pedang dengan bunga. Ia menangis teringat ucapan terakhir Byeong In, satu-satunya yang percaya meski ia bersembunyi jauh di dalam tubuhnya.

Hong Yeon dan Lady Choi memuji So Yong, yang jauh berubah dari sejak malam pernikahannya. So Yong melihat ke danau, teringat dulu ia menyangka kematian adalah satu-satunya jalan keluar. Ia mengelus batu yang diukir Bong Hwan, berharap Bong Hwan hidup dengan baik di manapun ia berada.

Mun Geun datang membawakan banyak hadiah. Mereka berbicara hal yang sama pada waktu yang sama dan mulai tertawa bersama. Mun Geun bersyukur, waktu para pemberontak memasuki kota, penduduk sekitar melindungi rumah Mun Geun yang membuka gudang dan membagi hartanya pada mereka. Itu semua karena So Yong membuka pikiran Mun Geun.

Mun Geun berjanji akan menjadi kakek yang bisa dicontoh oleh cucunya nanti.

Chef Man Bok sibuk memasak. Ia memeluk Lady Choi dan berjanji membuat ramyeon terenak untuknya.

Hong memberi selamat pada Kim Hwan yang ditunjuk sebagai anggota delegasi kementrian luar negeri, yang artinya Kim Hwan musti berjalan jauh sampai kakinya melepuh. Saat Cheol Jong masuk, Kim Hwan dengan bangga mengatakan kalau ia dapat jabatan dari raja. Cheol Jong tidak percaya Kim Hwan masih juga tak mengenalinya.

Hwan Jin menyapa Pyeong yang menunggunya di depan rumah, sampai terjatuh karena kakinya keram, menunggu di udara dingin terlalu lama. Pyeong tersenyum lebar saat Hwan Jin menekankan kalau yang ia tanyakan adalah kondisi Pyeong, bukan Cheol Jong.

Kondisi kerajaan mulai berjalan dengan baik. Perhatian Cheol Jong terarah pada buku diari ratu yang ia tulis. Entah bagaimana, ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.

Bong Hwan bersyukur membaca buku sejarah yang menuliskan Cheol Jo sempat memerintah di era Joseon. Ia tertawa melihat gambar resmi Cheol Jong persis seperti yang ia tunjukkan saat berada dalam tubuh So Yong.

Detektif menghampirinya, tapi mereka datang untuk melindungi Bong Hwan. Sejarah berubah. Bong Hwan tidak sengaja memperbaiki CCTV yang memperlihatkan tindak kejahatan Sekretaris Han dan Chef Bu, dan mengirimnya ke media. Mereka berdualah yang menerjunkan Bong Hwan dari balkon.

Bong Hwan bingung, kalau ia dan Cheol Jong berhasil mengubah sejarah, kenapa sekretaris Han masih hidup? Ia bergegas memeriksa data dari internet, yang ia baca semuanya adalah pujian untuk raja Cheoljo dan ratu Cheorin, sebagai model pendukung reformasi kerajaan, meletakkan dasar bagi demokrasi.

Bong Hwan melihat berita di TV yang menyiarkan penangkapan sekretaris Han yang selama ini mencuri uang rakyat. Di setiap masa, akan selalu ada korupsi dan koruptor. Tinggal bagaimana mereka-mereka memeranginya dan membuat dunia yang lebih baik, seperti dirinya dan Cheol Jong.

So Yong memerintahkan Lady Choi menuliskan aturan baru di istana, antara lain, para dayang yang telah berusia 18 tahun ke atas, diperbolehkan menikah, anak yang berusia 10 tahun tidak diperbolehkan menjadi dayang.

Cheol Jong tidak bisa fokus bekerja, begitu juga So Yong, tapi mereka selalu berselisihan jalan. Akhirnya, So Yong memutuskan menunggu Cheol Jong di tepi danau. Benar saja, tak lama Cheol Jong datang menghampiri.

Mereka berpelukan erat disaksikan para dayang dan pengawal, yang langsung membalikkan badan. Cheol Jong heran, kenapa So Yong memanggilnya dengan panggilan hormat, apa ia punya kejutan lain? Membuat So Yong tertawa. Matahari senja bersinar hangat menerangi mereka.

Tamat

Komentar aku: 5/5***** Yas! Meski filler terasa mengganggu, tapi mereka bagian dari cerita ini. Aku ingin tahu, Hong Yeon akhirnya memilih Hong atau Kim Hwan? Bwahahaha… delegasi kementrian luar negeri = siap-siap jalan jauh sampai kaki melepuh, secara belum ada pesawat terbang. Atau pantat kepanasan karena kelamaan naik kuda/duduk di kereta? Yay untuk akhirnya Lady Choi bisa menikah dengan chef Man Bok, dan Hwan Jin akhirnya memperbolehkan Pyeong mendekatinya. Kedua ratu, Sunwon dan Gaebi boleh beradu pandang, siapa yang berkedip lebih dahulu kalah. Kali ini, tidak ada yang membela atau mengancam hukuman pancung. Yas juga untuk dunia utopia yang dipilih penulis, kekeke… nice ending!